Ratusan Warga Antusias Ikuti Cek Kesehatan Gratis Terintegrasi Skrining TBC di Trenggalek
TRENGGALEK (Lentera) – Antusiasme warga Kecamatan Pogalan, Kabupaten Trenggalek mengikuti layanan cek kesehatan gratis cukup tinggi.
Awalnya hanya ditargetkan sekitar 100 peserta, namun jumlah warga yang mendaftar justru mencapai sekitar 120 orang dalam kegiatan yang menggabungkan Cek Kesehatan Gratis (CKG) dengan skrining Tuberkulosis (TBC).
Kegiatan tersebut digelar Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (Dinkes PPKB) Kabupaten Trenggalek bersama Puskesmas Ngulankulon di Balai Desa Pogalan. Warga menjalani sejumlah pemeriksaan, mulai dari tekanan darah, skrining diabetes melitus, hingga pemeriksaan TBC.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinkes PPKB Trenggalek, drg Andiek Muarifin mengatakan integrasi CKG dan skrining TBC dilakukan untuk memperluas jangkauan pemeriksaan masyarakat. Menurutnya, layanan tersebut tidak hanya mendeteksi penyakit tidak menular, tetapi juga membantu menemukan kasus penyakit menular sejak dini.
"Kita gabungkan CKG dengan tracing TBC supaya pemeriksaan masyarakat lebih lengkap. Jadi, dalam satu kegiatan bisa sekaligus melihat kondisi kesehatan dasar dan menemukan kemungkinan kasus TBC," ujarnya.
Untuk mendukung skrining TBC, Dinkes PPKB Trenggalek memanfaatkan satu unit radiologi portabel bantuan Kementerian Kesehatan. Alat tersebut dapat dipindahkan dari satu lokasi ke lokasi lain sehingga pemeriksaan bisa dilakukan lebih dekat dengan masyarakat.
"Alat ini memang dirancang fleksibel dan bisa dibawa ke berbagai lokasi. Dengan begitu, pelayanan bisa dilakukan langsung mendekati masyarakat tanpa harus selalu datang ke fasilitas kesehatan," jelas Andiek.
Menurutnya, penggunaan alat secara bergerak akan diarahkan untuk menyasar desa-desa. Dinkes PPKB juga berharap mendapat tambahan satu unit radiologi portabel agar cakupan pemeriksaan dapat diperluas.
Tingginya animo warga di Pogalan, membuat tidak seluruh peserta berpotensi terlayani dalam satu kali pemeriksaan. Dinkes PPKB pun membuka kemungkinan menjadwalkan pemeriksaan lanjutan, bagi warga yang belum mendapat layanan.
"Kalau masih ada warga yang belum terlayani, tentu akan kita evaluasi dan bisa dijadwalkan kembali, terutama di wilayah yang antusiasmenya tinggi," katanya.
Di sisi lain, capaian CKG di Kabupaten Trenggalek hingga Agustus 2026 disebut telah mencapai sekitar 50 persen. Dinkes PPKB menargetkan cakupan tersebut meningkat menjadi 60 persen dari total penduduk hingga akhir tahun.
Pemeriksaan CKG menyasar seluruh kelompok usia, mulai ibu hamil, bayi, balita, remaja, dewasa hingga lansia. Skrining juga mulai dilakukan di sekolah sejak tahun ajaran baru pada Juli 2026 dan akan dilanjutkan bagi siswa yang belum diperiksa.
Sementara untuk TBC, Andiek menyebut, penemuan kasus masih menjadi tantangan karena capaian saat ini baru sekitar 40 persen dari target. Pemeriksaan terus diperluas karena penderita TBC bisa saja tidak menunjukkan gejala.
"Penemuan kasus harus terus ditingkatkan. Jangan sampai yang terlihat hanya sebagian kecil, sementara masih banyak penderita yang belum terdeteksi," ungkapnya.
Skrining diprioritaskan kepada kelompok berisiko, termasuk orang yang memiliki kontak erat dengan pasien TBC, keluarga pasien, serta kelompok dengan penyakit tertentu seperti diabetes melitus dan HIV. Namun, warga tanpa gejala juga tetap didorong menjalani pemeriksaan.
Andiek menambahkan, tingkat kesembuhan pasien TBC yang menjalani pengobatan di Trenggalek berada di kisaran 90 persen. Sementara sebagian pasien lainnya mengalami berbagai kendala, seperti meninggal dunia, menghentikan pengobatan, atau berpindah domisili sehingga sulit dipantau.
"Kesembuhan pasien sudah sekitar 90 persen. Karena itu, kalau ditemukan sejak awal, masyarakat tidak perlu takut. Pengobatan tersedia dan yang penting harus disiplin sampai tuntas," tegasnya.
Sementara itu, Kepala Puskesmas Ngulankulon, dr Ika Fibrin Fauziah mengatakan hasil pemeriksaan dalam kegiatan tersebut belum dapat disampaikan, data masih perlu dianalisis dan dimasukkan ke Sistem Informasi Tuberkulosis (SITB) milik Kementerian Kesehatan.
"Data yang ada saat ini masih mentah dan belum dianalisis. Setelah seluruhnya masuk SITB, baru hasilnya bisa diketahui," kata dr Ika.
Ia memastikan, hasil pemeriksaan akan disampaikan langsung kepada warga yang bersangkutan melalui petugas Program TBC. Informasi tersebut juga akan dijaga kerahasiaannya.
"Nanti koordinator Program TBC yang akan menghubungi langsung warga terkait hasil pemeriksaannya, sehingga privasinya tetap terjaga," pungkasnya.
Reporter: Herlambang/Editor: Ais





.jpg)
