“Soepaja memerintahkan melandjoetkan perdjoeangan bersifat “sabilillah” oentoek tegaknja Negara Repoeblik Indonesia Merdeka ....”
(Rapat besar Wakil-wakil Daerah (Konsul 2) Perhimpunan Nahdlatoel Oelama, Surabaja 22–10–1945)
“Proklamasi dinyatakan di Jakarta, tetapi ujian terhadap Proklamasi ada di Surabaya.” Frasa kalimat ini akan menjadi populer, setiap peringatan Hari Resolusi Jihad, sekaligus memicu Perang Sabil 1945. Ujian terhadap Proklamasi, adalah tekad mempertahankan Kemerdekaan RI, karena Belanda telah siap kembali menjajah. Tetapi siasat bangsa-bangsa Eropa dalam Civil Affairs Agreement (CAA), dibuat pada 24 Agustus 1945), diketahui kalangan ulama. Ditambah perilaku sombong NICA terhadap pribumi, memicu kegelisahan rakyat.
Maka pada 22 Oktober 1945, ulama seantero Jawa dan Madura, mencetuskan resolusi fatwa Perang Sabil (jihad) untuk mempertahankan Proklamasi Kemerdekaan RI. Mula-mula perkelahian kecil antara orang-orang peranakan Belanda dengan pribumi, di beberapa kampung di Surabaya. Perkelahian semakin membesar setelah Fatwa Perang Sabil di-sebar luaskan melalui pengajian di masjid-masjid. Sampai meletus perang besar 10 November 1945 di Surabaya, yang kesohor.
Fatwa Perang Sabil (jihad), dikenal sebagai resolusi jihad, merupakan fakta sejarah, yang dahulu pernah ditutup-tutupi. Padahal Fatwa Resulosi Jihad dimuat beberapa koran. Diantaranya, “Suara Masyarakat,” dan “Kedaulatan Rakyat,” pada Jumat, 26 Oktober 1945. Serta kantor berita Antara pada 25 Oktober 1945. Resolusi fatwa Jihad Perang Sabil, bersifat fardlu ‘ain (lebih wajib dibanding shalat lima waktu). Karena serangan musuh tidak bisa ditunda dalam hitungan menit. Termasuk perempuan, dan anak-anak, wajib turut Perang Sabil.
Jihad Membela Proklamasi
Resolusi Jihad juga menjadi pegangan kalangan pimpinan Indonesia. Termasuk Presiden RI pertama, Ir. Soekarno. Begitu pula Gubernur Jawa Timur pertama (pribumi), RM Soerjo. Dalam pidato yang disiarkan melalui Radio Republik Indonesia (RRI) Surabaya pada malam 9 November 1945, diserukan mempertahankan kedaulatan hingga titik darah penghabisan. Seruan yang kondang dengan kalimat agitatif, “Lebih baik hancur daripada dijajah kembali.”
Pencetusan Resolusi Jihad Perang Sabil 1945, telah di-kukuh-kan sebagai Hari Santri Nasional. Ditabalkan melalui Keppres Nomor 22 Tahun 2015, ditandatangani Presiden Jokowi. Sejarah Perang Sabil 1945, telah menempatkan Indonesia sebagai satu-satunya bangsa yang mengusir penjajah, melalui perang. Antara lain perang Ambarawa (sampai Desember 1945), perang Bandung Lautan Api (1946), dan perang Puputan Margarana (1946). Di-dokumentasikan terdapat 18 perang besar di daerah seantero Indonesia.
Menyatakan Resolusi Jihad, 22 Oktober 1945, bukan hal mudah. Karena harus berhadapan dengan Sekutu, pemenang Perang Dunia II. Lazimnya dibutuhkan persiapan panjang, meyakinkan seluruh rakyat (dan pejabat, terutama Presiden Soekarno). Perang berkepanjangan terjadi, mirip Perang Jawa tahun 1825. Perang Kemerdekaan RI, tergologn sangat panjang, terjadi sampai tahun 1949. Termasuk “perang diplomatik.”
Perang Sabil 10 November 1945, membuahkan hasil berupa fasilitasi masyarakat internasional untuk berbagai perundingan yang membahas kedaulatan Republik Indonesia sebagai Negara. Pengakuan kedaulatan oleh Belanda, baru dinyatakan setelah Konferensi Meja Bundar, 27 Desember 1949. Bukan 17 Agustus 1945. Bahkan setelah berlalu 78 tahun, Perdana Menteri Belanda, Mark Rutte, (pada 14 Juni 2023) baru mengakui kedaulatan dan kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945. Bagi rakyat Indonesia, Proklamasi dan NKRI wajib harga mati.
