16 October 2026

Get In Touch

Lelah Baca Berita Terkini? Tetap Jaga Kewarasan di Tengah Riuh Politik dan Ekonomi

Depi Priyono, M.Pd. Mahasiswa S3 Pendidikan IPS Universitas Negeri Surabaya
Depi Priyono, M.Pd. Mahasiswa S3 Pendidikan IPS Universitas Negeri Surabaya

OPINI (Lentera) - Teman-teman pembaca, aktivitas apa yang paling sering dilakukan oleh kita semua menjelang waktu tidur? Atau di saat kita sedang memiliki waktu longgar? Ya, kita lebih banyak menggemari aktivitas membuka ponsel dengan menjelajahi aplikasi platform digital yang sangat popular di kalangan Netizen seperti Tiktok, Youtube, IG, atau bagi yang menggemari berita dan informasi akan lebih suka membuka laman berita online, laman X atau sejenisnya.

Di antara semua platform digital yang anda jelajahi, sedikit banyak terselip informasi kondisi terkini yang akan muncul di dalamnya, saat anda berhenti sejenak membaca atau menyimak maka algoritmanya akan kemudian mengumpulkan konten yang sejenis untuk memungkinkan anda juga akan menyimaknya, makin banyak anda scroll ponsel anda maka makin banyak pilihan konten konten yang menyediakan informasi yang identik dan berkaitan. 

Coba kita cek berita hari ini seperti apa?  Hari ini banyak dibanjiri dengan berita-berita tentang carut marut politik, ijazah wapres, perseteruan antar Lembaga negara, partai saling bermanuver, dan kebijakan pemerintah yang selalu  mengundang kritik dan banyak lagi lainnya. Di sisi lain juga kita akrab dengan berita kebakaran hutan yang tak kunjung usai, kemarau panjang yang berdampak luas pada kekeringan, kekurangan air bersih bahkan gagal panen di banyak wilayah. Atau berita tentang problem ekonomi yang semakin menakutkan, mulai terjadi PHK massal, harga kebutuhan pokok makin mahal, belum selesainya masalah keracunan MBG, masalah Kopdes, angka pengangguran makin tinggi, angka kemiskinan juga tidak kunjung reda dan banyak berita lain yang membuat kita semua semakin cemas akan seperti apa ke depannya. Jantung kita makin berdegup kencang, berdebar, penuh pikiran akan ketakutan, menjadikan kita tidak lagi merasakan tidur nyenyak dan mental kita semakin tertekan.

Mengapa rentetan berita buruk itu terasa begitu berat? Otak kita dirancang untuk memberi perhatian ekstra pada ancaman. Itu mekanisme bertahan hidup yang berguna dan sudah terjadi ribuan tahun lalu. Masalahnya, di era media sosial, “ancaman” datang tanpa henti, 24 jam sehari, langsung di genggaman tangan, dan dengan mudah kita mendapatkan semua informasi ancaman itu.

Para psikolog menyebut kebiasaan terus menggulir kabar negatif ini sebagai doomscrolling. Semakin lama kita membaca, semakin cemas kita, dan semakin cemas kita, semakin kita terdorong mencari kabar lagi untuk “merasa siap”. Lingkaran ini melelahkan. Hasilnya adalah news fatigue: lelah, jenuh, dan akhirnya mati rasa.

Di Indonesia, lapisannya terasa lebih tebal. Isu ekonomi menyentuh langsung dompet, cicilan, dan masa depan keluarga. Isu politik menghadirkan polarisasi yang merembes ke grup WhatsApp keluarga, konflik pertemana dan obrolan menjadi tidak nyaman ketika berada di kantor. Ditambah perasaan bahwa kita sulit mengubah keadaan, kecemasan pun mudah menumpuk.

Bukan Sekedar Perasaan; Ini sedikit datanya

Kesehatan mental adalah isu nyata yang terukur. Menurut Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 dari Kementerian Kesehatan, sekitar 2 persen penduduk berusia 15 tahun ke atas mengalami masalah kesehatan jiwa, dengan depresi, kecemasan, dan skizofrenia sebagai tiga yang paling banyak. Secara global, WHO mencatat satu dari delapan orang di dunia mengalami masalah kesehatan jiwa (dari sumber AntaraNews).

