04 August 2026

Get In Touch

Psikolog Unair: Kekerasan Seksual oleh Keluarga Dapat Pengaruhi Masa Depan Anak

Psikolog Universitas Airlangga (Unair) Dr Primatia Yogi Wulandari.
Psikolog Universitas Airlangga (Unair) Dr Primatia Yogi Wulandari.

SURABAYA (Lentera) - Kekerasan seksual terhadap anak, tidak berhenti pada peristiwa yang dialami korban. Ketika pelaku berasal dari lingkungan keluarga, pengkhianatan terhadap rasa aman dan kepercayaan dapat memengaruhi proses tumbuh kembang anak dalam jangka panjang. 

Psikolog Universitas Airlangga (Unair), Dr Primatia Yogi Wulandari menjelaskan kekerasan seksual terlebih ketika dilakukan oleh orang terdekat dalam keluarga, dapat memengaruhi berbagai aspek perkembangan anak. 

Dampaknya tidak hanya berkaitan dengan kondisi emosional, tetapi juga cara anak memandang dirinya, mempercayai orang lain, dan membangun hubungan sosial di kemudian hari.

Menurut Primatia, lingkungan keluarga semestinya menjadi tempat pertama bagi anak untuk mendapatkan rasa aman dan perlindungan.

"Namun, ketika kepercayaan tersebut disalahgunakan oleh orang yang memiliki kedekatan dan otoritas terhadap anak, dampaknya dapat menjadi lebih kompleks," jelasnya, Senin (3/8/2026).

Primatia mengatakan, kedekatan antara anak dan anggota keluarga tidak otomatis membuat anak terbebas dari risiko kekerasan seksual. Dalam sejumlah situasi, pelaku justru dapat memanfaatkan relasi kuasa, kedekatan emosional, maupun kepercayaan yang dimiliki korban.

“Dalam perspektif psikologi perkembangan, pelecehan seksual dalam keluarga menjadi hal yang sangat serius karena pelakunya adalah orang terdekat yang seharusnya menjadi sosok pelindung. Ketika kepercayaan itu dikhianati, yang terganggu bukan hanya emosi anak, tetapi juga proses perkembangannya,” ujarnya.

Perbedaan usia, posisi, dan otoritas antara orang dewasa dan anak membuat korban berada dalam posisi yang lebih rentan. Kondisi tersebut dapat membuat anak kesulitan memahami apa yang terjadi, menolak perlakuan pelaku, atau mengungkapkan pengalaman yang dialaminya.

Karena itu, edukasi mengenai tubuh, privasi, batasan diri, dan persetujuan perlu diberikan kepada anak sejak dini dengan bahasa yang sesuai dengan usia dan tahap perkembangannya.

“Perlindungan anak bukan hanya mengajarkan mereka berhati-hati terhadap orang asing, tetapi juga membangun pemahaman bahwa setiap anak berhak menjaga batasan tubuhnya, sekalipun dengan orang yang dikenal,” ucapnya.

Primatia menegaskan, respons anak terhadap kekerasan seksual sangat beragam. Tidak semua korban akan menunjukkan tanda-tanda yang sama sehingga orang dewasa perlu berhati-hati dalam menilai kondisi anak hanya berdasarkan perilaku yang terlihat.

“Korban dapat mengalami rasa takut, malu, kehilangan kepercayaan diri, hingga kesulitan tidur dan berkonsentrasi. Namun, tidak semua anak memperlihatkan tanda yang sama. Karena itu, kita tidak bisa menilai berat atau ringannya dampak hanya dari perilaku yang tampak,” tuturnya.

Dalam jangka lebih panjang, pengalaman kekerasan seksual juga dapat memengaruhi kemampuan anak membangun hubungan dengan orang lain. Anak dapat menjadi lebih sulit mempercayai orang lain, menarik diri dari lingkungan, atau mengalami kesulitan membangun relasi ketika memasuki masa remaja.

Namun, ia menekankan, dampak psikologis tersebut bukan berarti menentukan masa depan korban. Dengan perlindungan, pendampingan, dan dukungan yang tepat, anak memiliki peluang untuk memulihkan diri dan kembali berkembang secara optimal.

Ia mengungkapkan, pencegahan kekerasan seksual terhadap anak tidak dapat dibebankan kepada anak. Tanggung jawab menciptakan lingkungan yang aman berada pada orang dewasa, baik di lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat.

Selain mengajarkan anak mengenali batasan tubuh, orang dewasa perlu membangun komunikasi yang membuat anak merasa aman untuk bercerita. Anak perlu mengetahui bahwa ketika mengalami sesuatu yang membuatnya tidak nyaman, ia memiliki orang dewasa yang dapat dipercaya untuk meminta bantuan.

“Yang perlu kita ciptakan bukan hanya anak yang aman secara fisik, tetapi juga anak yang merasa aman untuk bercerita. Ketika anak berani mengungkapkan pengalamannya, respons pertama orang dewasa haruslah mendengarkan, mempercayai, dan melindungi, bukan menyalahkan atau mempertanyakan ceritanya,” pungkasnya.

 

Reporter: Amanah/Editor: Ais

Share:
Lenterasemarang.com.
Lenterasemarang.com.