07 June 2026

Get In Touch

Kasus TBC di Kota Malang Didominasi Laki-laki, Kenali Gejala dan Cara Mencegahnya

Arsip-Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Kota Malang, Meifta Eti Winindar, ditemui di Kantor Dinkes Kota Malang. (Santi/Lentera)
Arsip-Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Kota Malang, Meifta Eti Winindar, ditemui di Kantor Dinkes Kota Malang. (Santi/Lentera)

MALANG (Lentera) - Kelompok laki-laki mendominasi kasus tuberkulosis (TBC) di Kota Malang yang ditemukan sepanjang Januari hingga akhir Mei 2026. Untuk itu, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang mendorong masyarakat untuk lebih mengenali gejala TBC serta menerapkan langkah-langkah pencegahan guna memutus rantai penularan penyakit.

"Berdasarkan hasil pemantauan, kelompok laki-laki mendominasi dibandingkan perempuan. Sementara dari sisi usia, semuanya ada," ujar Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Kota Malang, Meifta Eti Winindar, Minggu (7/6/2026).

Sementara itu, dari data yang dimiliki, Meifta menyebut saat ini terdapat 1.433 orang yang terduga TBC untuk dilakukan pemeriksaan lanjutan berupa sampel Tes Cepat Molekuler (TCM). "Itu data mulai Januari sampai akhir Mei 2026," katanya.

Selain pemeriksaan terhadap kasus terduga, Dinkes juga menggelar program mobile screening sejak April hingga awal Juni 2026. Dari kegiatan tersebut, sebanyak 2.936 warga telah menjalani skrining untuk mendeteksi kemungkinan terpapar TBC.

Dari hasil skrining yang dilakukan di 28 kelurahan, petugas kesehatan menemukan 27 warga positif TBC. "Mulai April sampai Mei akhir kami sudah melakukan kegiatan screening mobile di 28 kelurahan, dari 28 kelurahan sudah ditemukan ada 27 orang yang positif," kata Meifta.

Secara keseluruhan, jumlah kasus positif TBC yang tercatat di Kota Malang sepanjang Januari hingga Mei 2026 mencapai 925 orang.

Lebih lanjut, Meifta mengimbau masyarakat agar tidak mengabaikan gejala-gejala yang mengarah pada TBC, terutama jika memiliki riwayat kontak erat dengan penderita. Pemeriksaan dini dinilai menjadi kunci agar pasien segera mendapatkan penanganan sesuai standar dan mengurangi risiko penularan kepada orang lain.

"Sesegera mungkin melakukan pemeriksaan atau skrining di Puskesmas ketika mengalami gejala-gejala, terlebih kalau kita berada pada lingkungan yang pernah kontak erat dengan pasien TBC," jelasnya.

Beberapa gejala yang perlu diwaspadai antara lain batuk berkepanjangan lebih dari dua minggu, penurunan berat badan secara terus-menerus, serta keluarnya keringat dingin pada malam hari.

Sementara pada anak-anak, khususnya balita, salah satu indikator yang perlu diperhatikan adalah berat badan yang tidak mengalami kenaikan selama dua bulan berturut-turut.

"Kalau sesegera mungkin ditemukan, sesegera mungkin juga diberikan tata laksana sesuai standar," tambahnya.

Di sisi lain, Dinkes Kota Malang mencatat adanya penurunan angka kematian akibat TBC dibandingkan tahun sebelumnya. Pada 2025, tercatat 230 penderita TBC meninggal dunia, sedangkan pada periode Januari hingga akhir Mei 2026 jumlah kematian yang tercatat sebanyak 24 orang.

Meski demikian, Meifta menilai upaya pencegahan tetap harus menjadi perhatian bersama. Masyarakat diimbau menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), menggunakan masker saat diperlukan, menerapkan etika batuk, serta memastikan sirkulasi udara di rumah tetap baik dengan membuka jendela dan menjaga ventilasi.

Selain itu, aktivitas fisik secara rutin, konsumsi makanan bergizi, serta pemberian imunisasi pada bayi juga menjadi bagian penting dalam upaya menekan risiko penularan TBC.

"Untuk bayi-bayi harap diberikan imunisasi sebagai pencegahan TBC. Jangan lupa makan makanan yang bergizi. Intinya adalah menerapkan PHBS," pungkas Meifta.

Reporter: Santi Wahyu

Share:
Lenterasemarang.com.
Lenterasemarang.com.