17 October 2026

Get In Touch

Inovasi Masa Kini, Ketahanan Pangan Nanti, dan Keluarga sebagai Fondasi

Wakil Dekan Bidang II Fakultas Ketahanan Pangan Unesa, Guru Besar FEB Unesa, Ahmad Ajib Ridlwan. (foto:ist)
Wakil Dekan Bidang II Fakultas Ketahanan Pangan Unesa, Guru Besar FEB Unesa, Ahmad Ajib Ridlwan. (foto:ist)

OPINI (Lentera) - "Bersama-sama, mari kita pastikan bahwa setiap orang, di mana pun mereka berada, memiliki akses terhadap makanan yang aman, bergizi, dan terjangkau." Penggalan pesan Sekjend PBB António Guterres menyambut peringatan pangan sedunia patut menjadi bahan renungan bersama.

Setiap tanggal 16 Oktober, dunia memperingati Hari Pangan Sedunia. Peringatan ini bukan sekedar seremoni tahunan. Namun sebagai bahan renungan bersama untuk memastikan bahwa warga dunia dapat mengakses pangan yang aman, bergizi dan terjangkau. 

Peringatan Hari Pangan Dunia tahun ini mengusung tema “Inovasi Masa Kini, Ketahanan Pangan Nanti”. Tema tersebut menjadi refleksi bahwa masa depan pangan itu tidak hanya ditentukan oleh besarnya hasil panen hari ini, tetapi juga oleh kemampuan berinovasi, berkolaborasi, dan sustainability.

Pangan bukan soal urusan perut saja. Pangan berkaitan dengan kesehatan, kemiskinan, kesejahteraan petani, stabilitas ekonomi, hingga masa depan generasi muda. Oleh sebab itu, ketahanan pangan tidak cukup jika hanya diukur dari banyaknya panen dan komoditas yang tersimpan di gudang. Ketahanan pangan harus dipastikan setiap keluarga mampu memperoleh pangan yang cukup, bergizi, aman, dan terjangkau.

Surplus Pangan, Tetapi Masih Terdapat Kesenjangan

Indonesia memiliki modal besar untuk memperkuat kemandirian pangan. Berdasarkan data yang dirilis Badan Pangan Nasional (Bapanas) pada 8 Oktober 2026, proyeksi neraca pangan pemerintah surplus beras diperkirakan 3,56 juta ton, daging ayam ras 775 ribu ton, dan cabai rawit 638,5 ribu ton. Angka ini merupakan proyeksi neraca pangan, bukan berarti seluruh surplus telah tersedia sebagai stok fisik di setiap daerah.

Data tersebut patut diapresiasi, tetapi tidak boleh membuat kita berpuas diri. Surplus nasional tidak otomatis menjamin seluruh masyarakat memiliki akses pangan yang cukup. Daerah yang memiliki surplus pangan belum tentu berdekatan dengan daerah yang kekurangan. Begitu pula dengan petani yang menghasilkan pangan pun belum tentu memperoleh keuntungan yang layak.

Pertanyaan mendasar bukan hanya berapa banyak pangan diproduksi, melainkan apakah petani sejahtera, distribusi berjalan lancar, dan konsumen mampu membeli pangan dengan harga wajar?

Sebagai contoh bahwa masih terdapat kesenjangan antar daerah yaitu saat Mentan Amran Sulaiman memberikan kuliah umum, seorang mahasiswa baru program studi Hubungan Internasional, FISIP Undip bernama Adriano Padama, sambil berderai air mata, menceritakan krisis pangan di kampung halamannya. Harga Beras Melambung Tinggi sementara kemampuan produksi beras di Alor hanya 10% dari total kebutuhan. 

Pada kondisi normal di pedalaman, harga beras mencapai Rp17.000–Rp18.000 per kg. Namun, saat cuaca buruk dan distribusi kapal terhambat, harganya melonjak drastis hingga Rp25.000–Rp30.000 per kg. Akibatnya beras yang tidak terbeli, banyak anak kecil di pedalaman Alor terpaksa mengonsumsi umbi-umbian yang memicu masalah pencernaan dan perut kembung.

