JAKARTA (Lentera) - Harga minyak dunia turun usai Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali menunda rencana serangan terhadap infrastruktur energi Iran.
Harga minyak mentah acuan Amerika Serikat, West Texas Intermediate (WTI), tercatat turun hingga 1,6 persen ke kisaran US$93 per barel. Penurunan ini terjadi setelah sehari sebelumnya, Kamis (26/3/2026) harga melonjak hampir 5 persen akibat meningkatnya ketegangan geopolitik.
Sementara itu, minyak mentah jenis Brent Crude tetap bertahan di level tinggi, ditutup di atas US$108 per barel, mencerminkan volatilitas pasar yang masih kuat di tengah ketidakpastian global.
Dikutip dari Bloomberg, analisis minyak dan gas dari Enverus, Carl Larry, menilai pasar masih berada dalam fase waspada tinggi. Ditegaskannya, pelaku pasar kini lebih fokus pada potensi risiko ke depan dibandingkan prospek penyelesaian konflik.
"Pasar memasuki akhir pekan dengan risiko yang masih cenderung meningkat, sembari menunggu kemungkinan skenario yang lebih buruk," ujarnya.
Keputusan Trump untuk menunda serangan menjadi faktor utama pergerakan harga. Ia menyatakan meskipun Teheran meminta waktu 7 hari, pemerintah AS memberikan tenggat hingga 10 hari, sehingga ancaman serangan kini diperpanjang sampai 6 April mendatang.
Langkah tersebut dinilai sebagai sinyal deeskalasi sementara. Namun belum cukup untuk meredakan kekhawatiran pasar. Apalagi konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran masih terus berlangsung dan berpotensi meluas.
Dalam beberapa pekan terakhir, harga minyak melonjak tajam seiring meningkatnya tensi di kawasan Timur Tengah yang dikenal sebagai pusat produksi energi dunia. Ketegangan ini bahkan disebut telah mengguncang stabilitas pasokan global.
Situasi semakin kompleks setelah Iran dilaporkan memperketat akses di Selat Hormuz, jalur vital yang menghubungkan Teluk Persia dengan pasar internasional. Sebelum konflik memanas, sekitar seperlima pasokan minyak dunia melewati jalur ini.
Pembatasan tersebut berdampak langsung pada distribusi energi global, memicu kekhawatiran akan gangguan pasokan berkepanjangan. Meski demikian, dalam 24 jam terakhir, terpantau adanya peningkatan terbatas jumlah kapal yang mencoba melintas, terutama kapal pengangkut curah dan LPG.
Trump mengklaim, Iran telah mengizinkan 10 kapal tanker melintasi Selat Hormuz sebagai bentuk itikad baik. Namun, langkah ini belum sepenuhnya memulihkan kepercayaan pelaku pasar.
Di sisi lain, Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, mengungkapkan pemerintah tengah menyiapkan program asuransi untuk mendorong aktivitas pengiriman energi melalui jalur tersebut.
Di tengah dinamika ini, Iran melalui kantor berita Tasnim dilaporkan masih menunggu respons Amerika Serikat setelah menolak proposal 15 poin yang diajukan Washington untuk mengakhiri konflik. Teheran juga mengajukan sejumlah syarat, termasuk pengakuan atas kewenangannya di Selat Hormuz.
Sepanjang Maret, harga minyak mentah AS telah melonjak hampir 40 persen. Kenaikan ini turut mendorong lonjakan harga produk turunan seperti solar dan bahan bakar jet, yang berdampak langsung pada biaya operasional bisnis dan daya beli masyarakat.
Editor:Santi,ist





.jpg)