Sementara data dari laman Kompas menerangkan kelompok muda tampak paling rentan. Survei yang sama menunjukkan depresi paling banyak ditemukan pada usia 15-24 tahun, yaitu sekitar 2%, di atas rata-rata nasional 1,4%. Sementara itu, survei kesehatan mental remaja nasional I-NAMHS 2022 menemukan bahwa satu dari tiga remaja Indonesia mengalami masalah kesehatan mental, dan yang terbanyak adalah gangguan kecemasan.

Jadi, ayo kita mulai kenali tanda-tanda mental yang sudah terbebani gangguan Kesehatan. Mental yang mulai terbebani biasanya sudah mulai memberikan sinyal atau tanda-tanda seperti misalnya sulit tidur atau tidur sudah kurang nyenyak, mudah tersinggung dan marah, di dalam pekerjaan sudah mulai kesulitas fokus bekerja, ketika ada permasalahan datang menjadi mudah merasa putus asa, apatis dan tidak lagi peduli terhadap sesame, dan yang semakin menakutkan adalah semakin sulit lepas dari ponsel meskipun kita tahu bahwa semakin membuat bertambahnya kegelisahan.

Mengetahui tanda awal itu baik, tapi permasalahan harus segera diatasi untuk tetap menjaga kita dalam kondisi waras sehat jasmani Rohani. Jadi bagaimana langkah praktis menjaga kewarasan, berikut beberapa diantaranya:

1. Atur “diet informasi”. Seperti makanan, informasi perlu diatur porsinya. Coba tentukan dua sesi membaca berita dalam sehari, misalnya pagi dan sore, masing-masing 15 sampai 20 menit. Hindari membaca berita berat satu jam sebelum tidur.

2. Pilih sumber dengan hati-hati. Tidak semua yang viral layak dikonsumsi. Konten yang dirancang untuk memancing amarah biasanya laris karena memanfaatkan emosi kita. Utamakan media yang kredibel, dan biasakan memeriksa ulang sebelum percaya, apalagi membagikan.

3. Pilah mana yang bisa dikendalikan. Kita tidak bisa mengatur harga pasar atau keputusan pejabat, tapi kita bisa mengatur anggaran rumah tangga, dana darurat, keterampilan baru, dan cara kita bersikap di lingkungan sekitar. Memindahkan energi dari yang tak terkendali ke yang terjangkau akan mengurangi rasa tak berdaya.

4. Peduli tanpa tenggelam. Menjaga diri bukan berarti acuh. Ada cara yang lebih sehat untuk terlibat: menggunakan hak pilih, berdiskusi dengan kepala dingin, mendukung komunitas atau donasi yang Anda percaya. Ini jauh lebih bermakna daripada sekadar marah-marah di kolom komentar.

5. Jaga rutinitas dasar. Tidur cukup, makan teratur, bergerak walau hanya berjalan kaki, dan luangkan waktu bersama orang terdekat. Hal-hal sederhana ini sering diremehkan, padahal menjadi fondasi daya tahan mental.

6. Kelola obrolan politik. Tidak semua perdebatan harus dimenangkan. Jika sebuah diskusi mulai memanas dan tak produktif, tidak apa-apa mengalihkan topik atau mundur dengan sopan. Hubungan dengan keluarga dan teman sering kali lebih berharga daripada menang argumen.

7. Isi ulang energi. Hobi, ibadah, waktu di alam terbuka, atau berkumpul dengan komunitas yang menyenangkan bisa menjadi tempat pulih. Ini bukan pelarian, melainkan perawatan Kesehatan jasmani Rohani

Kita menjadi manusia yang seutuhnya jika masih punya rasa kepedulian terhadap kondisi terkini yang dialami oleh semua orang, tapi dengan catatan bahwa peduli tidak harus mengorbankan kewarasan

Situasi di sekitar kita mungkin tidak sepenuhnya bisa kita ubah hari ini. Tetapi cara kita merawat diri sepenuhnya ada di tangan kita. Orang yang mentalnya terjaga justru lebih jernih berpikir, lebih sabar menghadapi perbedaan, dan lebih mampu menolong orang lain.

Jadi, malam ini, coba letakkan ponsel sedikit lebih awal. Dunia akan tetap ada besok pagi, dan Anda akan menghadapinya dengan kepala yang lebih tenang. (*)

 

Oleh : Depi Priyono, M.Pd. Mahasiswa S3 Pendidikan IPS Universitas Negeri Surabaya

Share:

Punya insight tentang peristiwa terkini?

Jadikan tulisan Anda inspirasi untuk yang lain!
Klik disini untuk memulai!

Mulai Menulis
Lenterasemarang.com.
Lenterasemarang.com.