Mendengar langsung jeritan hati mahasiswa tersebut, Mentan Amran Sulaiman sangat tersentuh. Seketika itu juga, Mentan melakukan tindakan nyata dengan menghubungi Direktur Utama Bulog di panggung untuk segera membenahi pasokan dan mengirimkan bantuan beras ke Alor.

Bapanas dan Indikator Keberhasilan Ketahanan Pangan

Bapanas memiliki peran strategis dalam mengoordinasikan kebijakan ketersediaan, keterjangkauan, stabilisasi pasokan dan harga, serta keamanan dan mutu pangan. Melalui proyeksi neraca pangan, pemantauan harga, fasilitasi distribusi pangan, dan pengelolaan cadangan pangan pemerintah, lembaga ini membantu pemerintah mengantisipasi gejolak pasokan maupun harga.

Pada 2026, pemerintah juga melanjutkan program stabilisasi pasokan dan harga beras serta bantuan pangan. Menurut rilis Bapanas pada 6 Oktober 2026, penyaluran bantuan beras periode Juli–September telah mencapai 967,5 ribu ton. Pemerintah menyiapkan kelanjutan bantuan untuk Oktober–Desember dengan alokasi sekitar 997 ribu ton bagi 33,24 juta penerima. Kebijakan ini menunjukkan bahwa ketersediaan pangan perlu diikuti upaya menjaga daya beli masyarakat.

Namun, keberhasilan ketahanan pangan harus diukur lebih luas melalui empat dimensi. Pertama, ketersediaan. Apakah pangan tersedia dalam jumlah yang cukup? Kedua, keterjangkauan. Apakah daya beli masyarakat mampu menjangkau? Ketiga, pemanfaatan. Apakah pangan yang dikonsumsi aman dan bergizi? Keempat, stabilitas. Apakah ketiga aspek tersebut dapat bertahan ketika terjadi perubahan iklim, bencana alam, atau gejolak ekonomi global?

Dengan indikator tersebut, keberhasilan tidak cukup diumumkan melalui angka produksi. Kita juga harus memastikan keterjangkauan harga, kesejahteraan petani, kualitas konsumsi, serta kondisi kelompok rentan. Data harus dijadikan sebagai dasar pengambilan keputusan, bukan sekadar bahan laporan.

Hari Pangan, Momentum Generasi Muda sebagai Penggerak Inovasi

Masa depan pangan bergantung pada keterlibatan generasi muda. Pemuda hari ini adalah pemimpin yang akan datang. Merekalah yang akan mengelola alam, menjaga, melestarikan, serta memastikan dapat dimanfaatkan untuk generasi selanjutnya. Anak muda harus menjadi agen solusi atas segala problem yang terjadi. Tidak hanya menjadi konsumen teknologi, melainkan pencipta solusi.

Pertanian presisi, Internet of Things, kecerdasan buatan, pemasaran digital, hingga pengolahan pangan lokal dapat menjadi ruang inovasi generasi muda untuk membangun usaha rintisan pangan, mempertemukan petani dengan pasar, mengurangi kehilangan hasil panen, dan meningkatkan nilai tambah komoditas lokal.

Perguruan tinggi memiliki tanggung jawab mempertemukan ilmu pengetahuan dengan kebutuhan nyata masyarakat. Penelitian tidak boleh berhenti di laboratorium atau publikasi. Hasilnya harus diuji di lapangan, disesuaikan dengan kebutuhan petani, dan dikembangkan menjadi usaha yang berkelanjutan. Sehingga inovasi tidak berhenti dalam publikasi, namun harus sampai pada hilirisasi.

