21 July 2026

Get In Touch

Omega Block, Fenomena yang Membakar Eropa

Omega Block, Fenomena yang Membakar Eropa

SURABAYA ( LENTERA ) - Gelombang panas ekstrem kembali menghantam sejumlah wilayah Eropa. Suhu yang melonjak selama berhari-hari membuat banyak negara berada dalam kondisi siaga karena panas yang terperangkap tidak kunjung bergerak pergi.

Di balik cuaca yang terasa seperti “terkunci” tersebut, para ilmuwan menemukan adanya fenomena atmosfer yang disebut Omega Block atau Blok Omega.

Fenomena ini membuat sistem cuaca seolah mengalami kemacetan di langit. Udara panas terjebak di satu wilayah dan terus bertahan, menyebabkan suhu meningkat jauh lebih lama dibandingkan gelombang panas biasa.

Meski pola Omega Block bukan fenomena baru dalam meteorologi, para ahli memperingatkan bahwa perubahan iklim akibat meningkatnya emisi gas rumah kaca membuat dampaknya menjadi semakin ekstrem.

Pembakaran bahan bakar fosil yang terus berlangsung menyebabkan suhu bumi meningkat, sehingga ketika fenomena atmosfer tertentu muncul, panas yang terjadi bisa menjadi lebih intens dan berbahaya.

Apa Itu Omega Block?

Omega Block merupakan pola sirkulasi atmosfer ketika aliran udara di ketinggian membentuk pola menyerupai huruf Yunani Omega (Ω).
Dalam kondisi ini, area tekanan tinggi berada di tengah dan terjepit oleh dua area tekanan rendah di sisi kanan dan kiri.

Akibatnya, sistem cuaca sulit bergerak. Udara panas yang seharusnya berpindah justru tertahan selama beberapa hari bahkan bisa berminggu-minggu.

Samantha Burgess dari Pusat Prakiraan Cuaca Jangka Menengah Eropa (ECMWF) menjelaskan kondisi tersebut seperti kemacetan lalu lintas di atmosfer.

"Pola sirkulasi di atas Eropa menciptakan kondisi yang setara dengan kemacetan lalu lintas di atmosfer yang memerangkap panas," ujar Burgess dikutip dari France24.

Dalam situasi ini, area tekanan tinggi menarik udara panas dari Afrika Utara menuju Eropa. Udara panas tersebut kemudian terjebak di antara dua sistem tekanan rendah.
Akibatnya, wilayah yang berada di bawah blok tersebut mengalami peningkatan suhu secara terus-menerus.

Seperti Mesin Penyedot Debu Panas

Fenomena Omega Block juga digambarkan seperti mesin penyedot debu raksasa.
Sistem tekanan tinggi yang menetap bekerja menarik massa udara panas dari wilayah selatan, terutama Afrika Utara, lalu mendorongnya ke wilayah Eropa.

Sebastien Leas, pakar meteorologi dan ahli prakiraan cuaca dari Météo-France, menggambarkan proses tersebut seperti penyedot panas dari selatan.

"Ini seperti penyedot debu yang menyedot panas dan massa udara panas yang naik dari Afrika Utara, lalu menyemburkannya ke utara dalam arus deras yang dahsyat," kata Leas.
Akibat mekanisme tersebut, suhu udara terus meningkat karena pasokan udara panas datang secara berulang.

Mengapa Dampaknya Kini Lebih Parah?

Para ilmuwan menilai gelombang panas saat ini terasa lebih ekstrem karena terjadi dalam kondisi bumi yang semakin hangat.
Pemanasan global membuat suhu dasar atmosfer menjadi lebih tinggi dibandingkan beberapa dekade lalu. Ketika gelombang panas datang, titik awal suhunya sudah lebih panas sehingga dampaknya menjadi lebih berat.

Selain suhu tinggi, gelombang panas berkepanjangan juga meningkatkan risiko kebakaran hutan, kekeringan, gangguan kesehatan, hingga tekanan terhadap sektor energi.

Omega Block sebenarnya sudah dikenal dalam ilmu meteorologi. Namun, fenomena ini semakin menjadi perhatian karena kemunculannya bertepatan dengan meningkatnya kejadian cuaca ekstrem di berbagai belahan dunia.
Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai wilayah dunia mengalami gelombang panas dengan suhu yang memecahkan rekor.
Dari Eropa, Asia, hingga Amerika, perubahan pola cuaca menunjukkan bahwa iklim global sedang mengalami perubahan besar.( ist/dya)
 

Share:
Lenterasemarang.com.
Lenterasemarang.com.