20 October 2026

Get In Touch

Angkatan Kerja Kota Batu Bertambah 14 Ribu Orang, Penyerapan Tenaga Kerja jadi Tantangan

Arsip: Pemerintah Kota Batu menyelenggarakan job fair di Gedung Graha Pancasila. (Santi/Lentera)
Arsip: Pemerintah Kota Batu menyelenggarakan job fair di Gedung Graha Pancasila. (Santi/Lentera)

BATU (Lentera) - Pertambahan jumlah angkatan kerja menjadi tantangan tersendiri bagi penyerapan tenaga kerja di Kota Batu. Dalam setahun, jumlah angkatan kerja di kota ini meningkat dari 128.470 orang menjadi 142.486 orang.

"Persoalannya ini tidak hanya berkaitan dengan penciptaan lapangan kerja baru, tetapi juga kesesuaian kompetensi pencari kerja dengan kebutuhan dunia usaha dan industri," ujar Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Batu, Herlina Prasetyowati Sambodo, dikutip pada Selasa (20/10/2026).

Berdasarkan data BPS Kota Batu, jumlah angkatan kerja bertambah 14.016 orang dibandingkan periode sebelumnya. Sementara itu, jumlah pengangguran terbuka meningkat 357 orang menjadi 5.024 orang.

Kondisi tersebut menjadi perhatian karena pertumbuhan angkatan kerja tidak serta-merta diikuti penyerapan seluruh pencari kerja ke dalam lapangan pekerjaan. Ketersediaan lowongan, persyaratan kompetensi, serta kesiapan tenaga kerja menjadi sejumlah faktor yang perlu diperhatikan dalam upaya memperluas kesempatan kerja.

Salah satu persoalan yang disoroti Herlina ialah keterbatasan keterampilan teknis atau hard skill, terutama pada lulusan SMA umum yang memasuki pasar kerja. Menurutnya, lulusan SMA relatif tidak mendapatkan pembekalan keterampilan vokasional spesifik sebagaimana yang menjadi fokus pendidikan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).

"Lulusan SMA umum relatif tidak mendapat pembekalan keterampilan vokasional spesifik seperti lulusan SMK," katanya. 

Perbedaan orientasi pendidikan tersebut menjadi salah satu aspek yang perlu diperhatikan dalam menyiapkan tenaga kerja. Ketika perusahaan membutuhkan keterampilan teknis tertentu, katanya, lulusan yang belum memiliki kompetensi sesuai berpotensi menghadapi persaingan lebih ketat untuk memperoleh pekerjaan.

Masa transisi setelah lulus sekolah juga dapat memengaruhi status ketenagakerjaan seseorang. Herlina menjelaskan, lulusan yang belum bekerja dan masih mencari pekerjaan, mempersiapkan usaha, atau memenuhi kriteria pengangguran terbuka sesuai definisi statistik akan tetap tercatat sebagai penganggur.

"Karena itu, jeda antara kelulusan dan masuknya seseorang ke dunia kerja turut menjadi bagian dari dinamika pasar kerja," jelasnya.

Perbedaan kondisi ketenagakerjaan antarkelompok lulusan juga tercermin dalam data Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) berdasarkan jenjang pendidikan. BPS Kota Batu mencatat TPT lulusan SMA mencapai 7,26 persen, meningkat dari 3,84 persen pada periode sebelumnya.

Sebaliknya, TPT lulusan SMK turun menjadi 3,68 persen dari sebelumnya 5,53 persen. Sementara itu, TPT lulusan diploma tercatat sebesar 6,37 persen.

"Ini menunjukkan tingkat pengangguran tidak selalu bergerak searah dengan jenjang pendidikan. Namun, angka itu perlu dibaca dengan mempertimbangkan karakteristik masing-masing kelompok lulusan, kompetensi yang dimiliki, serta kondisi pasar kerja pada periode pengukuran," katanya. 

Diakuinya, bagi Pemerintah Kota (Pemkot) Batu, tantangan penyerapan tenaga kerja juga berkaitan dengan karakteristik perekonomian daerah. Sektor pariwisata, jasa, perdagangan, dan industri kreatif memiliki potensi untuk membuka kesempatan kerja. Peluang tersebut, menurut Herlina perlu diimbangi dengan kesiapan tenaga kerja lokal dalam memenuhi kebutuhan dan kualifikasi yang ditetapkan pelaku usaha. (*)

 

Reporter: Santi Wahyu
Editor: Lutfiyu Handi

Share:
Lenterasemarang.com.
Lenterasemarang.com.