SURABAYA (Lentera) - PT Rumah Potong Hewan (RPH) Surabaya Perseroda memastikan pasokan dan distribusi daging sapi di Kota Surabaya tetap berjalan normal meski operasional pemotongan hewan telah dipindahkan dari RPH Pegirian ke RPH Tambak Osowilangun sejak 1 Juni 2026. Di tengah masa transisi tersebut, sejumlah pembenahan sarana dan prasarana terus dilakukan guna mengoptimalkan layanan pemotongan hewan.
Direktur Utama PT RPH Surabaya Perseroda, Fajar A. Isnugroho, mengatakan RPH Tambak Osowilangun kini telah beroperasi secara masif. Namun, pihaknya masih menemukan beberapa kendala teknis yang perlu segera disempurnakan, salah satunya terkait ketersediaan air untuk proses pembersihan setelah pemotongan hewan.
"Salah satu faktor pembersihan jeroan atau babatan itu menggunakan air yang cukup banyak. Ini menguras air yang cukup besar sehingga tandon kami sudah dua minggu lebih kesulitan, bahkan kekurangan air karena ketersediaan tandon yang terbatas," kata Fajar, Rabu (17/6/2026).
Menurutnya, PT RPH Surabaya telah mengusulkan sejumlah solusi kepada Pemerintah Kota Surabaya, di antaranya penambahan debit air PDAM dan optimalisasi tandon yang ada agar kebutuhan operasional dapat terpenuhi.
Fajar menjelaskan, penggunaan air sumur tidak lagi menjadi pilihan karena kandungan garam yang cukup tinggi dapat memengaruhi kualitas pembersihan jeroan dan babatan.
"Air sumur ini airnya asin. Ketika digunakan untuk mencuci babatan akan merusak kualitasnya, sehingga kami memutuskan menggunakan air PDAM. Namun debit air yang tersedia saat ini masih perlu ditambah," jelasnya.
Dalam sehari, RPH Tambak Osowilangun membutuhkan sekitar 50.000 liter air untuk mendukung proses operasional. Sementara pasokan yang tersedia saat ini baru mencapai sekitar 20.000 liter per hari.
Di sisi lain, kapasitas pemotongan di RPH Tambak Osowilangun cukup besar, yakni mampu menampung hingga 80 ekor sapi lokal dan 150 ekor sapi impor setiap hari.
"Ketika uji coba Januari lalu hanya satu sampai tiga ekor sapi, tidak ada masalah. Sekarang jumlahnya puluhan bahkan ratusan, sehingga muncul tantangan baru seperti kebutuhan air, elevasi lantai, IPAL, hingga persoalan genangan," tambahnya.
Selain persoalan air, PT RPH Surabaya juga tengah mengevaluasi desain elevasi lantai di area pemotongan. Menurut Fajar, kemiringan lantai yang kurang optimal menyebabkan darah dan limbah pemotongan tidak langsung mengalir ke saluran pembuangan.
"Keluhan para jagal adalah tidak adanya elevasi lantai yang memadai sehingga aliran darah sering tergenang dan harus dibersihkan secara manual oleh tim kami," katanya.
Evaluasi juga dilakukan terhadap sistem rel gantung atau railing yang digunakan untuk memindahkan daging hasil pemotongan. Beberapa kali, fasilitas tersebut mengalami kendala saat digunakan.
Meski demikian, Fajar optimistis seluruh pembenahan dapat diselesaikan dalam waktu sekitar satu setengah bulan ke depan.
"Secara keseluruhan tempat ini sudah digunakan. Memang perlu penyempurnaan sarana dan prasarana, tetapi secara bertahap akan kami penuhi dan dalam waktu satu setengah bulan bisa diselesaikan dengan baik," ungkapnya.
Ia juga menegaskan perpindahan operasional dari RPH Pegirian ke Tambak Osowilangun tidak memengaruhi distribusi daging ke Pasar Arimbi maupun pasar tradisional lainnya di Surabaya.
"Pemotongan di Tambak Osowilangun bisa disuplai ke Pasar Arimbi dan seluruh pasar tradisional dengan baik. Alhamdulillah distribusi tidak ada masalah," tegasnya.
Fajar memastikan ketersediaan daging sapi di Surabaya tetap aman dan masyarakat tidak perlu khawatir terhadap pasokan maupun kualitas produk yang beredar di pasaran.
"Kami pastikan masyarakat tetap mendapatkan daging terbaik yang aman, sehat, dan halal, baik di Pasar Arimbi maupun seluruh pasar tradisional di Kota Surabaya," pungkasnya.
Reporter: Amanah/Editor: Santi





.jpg)
