05 June 2026

Get In Touch

Trenggalek Siapkan Geopark Berbasis Alam, Budaya, dan Warisan Geologi

Kepala BPPRIN Kabupaten Trenggalek, Ratna Sulistyowati, menjelaskan rencana pengembangan geopark yang diproyeksikan menjadi penggerak ekonomi baru sekaligus upaya pelestarian lingkungan di Trenggalek.
Kepala BPPRIN Kabupaten Trenggalek, Ratna Sulistyowati, menjelaskan rencana pengembangan geopark yang diproyeksikan menjadi penggerak ekonomi baru sekaligus upaya pelestarian lingkungan di Trenggalek.

TRENGGALEK (Lentera) – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Trenggalek terus berupaya meningkatkan pendapatan daerah, sekakigus mengembangkan sektor pariwisata.

Salah satu langkah yang kini disiapkan, adalah pengembangan kawasan geopark yang diharapkan mampu menjadi magnet wisata baru, membuka peluang ekonomi masyarakat, hingga mengantarkan Trenggalek meraih pengakuan UNESCO.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah (BPPRIN) Trenggalek, Ratna Sulistyowati mengatakan daerahnya memiliki modal kuat untuk mengembangkan geopark karena didukung kekayaan alam, budaya, dan geologi yang saling melengkapi.

"Konsep geopark menggabungkan warisan geologi, kekayaan alam, dan budaya dalam satu kawasan yang dikelola secara terpadu. Trenggalek memiliki seluruh unsur tersebut sehingga peluang untuk dikembangkan sangat terbuka," ujarnya, Jumat (5/6/2026).

Menurut Ratna, keberhasilan sejumlah daerah dalam mengelola geopark menjadi bukti bahwa sektor tersebut mampu memberikan dampak ekonomi yang nyata. Salah satu contohnya adalah Kebumen yang kini dikenal luas setelah memperoleh pengakuan UNESCO.

Ia menjelaskan, integrasi antara wisata alam, budaya, dan geologi terbukti mampu meningkatkan kunjungan wisatawan secara signifikan.

"Pengalaman di Kebumen menunjukkan bahwa pengemasan potensi geologi bersama budaya dan alam mampu menarik ratusan wisatawan setiap hari. Ini menjadi contoh yang bisa dipelajari Trenggalek," katanya.

Saat ini, Pemkab Trenggalek mulai menyusun berbagai data pendukung dan kajian sebagai dasar pengajuan geopark. Proses tersebut mendapat dukungan dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Ratna menegaskan, pengembangan geopark bukan sekadar rencana di atas kertas, melainkan program yang sedang berjalan dan mendapat pendampingan dari pemerintah pusat.

"Prosesnya sudah berlangsung dan mendapat dukungan BRIN, baik dalam penyusunan kajian maupun aspek pendanaan. Jadi ini bukan sekadar gagasan, tetapi program yang sedang kami kerjakan," tegasnya.

Ia menambahkan, potensi yang akan menjadi bagian dari geopark tersebar di berbagai sektor. Dari sisi budaya terdapat kesenian Turonggo Yakso, tradisi Ngetung Batih, hingga Kupatan Durenan. Sementara dari sektor alam terdapat komoditas unggulan dan sejumlah destinasi wisata yang sudah dikenal masyarakat.

Selain wisata bawah laut dan kawasan pegunungan, Trenggalek juga memiliki sejumlah gua yang dinilai layak menjadi daya tarik geopark.

"Objek seperti Goa Lowo, Gunung Linggo, maupun Gua Ngerit memiliki nilai yang besar untuk dikembangkan. Potensinya sudah ada, tinggal bagaimana pengelolaannya bisa lebih maksimal," ujarnya.

Program geopark telah masuk dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Trenggalek hingga 2029. Tahun ini pemerintah daerah fokus menyelesaikan pengumpulan data dan kajian sebagai syarat pengajuan Geopark Nasional.

"Karena sudah masuk dalam RPJMD, program ini memiliki dasar perencanaan yang jelas dan menjadi bagian dari agenda pembangunan daerah ke depan," jelas Ratna.

Di sisi lain, kajian geopark juga dinilai penting untuk memperkuat perlindungan kawasan kars yang selama ini menjadi sumber cadangan air bagi masyarakat. Berdasarkan hasil identifikasi BRIN, sebagian besar wilayah yang memiliki potensi tambang berada di kawasan tersebut.

"Hasil identifikasi menunjukkan banyak titik yang dikaitkan dengan potensi tambang justru berada di area kars yang memiliki fungsi penting sebagai penyimpan air," ungkapnya.

Ratna mengingatkan bahwa aktivitas pertambangan di kawasan kars berisiko menimbulkan kerusakan lingkungan dan mengganggu ketersediaan air bersih dalam jangka panjang.

"Jika kawasan itu dieksploitasi, dampaknya bisa sangat besar terhadap sumber air. Kondisi sekarang saja beberapa wilayah sudah mengalami kekeringan, sehingga aspek lingkungan harus menjadi pertimbangan utama," pungkasnya.

 

Reporter: Herlambang/Editor: Ais

Share:
Lenterasemarang.com.
Lenterasemarang.com.