SEMARANG (Lentera) - Bencana banjir yang melanda sejumlah wilayah di Kota Semarang, Jawa Tengah, pada Jumat malam (15/5/2026), menelan dua korban jiwa. Seorang perempuan muda berusia 22 tahun dan seorang lansia 71 tahun ditemukan meninggal dunia setelah terseret arus banjir yang dipicu luapan Sungai Plumbon dan Sungai Silandak.
"Dari hasil pendataan sementara terdapat sejumlah titik banjir akibat luapan Sungai Plumbon dan Sungai Silandak, kerusakan infrastruktur, serta dua korban jiwa akibat terseret arus banjir," ujar Kasi Humas Polrestabes Semarang, Kompol Riki Fahmi Mubarok, dalam keterangan tertulis, melansir Kompas, Sabtu (16/5/2026).
Korban pertama, Kurnia SM (22), warga Kelurahan Purwosari, Kecamatan Semarang Utara. Perempuan tersebut ditemukan meninggal dunia pada Jumat sekitar pukul 19.30 WIB di belakang rumah warga di Jalan Sriyatno, RT 02 RW 04, Kelurahan Purwoyoso, Kecamatan Ngaliyan.
Menurut hasil pendalaman petugas, Kurnia saat itu sedang dalam perjalanan menuju tempat kerjanya di kawasan industri Candi, Kecamatan Ngaliyan, ketika diduga terseret derasnya arus banjir.
Korban kedua, yakni Maryam (71), warga Kelurahan Mangkang Kulon, Kecamatan Tugu. Lansia yang akrab disapa Mbah Maryam itu dilaporkan hanyut saat tanggul Sungai Plumbon jebol sepanjang kurang lebih 48 meter.
Tim gabungan dari TNI, Polri, Basarnas, PMI, BPBD, dan relawan melakukan pencarian sepanjang malam. Jasad Maryam akhirnya ditemukan pada Sabtu (16/5/2026) sekitar pukul 07.00 WIB.
Di Kecamatan Tugu, jebolnya tanggul Sungai Plumbon menyebabkan banjir besar yang merendam permukiman warga di Kelurahan Mangkang Kulon.
Sementara itu, di Kelurahan Wonosari, banjir merendam Perumahan Mangkang Indah di RW 01, RW 02, dan RW 03 dengan ketinggian air berkisar antara 10 hingga 60 sentimeter.
Wilayah Kecamatan Ngaliyan menjadi salah satu kawasan terdampak paling parah. Cuaca ekstrem mengakibatkan sepeda motor hanyut di kawasan industri Candi, baliho puskesmas roboh dan menimpa kendaraan, talud lapangan ambrol, serta tebing longsor di Jalan Panembahan Senopati.
Kerusakan juga terjadi di MI Baitul Huda setelah atap sekolah rusak diterjang angin kencang. Selain itu, banjir melanda Kampung Klampisan dan memicu longsor di sejumlah titik talud sungai dan badan jalan.
Di Kelurahan Purwoyoso, luapan Sungai Silandak merendam permukiman warga dan menyeret beberapa sepeda motor milik warga.
Kondisi serupa terjadi di Kecamatan Semarang Barat. Luapan Sungai Silandak menyebabkan dua titik tanggul jebol di Kelurahan Kembangarum, merendam rumah warga, dan memaksa puluhan warga mengungsi ke posko darurat.
Sejumlah wilayah lain seperti Kalibanteng Kulon dan Krapyak juga terdampak banjir akibat tingginya intensitas hujan.
Polrestabes Semarang mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem susulan yang masih berpotensi terjadi.
"Kami mengimbau masyarakat tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem susulan dan segera melapor apabila membutuhkan bantuan kepolisian," pungkas Riki.
Editor: Santi





.jpg)
