20 August 2026

Get In Touch

Tanam 38 Ribu Mangrove, Pelajar Surabaya Raih Juara 1 International Young Eco-Hero Award 2026

Harley Fatahillah Yodhaloka Sunoto saat melakukan aksi menanam Mangrove.
Harley Fatahillah Yodhaloka Sunoto saat melakukan aksi menanam Mangrove.

SURABAYA (Lentera) - Aksi nyata dalam memulihkan ekosistem pesisir mengantarkan, Harley Fatahillah Yodhaloka Sunoto meraih penghargaan internasional. Pelajar SMP Negeri 1 Surabaya itu, berhasil menjadi First Place atau Juara 1 International Young Eco-Hero Award 2026 kategori usia 8-14 tahun.

Harley menjadi yang terbaik, setelah bersaing dengan 476 peserta dari 49 negara dan 25 negara bagian di Amerika Serikat. Pada tahun ini, hanya 16 anak dan remaja yang terpilih sebagai penerima International Young Eco-Hero Award.

Penghargaan tersebut diselenggarakan oleh Action For Nature, organisasi nirlaba internasional yang berbasis di San Francisco, California, Amerika Serikat. Prestasi Harley sekaligus membawa nama Indonesia dan Surabaya ke panggung internasional melalui gerakan lingkungan yang diinisiasinya, Mangrove Warrior.

Harley bercerita, memulai Mangrove Warrior pada pertengahan 2025. Ia terjun langsung ke kawasan pesisir Surabaya untuk mempelajari kondisi lingkungan, mulai dari pasang surut air, karakteristik tanah, hingga teknik pembibitan mangrove dari petani tambak di kawasan Wonorejo.

Dari proses tersebut, Harley kemudian membangun pembibitan, melakukan penanaman, serta memantau pertumbuhan mangrove di kawasan pesisir yang mengalami degradasi. Hingga kini, gerakan tersebut telah membudidayakan dan menanam lebih dari 38.000 mangrove.

Dengan dukungan SMP Negeri 1 Surabaya, Wahana Visi Indonesia, dan Tunas Hijau, Harley terus memperluas gerakan tersebut. Ia menargetkan penanaman sebanyak 65.000 mangrove hingga akhir 2026.

Target itu pun belum menjadi tujuan akhir, Harley memiliki misi jangka panjang untuk menanam satu juta mangrove di seluruh Indonesia.

Perjuangan tersebut tidak mudah, lokasi restorasi berada sekitar 13 kilometer dari rumahnya. Untuk mencapai kawasan pesisir, Harley bersama relawan harus melewati medan berlumpur dengan kondisi air yang cukup dalam.

Pada kondisi tertentu, ketinggian air bahkan dapat mencapai dada. Akar-akar tajam yang berada di bawah lumpur juga menjadi salah satu risiko yang harus dihadapi saat melakukan penanaman.

Pengalaman tersebut membuat Harley memahami, bahwa pemulihan lingkungan membutuhkan proses panjang. Menurutnya, perubahan ekologis tidak terjadi secara instan, melainkan memerlukan ketekunan, keberanian, konsistensi, serta keterlibatan langsung di lapangan.

"Restorasi lingkungan yang nyata tidak pernah mudah, dibutuhkan kesabaran, keberanian dan kemauan untuk berdiri di air yang dalam dan lumpur yang tebal sambil terus bergerak maju," ujar Harley, Kamis (20/8/2026).

Remaja 14 tahun ini meyakini, persoalan lingkungan global dapat dimulai dari tindakan konkret di lingkungan terdekat. Ia menilai, besarnya persoalan lingkungan dunia tidak seharusnya membuat generasi muda merasa terlalu kecil untuk mengambil tindakan.

"Masalah global yang besar bisa terasa sangat berat. Tetapi ketika kita memulainya dari halaman rumah kita sendiri, kita bisa menunjukkan bahwa aksi lokal, ketika dilakukan oleh banyak orang, dapat menciptakan dampak global," tuturnya.

Bagi Harley, Mangrove Warrior kini bukan sekadar gerakan lingkungan, tetapi telah menjadi bagian dari misi hidupnya.

"Selama saya masih mampu menanam, saya akan terus menanam. Saya ingin melindungi Surabaya, Indonesia, dan planet kita untuk generasi mendatang serta seluruh makhluk hidup, sepanjang hidup saya," ucapnya.

Gerakan Mangrove Warrior juga dikembangkan tidak hanya melalui kegiatan penanaman, Harley menghubungkan konservasi lingkungan dengan pendidikan, pemberdayaan masyarakat, dan ekonomi berkelanjutan.

Bersama salah satu mentornya, Lulut Sri Yuliani, aktivis konservasi penerima penghargaan Kalpataru, Harley mengembangkan pemanfaatan hasil mangrove menjadi berbagai produk berkelanjutan. Produk tersebut antara lain briket arang, sampo dan kondisioner, sirup, kecap, hingga batik mangrove.

Harley juga menciptakan Eco Geniuz Pillow, yakni bantal yang memanfaatkan sampah plastik hasil kegiatan bersih pantai. Produk tersebut dilengkapi materi edukasi mengenai perubahan iklim yang dapat diakses secara digital melalui kode yang dapat dipindai.

Pendekatan tersebut menunjukkan, bahwa restorasi ekosistem dapat berjalan beriringan dengan edukasi lingkungan bagi generasi muda sekaligus menciptakan nilai ekonomi bagi masyarakat pesisir.

Sementara itu, Presiden Action For Nature, Beryl Kay menilai kekuatan gerakan Harley terletak pada keberaniannya mengambil tindakan langsung ketika melihat persoalan lingkungan di sekitarnya.

"Harley tidak menunggu orang lain memperbaiki apa yang ia lihat terjadi di negara tempat tinggalnya. Ia mempelajari ilmunya, selalu melibatkan masyarakat lokal, dan bertahan untuk menyaksikan puluhan ribu mangrove mulai berakar," kata Beryl Kay.

Sebagai informasi, International Young Eco-Hero Award diberikan kepada anak dan remaja berusia 8-16 tahun yang menunjukkan aksi lingkungan nyata dan berdampak. Program tersebut telah diselenggarakan setiap tahun sejak 2003 oleh Action For Nature.

Para penerima penghargaan sebelumnya berasal dari berbagai negara dengan aksi di bidang konservasi keanekaragaman hayati, penanganan polusi, perlindungan laut, hingga gerakan menghadapi perubahan iklim.

Pada 2026, Action For Nature menerima 476 peserta dari 49 negara dan 25 negara bagian Amerika Serikat. Jumlah tersebut menjadikan 2026 sebagai tahun dengan peserta terbanyak dan paling beragam dalam sejarah penghargaan tersebut.

Dari ratusan peserta tersebut, hanya 16 Eco-Hero yang terpilih. Harley Fatahillah Yodhaloka Sunoto menjadi wakil Indonesia yang meraih Juara 1 kategori usia 8-14 tahun.

Prestasi tersebut, menempatkan Harley dalam komunitas internasional anak dan remaja penggerak lingkungan. Alumni penghargaan tersebut mencakup sosok-sosok yang kemudian menjadi duta Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan pemimpin berbagai inisiatif iklim internasional.

 

Reporter: Amanah/Editor: Ais

Share:
Lenterasemarang.com.
Lenterasemarang.com.