TRENGGALEK (Lentera) – Sepanjang Januari hingga Juli 2026, terjadi 38 peristiwa kebakaran di Kabupaten Trenggalek. Mayoritas kejadian dipicu kelalaian manusia, sementara rumah tinggal menjadi bangunan yang paling banyak terdampak.
Menghadapi musim kemarau yang diprediksi masih berlangsung, petugas pemadam kebakaran pun meningkatkan upaya pencegahan melalui edukasi kepada masyarakat dan pelajar.
Kepala Bidang Pencegahan, Penanggulangan Kebakaran dan Non Kebakaran pada Satuan Polisi Pamong Praja dan Kebakaran Kabupaten Trenggalek, Wasis Widodo mengatakan dari total 38 kejadian tersebut, sebanyak 18 kasus disebabkan kelalaian, sedangkan 16 kasus dipicu korsleting listrik.
"Sejak Januari hingga Juli ini tercatat ada 38 kejadian kebakaran. Penyebab terbanyak berasal dari kelalaian sebanyak 18 kasus, disusul korsleting listrik 16 kasus. Selebihnya dipicu kompor gas maupun aktivitas memasak lain menggunakan kayu bakar," ujar Wasis, Selasa (21/7/2026).
Ia menjelaskan, objek yang paling sering terbakar adalah rumah tinggal dengan jumlah sekitar 16 unit. Selain itu, petugas juga menangani kebakaran kandang ayam yang merambat ke dapur, lahan tebu, rumpun bambu, hingga kandang sapi.
Menurutnya, kebakaran kandang sapi umumnya bermula dari penggunaan api atau biasa warga setempat menyebut diang untuk mengusir nyamuk di sekitar ternak yang kemudian membesar karena kurangnya pengawasan dan tiupan angin.
"Kami juga menemukan kebakaran kandang sapi yang dipicu api dari diang untuk mengusir nyamuk. Karena kurang diawasi dan dibantu angin, api kemudian membesar hingga membakar kandang," katanya.
Sebagai langkah mitigasi, Damkar Trenggalek terus menggencarkan program Damkar Go To School. Program tersebut tidak hanya memberikan edukasi kepada siswa, tetapi juga melibatkan guru dan wali murid agar pemahaman mengenai pencegahan kebakaran semakin luas.
"Melalui Damkar Go To School kami menanamkan pengetahuan sejak dini. Anak-anak mungkin belum bisa memadamkan api sekarang, tetapi mereka akan memiliki bekal dan pemahaman kelak dewasa nanti," jelas Wasis.
Ia juga mengingatkan, masyarakat agar lebih berhati-hati saat menggunakan api, terutama selama musim kemarau. Wasis meminta warga menghindari kebiasaan membakar sampah dan tidak meninggalkan api tanpa pengawasan.
"Kalau memang harus membakar sesuatu, jangan pernah ditinggal. Bahkan kalau bisa sampah tidak perlu dibakar, lebih baik ditimbun karena masih bermanfaat untuk tanah sekaligus mengurangi risiko kebakaran. Saat memasak pun jangan sampai meninggalkan api tanpa pengawasan," pungkasnya.
Reporter: Herlambang/Editor: Ais





.jpg)
