21 July 2026

Get In Touch

Mengapa Autoimun Lebih Banyak Menyerang Perempuan

Mengapa Autoimun Lebih Banyak Menyerang Perempuan

SURABAYA ( LENTERA ) - Bagi banyak perempuan, rasa lelah pada akhir hari sering kali dianggap sebagai konsekuensi dari padatnya aktivitas. Namun, kelelahan yang berlangsung terus-menerus meski sudah beristirahat, disertai nyeri sendi, demam ringan yang berulang, atau keluhan lain yang tidak kunjung membaik, dapat menjadi tanda adanya gangguan pada sistem kekebalan tubuh.

Salah satu kondisi yang perlu diwaspadai adalah penyakit autoimun. Penyakit ini bukan lagi tergolong kasus yang jarang ditemukan. Dalam beberapa tahun terakhir, jumlah penderitanya terus meningkat di berbagai negara, termasuk di Indonesia. Secara global, sekitar 80 persen penderita autoimun adalah perempuan.

Autoimun terjadi ketika sistem kekebalan tubuh yang seharusnya melindungi dari infeksi justru keliru mengenali sel-sel sehat sebagai ancaman. Akibatnya, sistem imun menyerang jaringan tubuh sendiri sehingga menimbulkan peradangan kronis dan, dalam jangka panjang, dapat menyebabkan kerusakan organ.

Faktor Genetik dan Hormon

Pakar Genetika Ekologi IPB University, Prof. Ronny Rachman Noor, menjelaskan bahwa tingginya angka autoimun pada perempuan berkaitan dengan kombinasi faktor genetik, hormonal, dan lingkungan.

Secara biologis, perempuan memiliki dua kromosom X yang membawa lebih banyak gen yang berperan dalam mengatur sistem kekebalan tubuh. Kondisi tersebut membuat respons imun perempuan cenderung lebih kuat dibandingkan laki-laki. Di satu sisi, hal ini memberikan perlindungan yang lebih baik terhadap infeksi. Namun, di sisi lain, respons imun yang lebih aktif juga meningkatkan risiko terjadinya gangguan autoimun.

Kerentanan tersebut dapat dipengaruhi berbagai faktor lingkungan, seperti infeksi virus, paparan polusi udara, maupun stres berkepanjangan. Faktor-faktor tersebut dapat memicu perubahan epigenetik, termasuk perubahan metilasi DNA yang memengaruhi aktif atau tidaknya gen tertentu, sehingga meningkatkan kemungkinan munculnya penyakit autoimun.

Stres dan Faktor Pemicu

Pada individu yang memiliki predisposisi genetik, kekambuhan atau flare dapat dipicu oleh berbagai faktor. Paparan sinar ultraviolet dalam intensitas tinggi, infeksi, maupun tekanan psikologis yang berkepanjangan merupakan beberapa pemicu yang telah dikenal dalam berbagai penelitian.

Penyakit autoimun memiliki lebih dari 100 jenis dengan gejala dan organ sasaran yang berbeda. Penyakit ini dapat menyerang kulit, seperti psoriasis, vitiligo, dan skleroderma; saluran pencernaan, seperti penyakit Crohn dan celiac; maupun sistem endokrin, seperti diabetes melitus tipe 1, penyakit Hashimoto, dan Graves.

Pada kondisi tertentu, autoimun juga dapat menyerang sendi, otot, hingga sistem saraf. Beberapa penyakit yang cukup dikenal antara lain lupus, rheumatoid arthritis, myasthenia gravis, dan multiple sclerosis. Jika tidak ditangani dengan baik, penyakit-penyakit tersebut dapat menurunkan kualitas hidup dan kemampuan beraktivitas penderitanya.

Pentingnya Deteksi Dini

Meski faktor genetik tidak dapat diubah, risiko komplikasi akibat autoimun dapat ditekan melalui deteksi dan penanganan sejak dini. Karena itu, gejala yang muncul secara berulang dan tidak dapat dijelaskan sebaiknya tidak diabaikan. Konsultasi dengan dokter, termasuk dokter spesialis reumatologi atau imunologi, diperlukan untuk memastikan diagnosis dan menentukan terapi yang sesuai.

Penanganan autoimun umumnya dilakukan melalui pemberian obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID), kortikosteroid, maupun obat imunomodulator sesuai kondisi pasien. Selain terapi medis, perubahan gaya hidup juga berperan penting dalam mengendalikan penyakit. 

Pola makan bergizi seimbang, pengelolaan stres, tidur yang cukup, aktivitas fisik yang sesuai, serta menghindari paparan asap rokok merupakan bagian dari upaya menjaga kestabilan sistem kekebalan tubuh.

Meningkatnya kasus autoimun pada perempuan menunjukkan bahwa kesehatan tidak hanya dipengaruhi oleh infeksi, tetapi juga oleh keseimbangan sistem imun yang dipengaruhi faktor genetik, hormon, dan lingkungan. Mengenali gejala sejak dini serta memperoleh penanganan yang tepat menjadi langkah penting untuk mencegah kerusakan organ dan mempertahankan kualitas hidup.(far,ist/dya)


Data mengenai epidemiologi penyakit autoimun.

1. Global Burden of Disease (GBD) 2019 & 2021
Sumber: Institute for Health Metrics and Evaluation (IHME), dipublikasikan di jurnal The Lancet dan Lancet Rheumatology

Menunjukkan jumlah penderita RA dunia sekitar 18 juta orang pada 2019 dan diproyeksikan meningkat menjadi 31,7 juta pada 2050. 

2. World Health Organization (WHO)
WHO menerbitkan Fact Sheet Rheumatoid Arthritis yang merangkum data GBD.
Data penting:
-18 juta penderita rheumatoid arthritis pada 2019.
-70% penderita RA adalah perempuan.
-55% berusia di atas 55 tahun.
-Sekitar 13 juta penderita memerlukan layanan rehabilitasi. 

3. IPB University (2026)
Prof. Ronny Rachman Noor merangkum berbagai hasil penelitian internasional dan menyebut bahwa:
sekitar 10% populasi dunia hidup dengan penyakit autoimun;
sekitar 80% penderitanya adalah perempuan;
prevalensi di Asia Tenggara diperkirakan 3–5% populasi.
 

Share:
Lenterasemarang.com.
Lenterasemarang.com.