SURABAYA ( LENTERA ) - Laut kembali menunjukkan salah satu misteri terbesarnya. Sebuah blue hole atau lubang laut berwarna biru pekat ditemukan di kawasan terumbu karang Laguna Pulau Huangyan, Laut China Selatan. Temuan ini menarik perhatian karena bukan hanya bentuk geologinya yang langka, tetapi juga kekayaan kehidupan laut yang tersembunyi di dalamnya.
Blue hole merupakan lubang laut alami yang memiliki warna biru gelap karena kedalamannya jauh lebih dalam dibandingkan perairan di sekitarnya. Fenomena ini terbentuk melalui proses alam selama ribuan tahun dan menjadi salah satu ekosistem laut yang unik.
Menurut laporan China Daily, survei yang dilakukan Kementerian Ekologi dan Lingkungan China menemukan lebih dari 2.700 spesies laut hidup di kawasan sekitar blue hole tersebut.
Pemetaan keanekaragaman hayati dilakukan menggunakan teknologi DNA lingkungan atau environmental DNA (eDNA). Teknologi ini memungkinkan ilmuwan mengenali keberadaan makhluk hidup hanya dari jejak genetik yang tertinggal di air, tanpa harus menangkap organisme satu per satu.
Dari sampel air laut, peneliti dapat membaca tanda biologis berbagai organisme yang pernah hidup atau beraktivitas di kawasan tersebut.
Terbentuk Ribuan Tahun Lalu
Blue hole di Huangyan pertama kali diamati oleh tim survei ilmiah pada Agustus 2025.
Kajian awal menggunakan metode geokronologi menunjukkan struktur laut tersebut telah terbentuk setidaknya 3.200 tahun lalu.
Bentuknya menyerupai corong dengan bagian dalam yang semakin dalam ke bawah. Luas area bukaannya mencapai sekitar 1.491,7 meter persegi, dengan diameter maksimum 56,3 meter dan kedalaman mencapai 16,6 meter.
Keunikan lain dari blue hole Huangyan adalah asal pembentukannya. Secara umum, blue hole terbagi menjadi dua jenis.
Pertama, blue hole yang terbentuk akibat proses pelarutan batu kapur.
Kedua, blue hole yang terbentuk dari pertumbuhan dan perkembangan struktur terumbu karang.
Jenis kedua inilah yang tergolong lebih langka karena terbentuk melalui proses biologis ekosistem laut.
Kawasan sekitar blue hole Huangyan berada di wilayah terumbu karang yang padat. Lingkungan ini menjadi habitat berbagai organisme laut, mulai dari karang, ikan, spons laut, anemon, hingga kima raksasa.
Survei selama dua tahun mencatat keberadaan 165 spesies karang keras yang berasal dari 14 famili dan mencakup 44 genus.
Selain itu, peneliti juga menemukan 184 spesies ikan dari 27 famili yang mencakup 85 genus.
Tidak hanya itu, kawasan tersebut juga menjadi tempat hidup penyu hijau, salah satu satwa yang dilindungi di China.
Temuan ini memperlihatkan bahwa kawasan laut yang tampak hanya berupa lubang gelap ternyata menyimpan ekosistem dengan tingkat keanekaragaman hayati tinggi.
Salah satu hal penting dari penelitian ini adalah penggunaan teknologi DNA lingkungan.
Selama ini, penelitian laut sering bergantung pada pengamatan langsung atau penangkapan sampel organisme. Namun teknologi eDNA memberikan cara baru untuk mempelajari kehidupan bawah laut secara lebih luas dan minim gangguan.
Jejak genetik yang tertinggal di air dapat membantu ilmuwan mengetahui keberadaan berbagai spesies, termasuk organisme yang sulit diamati secara langsung.
Teknologi ini dinilai penting untuk memahami kondisi ekosistem laut dan menyusun strategi perlindungan kawasan biodiversitas.
Blue hole telah lama menjadi salah satu fenomena laut yang menarik perhatian ilmuwan maupun penyelam.
Beberapa blue hole terkenal di dunia memiliki kedalaman ratusan meter dan menjadi objek penelitian karena menyimpan catatan perubahan lingkungan masa lalu.
Namun, blue hole yang terbentuk dari ekosistem terumbu karang memiliki nilai khusus karena keberadaannya sangat terbatas.
Struktur seperti ini tidak hanya menjadi bentang alam unik, tetapi juga berfungsi sebagai tempat berlindung dan berkembang biaknya berbagai spesies laut.
Temuan blue hole Huangyan kembali menunjukkan bahwa sebagian besar kekayaan laut masih belum sepenuhnya terungkap.
Di balik permukaan laut yang terlihat tenang, terdapat jaringan kehidupan yang saling terhubung.
Kerusakan terumbu karang, perubahan iklim, pencemaran laut, dan aktivitas manusia menjadi ancaman bagi ekosistem seperti ini.
Karena itu, penelitian berbasis teknologi seperti DNA lingkungan menjadi penting untuk mengenali wilayah-wilayah laut yang memiliki nilai ekologis tinggi.(ist/dya)





.jpg)
