20 May 2026

Get In Touch

Rumah Bersejarah Peninggalan Pahlawan Nasional dr Sardjito di Yogyalarta Dijual

Rumah pahlawan nasional dr Sardjito di Yogyakarta yang ditawarkan untuk dijual oleh ahli warisnya. (foto:ist/dok.Kompas.com)
Rumah pahlawan nasional dr Sardjito di Yogyakarta yang ditawarkan untuk dijual oleh ahli warisnya. (foto:ist/dok.Kompas.com)

YOGYAKARTA (Lentera) - Rumah peninggalan Pahlawan Nasional sekaligus Rektor pertama Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof dr Sardjito yang terletak di Jalan Cik Di Tiro Nomor 16, Terban, Kota Yogyakarta resmi ditawarkan untuk dijual. 

Kabar ini mencuat, setelah video iklan penjualan rumah dengan luas lahan lebih dari 1.000 meter persegi tersebut, beredar luas di media sosial. 

Pengurus sekaligus penjaga rumah tersebut, Budhi Santoso yang sudah menempatinya sejak tahun 1980, mengonfirmasi bahwa keputusan untuk melepas aset bersejarah ini telah disepakati oleh para ahli waris. 

Langkah ini diambil untuk menghindari potensi perpecahan keluarga, terkait pengelolaan warisan di masa depan. 

"Dengan berat hati saya sampaikan kepada para ahli waris, dan mereka setuju kalau ini dilepas. Saya berharap yang membeli adalah orang terbaik," ujar Budhi saat ditemui di lokasi, Rabu (13/5/2026) mengutip Kompas.com, Kamis (14/5/2026).

Rumah bergaya klasik dengan atap segitiga runcing ini, menyimpan nilai historis yang tinggi. Selain menjadi hunian pribadi dr. Sardjito, bangunan ini dulunya sering menjadi lokasi diskusi kebangsaan oleh tokoh-tokoh politik nasional. 

Bahkan, rumah ini pernah menjadi tempat pelestarian jamu, termasuk obat peluruh batu urin yang dikembangkan dr. Sardjito. Hingga saat ini, kondisi fisik bangunan masih sangat terawat dengan lantai ubin merah yang mengkilap, dan nuansa lawas yang tetap dipertahankan. 

Budhi menaruh harapan besar, agar rumah ini jatuh ke tangan institusi yang bisa menjaga nilai sejarahnya, seperti UGM atau Universitas Islam Indonesia (UII). Ia membayangkan, rumah tersebut bisa difungsikan kembali sebagai rumah dinas rektor, museum, atau fasilitas pelayanan masyarakat seperti Puskesmas. 

"Itu kan masih selaras dengan semangat dr. Sardjito. Rektor UGM juga sudah sempat berkunjung ke sini," imbuhnya. 

Ia mengaku, merasa berat hati jika nantinya rumah penuh kenangan ini berubah fungsi menjadi tempat komersial yang jauh dari nilai aslinya. 

"Kalau dibeli oleh siapa pun lalu dipakai untuk kafe, saya susah menerima, rasanya mengelus dada. Saya lebih rela jika tetap digunakan sebagai hunian atau fungsi sosial," ungkap Budhi. 

Sejauh ini, Budhi telah menawarkan properti tersebut kepada sekitar 10 pihak, termasuk beberapa tokoh di Yogyakarta. Namun, terkait harga jual, ia enggan membeberkannya karena merupakan privasi pihak ahli waris pungkasnya.

 

 

Editor: Arief Sukaputra

 

 

Share:
Lenterasemarang.com.
Lenterasemarang.com.