24 May 2026

Get In Touch

Unusa Gandeng KCGI Jepang, Siapkan Transformasi Pendidikan Tinggi Berbasis AI

Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) menjalin kerja sama internasional dengan Kyoto Computer Gakuin (KCGI) Jepang untuk mengembangkan pemanfaatan Artificial Intelligence (AI).
Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) menjalin kerja sama internasional dengan Kyoto Computer Gakuin (KCGI) Jepang untuk mengembangkan pemanfaatan Artificial Intelligence (AI).

SURABAYA (Lentera) - Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) menjalin kerja sama internasional dengan Kyoto Computer Gakuin (KCGI) Jepang untuk mengembangkan pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) dalam transformasi pendidikan tinggi.

Kolaborasi tersebut membuka peluang pengembangan riset, pertukaran akademik, hingga sistem pembelajaran berbasis teknologi digital.

Penjajakan kerja sama itu mengemuka dalam kegiatan kuliah tamu (guest lecture) bertema AI Architecture in Higher Education yang disampaikan Prof. Ananda Nepal di Auditorium Unusa lantai 9, Senin (18/5/2026).

Dalam pemaparannya, perwakilan KCGI, Prof. Ananda Nepal mengatakan perkembangan AI mulai mengubah sistem pendidikan tinggi di berbagai negara, termasuk dalam mekanisme pengakuan kredit akademik melalui pembelajaran mandiri berbasis sertifikat digital atau independent study.

Menurutnya, mahasiswa saat ini dapat memperoleh kompetensi dari berbagai platform pembelajaran global seperti Coursera, edX, maupun pelatihan profesional industri.

"Sertifikat digital tersebut nantinya dapat diverifikasi menggunakan sistem berbasis AI untuk memastikan keaslian dokumen, kesesuaian materi, serta relevansinya dengan capaian pembelajaran di perguruan tinggi," ujarnya.

Ia menjelaskan, proses verifikasi awal dilakukan oleh sistem AI, namun keputusan akhir tetap berada di tangan fakultas dan dosen sebelum kredit akademik atau SKS diberikan kepada mahasiswa.

"Universitas tidak lagi menjadi satu-satunya tempat mahasiswa mendapatkan kredit akademik, tetapi menjadi lembaga yang mengakui kompetensi dari berbagai sumber pembelajaran," jelasnya.

Selain sistem pengakuan kredit, Prof. Ananda Nepal juga memaparkan pemanfaatan AI dalam mengubah aktivitas akademik menjadi media publik berbasis digital. Aktivitas seperti kuliah, seminar, praktikum, hingga proyek mahasiswa dapat direkam dan diolah menjadi berbagai bentuk konten edukatif.

Data pembelajaran berupa video, audio, maupun transkrip, lanjutnya, dapat diproses menggunakan AI untuk menghasilkan ringkasan materi, penerjemahan multibahasa, hingga pengelompokan informasi agar lebih mudah diakses masyarakat.

"Hasilnya dapat dipublikasikan dalam bentuk podcast, video edukasi, maupun micro-credentials yang dapat dimanfaatkan lebih luas," katanya.

Konsep tersebut dinilai mampu mendorong perguruan tinggi menjadi pusat distribusi pengetahuan digital, tidak hanya sebagai tempat pembelajaran formal di ruang kelas.

Dalam sesi diskusi, Prof. Ananda Nepal juga menawarkan sejumlah peluang kolaborasi antara KCGI dan Unusa, mulai dari pertukaran mahasiswa dan dosen, student and staff inbound, joint courses, hingga kolaborasi riset di bidang teknologi dan AI.

"Dalam hal ini kita bisa menentukan bidang kolaborasi yang dapat dikembangkan bersama," ujarnya.

Sementara itu, Wakil Rektor III Unusa Prof. Bambang Sektiari Lukiswanto menyambut positif peluang kerja sama tersebut. Ia mengatakan kolaborasi internasional perlu diarahkan pada implementasi nyata yang memberikan manfaat langsung bagi sivitas akademika.

Menurutnya, kerja sama dengan KCGI Jepang diharapkan dapat membuka peluang lebih luas bagi mahasiswa dan dosen Unusa untuk memperdalam bidang AI sekaligus memperkuat kompetensi global di era transformasi digital.

"Langkah ini juga menjadi bagian dari komitmen Unusa dalam mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya poin ke-17 tentang penguatan kemitraan untuk mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan," tutupnya.

Reporter: Amanah

Share:
Lenterasemarang.com.
Lenterasemarang.com.