Pemerintah, kampus, dunia usaha, komunitas, dan lembaga keuangan perlu membuka ruang kolaborasi. Petani membawa pengalaman dan pengetahuan lokal, kampus menghadirkan riset dan teknologi, pemerintah membangun kebijakan, dunia usaha menyediakan akses pasar, sedangkan anak muda mempercepat kreativitas dan digitalisasi.

Inovasi harus inklusif. Jangan sampai teknologi hanya menguntungkan perusahaan besar, sementara petani kecil tertinggal. Inovasi yang sesungguhnya adalah inovasi yang mudah diakses dan dampaknya dirasakan masyarakat luas.

Ketahanan Pangan Dimulai dari Keluarga

Di tengah berbagai agenda besar, kita acap kali melupakan ruang paling dekat dengan kehidupan manusia yaitu keluarga. Padahal, keluarga merupakan tempat pertama kebiasaan pangan dibentuk, mulai dari mengatur belanja, memilih bahan makanan, menyusun menu bergizi, hingga menghindari pemborosan. 

Momentum Hari Pangan Sedunia perlu menjadi gerakan kesadaran membangun ketahanan pangan dari keluarga. Setiap keluarga dapat menanam buah dan sayuran sesuai ruang yang tersedia, memanfaatkan pekarangan, mengonsumsi pangan lokal, mengatur belanja berdasarkan kebutuhan, serta mengolah makanan agar tidak terbuang.

Fakultas Ketahanan Pangan Unesa lewat program Jaran Kepangnya (Jadikan Pekarangan untuk Ketahanan Pangan) terus berupaya untuk mengedukasi masyarakat agar memanfaatkan pekarangan sebagai upaya mendukung ketahanan pangan. Selain itu, FKP Unesa juga terus mengampanyekan program zero food loss dan zero food waste.

Kampus, sekolah, pesantren, dan lingkungan permukiman dapat memperluas gerakan ini melalui kebun pangan, edukasi gizi, pemanfaatan sampah organik menjadi kompos, dan pengembangan pangan lokal. Anak-anak harus diedukasi bahwa setiap piring makanan di meja makan ada keringat petani dan melibatkan kerja banyak orang sehingga mereka tidak boros makanan.

Gerakan ketahanan pangan dari keluarga bukan pengganti tanggung jawab negara. Ketahanan pangan rumah tangga sulit terwujud jika pendapatan tidak mencukupi, harga terus bergejolak, dan akses pangan bergizi terbatas. Karena itu, inisiatif keluarga harus berjalan seiring dengan perlindungan petani, penguatan distribusi, pengendalian harga, dan kebijakan pangan yang berkeadilan.

Pada akhirnya, tema “Inovasi Masa Kini, Ketahanan Pangan Nanti” bukan sekadar slogan tahunan. Pemerintah perlu memperkuat tata kelola pangan, kampus menghasilkan inovasi yang membumi sesuai kebutuhan petani, dunia usaha membangun rantai pasok yang adil, anak muda menciptakan solusi, dan keluarga membiasakan konsumsi pangan yang sehat serta beragam.

Ketahanan pangan adalah tanggung jawab bersama. Kita tidak cukup bangga ketika produksi meningkat atau neraca pangan mencatat surplus. Kita harus memastikan petani sejahtera, konsumen memperoleh pangan dengan harga yang layak, dan sumber daya alam tetap terjaga bagi generasi mendatang. Masa depan pangan tidak dibangun ketika krisis datang, tetapi harus disiapkan hari ini melalui inovasi, kolaborasi, dan langkah sederhana yang dimulai dari keluarga.

 

Penulis: Ahmad Ajib Ridlwan, Wakil Dekan Bidang II Fakultas Ketahanan Pangan Unesa, Guru Besar FEB Unesa/Editor: Ais

 

Share:

Punya insight tentang peristiwa terkini?

Jadikan tulisan Anda inspirasi untuk yang lain!
Klik disini untuk memulai!

Mulai Menulis
Lenterasemarang.com.
Lenterasemarang.com.