Mahasiswa Unair Ciptakan NyxAId, Aplikasi AI untuk Bantu Tunanetra Tangani Kondisi Darurat
SURABAYA (Lentera) - Sebanyak 5 mahasiswa Universitas Airlangga (Unair) menciptakan inovasi bertajuk "NyxAId", sebuah aplikasi yang dapat membantu tunanetra saat menghadapi situasi dan kondisi darurat.
Terobosan tersebut berangkat dari masih adanya tantangan yang harus dihadapi penyandang tunanetra untuk mengakses pertolongan pertama saat kondisi darurat. Baik kesulitan mengenali lokasi maupun tingkat keparahan luka secara mandiri yang kerap membuat penanganan cedera menjadi terlambat, terutama ketika tidak ada pendamping di sekitar.
"NyxAId kami hadirkan untuk meningkatkan aksesibilitas pertolongan pertama yang inklusif bagi penyandang tunanetra. Kami ingin mengubah fungsi kacamata pintar yang selama ini lebih banyak digunakan untuk mobilitas dan navigasi menjadi perangkat yang mampu mendeteksi kondisi medis secara visual," ujar Ketua tim, Gressendy Zahwarani, Kamis (11/6/2026).
Selain Gressendy Zahwarani, pengembangan aplikasi ini juga digagas oleh Hannah Icasia Illine, Shafrie Alvito Wimala Rasendrya, dan Muhammad Bariq Azka dari Fakultas Vokasi, serta Zalfa Zahira Febriyani dari Fakultas Kesehatan Masyarakat.
Gressendy menjelaskan, NyxAId merupakan sistem assistive first aid yang mengintegrasikan aplikasi seluler, kacamata pintar, dan teknologi kecerdasan buatan untuk membantu penyandang tunanetra memperoleh penanganan medis awal secara cepat dan mandiri.
Menurutnya, ide pengembangan NyxAId lahir dari pengamatan tim terhadap aktivitas penyandang tunanetra di ruang publik. Mereka kerap melihat tunanetra berjalan sendiri dan berpotensi mengalami cedera tanpa mengetahui kondisi luka yang dialami.
"Kami melihat berbagai alat bantu yang tersedia saat ini masih berfokus pada navigasi, seperti tongkat pintar maupun kacamata penunjuk arah. Belum banyak inovasi yang secara spesifik membantu tunanetra mengenali cedera fisik dan memperoleh panduan pertolongan pertama secara mandiri," jelasnya.
Melalui teknologi yang dikembangkan, NyxAId memungkinkan pengguna memindai luka menggunakan kamera pada kacamata pintar. Sistem kemudian menganalisis kondisi luka dan memberikan informasi melalui panduan suara yang mudah dipahami pengguna tunanetra.
Selain itu, platform tersebut memanfaatkan teknologi Artificial Intelligence berbasis Large Language Model-Retrieval Augmented Generation (LLM-RAG) yang memungkinkan komunikasi dua arah secara interaktif melalui audio.
Gressendy mengatakan, setiap jenis luka membutuhkan penanganan yang berbeda. Karena itu, sistem AI-RAG yang digunakan dirancang untuk menyajikan panduan pertolongan pertama yang telah diverifikasi secara medis sehingga pengguna memperoleh informasi yang lebih akurat.
"Melalui fitur pemindai luka, buku panduan suara, dan percakapan interaktif, pengguna maupun pendamping dapat memperoleh arahan pertolongan pertama secara cepat sesuai kondisi yang dialami," jelasnya.
Tak hanya memberikan panduan penanganan awal, NyxAId juga dilengkapi fitur panggilan darurat (emergency call). Fitur tersebut akan secara otomatis menghubungkan pengguna dengan keluarga maupun fasilitas kesehatan terdekat apabila sistem mendeteksi kondisi yang memerlukan penanganan lebih lanjut.
Tim pengembang berharap NyxAId dapat menjadi solusi yang mendukung keamanan, keselamatan, dan kemandirian medis penyandang disabilitas netra, khususnya saat berada di ruang publik.
"Apabila pengguna berada dalam kondisi kritis yang tidak memungkinkan melakukan penanganan mandiri, sistem akan menghubungkan ke kontak darurat atau fasilitas kesehatan terdekat. Kami berharap NyxAId dapat terus dikembangkan sehingga memberikan manfaat yang lebih luas bagi penyandang disabilitas dan masyarakat secara umum," pungkasnya.
Sebagai informasi, terobosan Sistem Assistive First Aid Berbasis Aplikasi Mobile dan Kacamata Pintar Terintegrasi AI-RAG untuk Mengoptimalkan Kemandirian Medis Tunanetra itu berhasil lolos pendanaan Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) 2026.
Reporter: Amanah/Editor: Santi





.jpg)