Inggris memperoleh mandat atas Indonesia sebagai “petugas” militer Blok Sekutu di Asia Tenggara. Di bawah komando Laksamana Luis Mountbatten. Tetapi eksistensi Belanda sangat tersamar di dalam AFNEI (Allied Forces Netherlands East Indies, Tentara Sekutu Nederland). Di dalam AFNEI terlah terjalin perjanjian antara Inggris dengan Belanda, berupa Civil Affairs Agreement (CAA). Isinya, mengembalikan wilayah Indonesia kepada pemerintahan sipil Belanda (NICA). CAA wajid direalisasi setelah tentara Jepang dilucuti, dan dipulangkan.
Semula, berbagai bangsa Eropa membela Belanda. Tetapi dengan berkobarnya Perang Sabil 10 November 1945, ber-angsur-angsur pemerintah Inggris mulai mengakui eksistensi Indonesia. Masyarakat internasional juga melihat penolakan bangsa Indonesia terhadap penjajahan (kembali) oleh Belanda. Perang Sabil yang sangat panjang, selama 24 hari. Arek-arek Surabaya, berani perang jihad, padahal Tentara Nasional RI belum terbentuk.
Ghurka Menikahi Pribumi
Maka beberapa tokoh militer Sekutu, tidak mengakui Perang Sabil di Surabaya pada 10 November 1945 sebagai perang. Realitanya, Mayor Jenderal Robert Mansergh, menyebut Surabaya sebagai “Neraka di timur Jawa.” Inggris kehilangan dua jenderal, Mallaby, dan Brigjen Robert Guy Loder Simon (tertembak jatuh dalam pesawat Mosquito, 11 November 1945). Diperkirakan sekitar 16 ribu pribumi gugur. Serta sekitar 2 ribu tentara Inggris tewas. Tetapi laskar-laskar milisi pribumi tidak selalu kalah dalam Perang Sabil 1945.
Bahkan terdapat jalinan persaudaraan sesama muslim antara Laskar pejuang pribumi dengan musuh (tentara Inggris). Sekutu yang datang ke Surabaya membawa pasukan dari India yang sangat terkenal pemberani, Gurkha. Pengalaman perang di Myanmar, dan Vietnam. Namun kedatangan ke Surabaya, memiliki kisah sangat berbeda. Sebagian tentara Gurkha, di bawah komando Kapten Zia ul Haq, terkesima saat mendengar adzan maghrib bertaut-tautan dari berbagai masjid, dan mushala di Surabaya. Menyebabkan keraguan berperang melawan sesama muslim.
Sebagian memilih disersi, melarikan diri masuk ke berbagai perkampungan desa di Jawa Timur. Banyak pula yang menikah dengan perempuan pribumi. Serta membangun nafkah keluarga secara mandiri (antara lain usaha sapi perah, dan tenun). Mengutip konteks.co.id, disersi banyak ditulis beberapa sejarawan. Termasuk dalam catatan Nigel Barley dalam buku Snow Over Surabaya (2017), Muhammad Zia Ul Haq adalah salah satu dari personel pasukan Ghurka yang mogok perang.
Pembelotan ratusan pasukan Inggris yang berasal dari India itu juga terekam dalam buku British Occupation of Indonesia: 1945-1946. Dikatakan, intelijen Inggris menemukan sejumlah anggota Divisi ke-23 India yang bersimpati pada perjuangan rakyat Indonesia, bahkan hingga desersi dan membelot. Begitu pula AG Khan dalam tulisannya di Milli Gazette 2012 menyebut, ada 600 tentara India beragama Islam yang desersi dan membelot ke kelompok perjuangan Indonesia. Mereka bahkan membawa persenjataan dan amunisi sebagai hadiah.
Sebagai Komandan kavaleri lapis baja, Kapten Zia juga memilih pulang kembali ke India (kelak berdiri sebagai negara bernama Pakistan). Tak peduli dituduh sebagai pembangkang oleh Inggris. Tak lama, Inggris sendiri sudah menyetop sama sekali aksi bombardir dan penembakan artileri sejak 2 Desember 1945. Kelak, ketika menjadi Presiden Pakistan, pada tahun 1982, berkunjung ke Indonesia. Secara khusus Zia ul Haq minta izin berkunjung ke Surabaya (*)
Penulis: H Yunus Supanto, wartawan senior meraih penghargaan Piala Anugerah Adinegoro (Penghargaan Tertinggoi Karya Jurnalistik Tingkat Nasional) 2015|Editor: Arifin BH




.jpg)
