MALANG (Lentera) - Bagi Eka Maretyaningsih Agung Purwanti, teknologi bukan sekadar materi yang dipelajari di bangku kuliah. Penguasaan teknologi dan kemampuan teknis yang diperolehnya selama menempuh pendidikan di Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang), menjadi salah satu bekal yang membawanya menembus dunia industri.
Perempuan kelahiran Sidoarjo itu, kini bekerja sebagai Assistant Project Quantitative Risk Assessment (QRA) di Synergy Risk Management Consultant, yang merupakan anak perusahaan PT Pertamina di Balikpapan. Pekerjaan tersebut bahkan telah diperolehnya sebelum ia mengikuti prosesi Wisuda ke-76 Periode II Tahun 2026 pada 19 September mendatang.
Pencapaian itu menjadi titik penting dalam perjalanan Eka. Ia merupakan putri Agung Wahyudi, seorang pengemudi ojek online, dan Suparti yang bekerja sebagai asisten rumah tangga (ART). Sebagai penerima beasiswa Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah, Eka menjalani masa perkuliahannya dengan dukungan yang terbatas.
Bermula dari rekomendasi dosen Teknik Kimia ITN Malang, Eka mengikuti wawancara secara daring. "Saya ditugaskan membaca P&ID. Setelah dievaluasi dan di-cross check, hasilnya dikirim ke tim. Pihak perusahaan senang, karena itu saya bisa langsung masuk dan bekerja," ujar Eka, Sabtu (12/9/2026).
Namun, perjalanan menuju dunia kerja tersebut tidak sepenuhnya berjalan mulus. Eka sempat berencana tidak menghadiri wisudanya sendiri. Bukan karena tidak bangga atas pencapaiannya, tetapi karena harus mempertimbangkan kebutuhan biaya hidup.
Dana yang semula dialokasikan untuk keperluan wisuda hendak dialihkan untuk membayar sewa kamar kos di Jakarta ketika menjalani tahap awal internship.
"Rencananya, alokasi uang wisuda ingin saya alihkan untuk biaya sewa kamar kos di Jakarta karena awal magang internship di Jakarta. Alhamdulillah, pihak Prodi (Teknik Kimia ITN Malang) memberikan bantuan. Perusahaan juga sudah memberi izin penuh agar saya bisa hadir di hari bahagia nanti," ungkapnya.
Selama kuliah, Eka tinggal menumpang di rumah saudaranya di kawasan Sawojajar, Kota Malang. Kondisi tersebut menjadi bagian dari realitas pendidikan yang dijalaninya sebagai mahasiswa penerima KIP Kuliah.
Di sisi lain, Eka tidak hanya mengejar capaian akademik. Melalui tugas akhirnya, ia juga mencoba menjawab persoalan kebutuhan energi alternatif.
Dalam skripsi berjudul "Pengaruh Variasi Elektroda Karbon terhadap Kinerja Baterai Air Garam Berbasis Elektroda Magnesium-Karbon", Eka merancang alat penerangan berupa lentera air garam berbasis energi alternatif.
"Ide dasarnya ingin membuat alat penerangan yang ekonomis dan mudah dijangkau untuk masyarakat daerah pesisir, karena kalau beli alat komersial harganya cukup mahal," jelasnya.
Penelitian tersebut dikembangkan melalui kolaborasi lintas disiplin yang melibatkan Program Studi Teknik Kimia, Teknik Mesin, dan Teknik Elektro ITN Malang.
Di bawah bimbingan Dr. Ir. Jimmy, ST., MT., MM. dan F. Endah Kusumaratini, S.Si., M.Kes., serta bimbingan teknis elektro dari Dr. Michael Ardita, ST., MT., Eka mengembangkan sistem yang memanfaatkan larutan garam (NaCl) 3,5 persen dengan variasi elektroda karbon.
Pengembangan tersebut turut menguji penggunaan current collector, mulai dari kawat tembaga hingga stainless steel mesh, untuk memperoleh energi listrik yang lebih stabil.
Dari rumah keluarga dengan keterbatasan ekonomi, penerima KIP Kuliah, hingga menjadi lulusan terbaik Teknik Kimia S-1 ITN Malang dengan IPK 3,73, Eka kini bersiap melanjutkan perjalanan profesionalnya di industri.
Bukan sekadar toga yang akan dikenakannya nanti. Bagi Eka, wisuda menjadi penanda, kompetensi yang dibangun selama berada di kampus telah membawanya menuju dunia kerja yang lebih luas.
Reporter: Santi Wahyu/Editor: Ais




.jpg)
