BEIJING (Lentera) - Pemerintah China menegaskan diplomasi antar kepala negara menjadi kunci utama dalam menjaga stabilitas hubungan bilateral, meski rencana kunjungan Presiden Amerika Serikat Donald Trump ke Beijing untuk bertemu Presiden Xi Jinping harus diundur hingga pertengahan Mei 2026.
"Diplomasi kepala negara memainkan peran yang tak tergantikan dalam memberikan panduan strategis untuk hubungan China-AS. Kedua negara sedang berkomunikasi mengenai kunjungan Presiden Trump ke China," ujar Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian dalam konferensi pers di Beijing, dikutip dari ANTARA, Jumat (27/3/2026).
Sebelumnya, Gedung Putih mengumumkan Presiden Donald Trump dijadwalkan melakukan kunjungan kenegaraan ke China pada 14-15 Mei 2026 dalam pertemuan yang disebut sebagai "telah lama ditunggu-tunggu".
Trump sendiri turut mengonfirmasi agenda tersebut melalui media sosialnya. Ia menyatakan antusiasmenya untuk bertemu Xi Jinping dalam kunjungan yang disebutnya sebagai momentum penting bagi hubungan kedua negara.
"Perwakilan kami sedang menyelesaikan persiapan untuk kunjungan bersejarah ini. Saya sangat menantikan untuk menghabiskan waktu bersama Presiden Xi dalam apa yang saya yakin akan menjadi peristiwa yang monumental," tulis Trump.
Namun demikian, rencana awal yang seharusnya berlangsung pada 31 Maret hingga 2 April 2026, harus ditunda karena Trump memilih tetap berada di Amerika Serikat untuk fokus pada konflik militer yang melibatkan Iran.
Di sisi lain, Gedung Putih juga mengonfirmasi rencana kunjungan balasan dari Presiden Xi Jinping ke Washington. Juru Bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, menyebut Trump bersama Ibu Negara Melania Trump akan menjamu Xi Jinping dan istrinya, Peng Liyuan, pada waktu yang akan diumumkan kemudian tahun ini.
Leavitt juga menyinggung terkait perkembangan operasi militer Amerika Serikat bersama Israel terhadap Iran yang dimulai pada 28 Februari 2026. Ia menyebut pemerintah memperkirakan operasi tersebut akan selesai dalam waktu empat hingga enam minggu.
"Jadi, Anda bisa menghitungnya. Saya tahu Presiden berharap dapat pergi ke China pada 14 dan 15 Mei," katanya.
Di tengah dinamika geopolitik tersebut, hubungan ekonomi antara China dan Amerika Serikat disebut mengalami perbaikan. Sejak kedua negara menyepakati gencatan sementara perang dagang selama satu tahun pada Oktober 2025, komunikasi bilateral dinilai lebih stabil.
Pertemuan puncak Trump dan Xi Jinping mendatang diperkirakan akan membahas sejumlah isu strategis, mulai dari perdagangan, Taiwan, hingga rencana peningkatan pembelian produk pertanian Amerika oleh China.
Isu perdagangan dipandang menjadi salah satu fokus utama, terutama menjelang pemilihan paruh waktu di Amerika Serikat pada November 2026, di mana Trump disebut ingin mengamankan dukungan domestik melalui capaian ekonomi.
Editor:Santi





.jpg)
