07 May 2026

Get In Touch

Bunuh Diri Meningkat, Psikolog Universitas Ciputra: Pemerintah Perlu Kampanye Mental Health

Ilustrasi depresi. (Pixabay)
Ilustrasi depresi. (Pixabay)

SURABAYA (Lentera) -Meningkatnya kasus bunuh diri di ruang publik menjadi tanda perlunya penguatan edukasi kesehatan mental secara lebih masif dan mudah diakses masyarakat.

Psikolog Universitas Ciputra (UC) Surabaya, Stefani Virlia, menilai pemerintah perlu menghadirkan kampanye kesehatan mental di ruang-ruang publik agar masyarakat mengetahui akses bantuan psikologis sejak dini.

Head of Professional Psychologist Education Universitas Ciputra itu mengatakan, individu yang mengalami tekanan berat sering kali berada dalam kondisi mental yang rapuh dan membutuhkan dukungan cepat. Namun, menurutnya, ruang publik saat ini justru lebih banyak dipenuhi pesan komersial dibanding informasi edukatif terkait kesehatan mental.

“Di jalan-jalan lebih banyak iklan komersial seperti kosmetik. Padahal di halte, stasiun, atau tempat orang menunggu bisa dipasang informasi tentang layanan konseling atau nomor bantuan psikologis,” ujar Stefani, Kamis (7/5/2026).

Ia menjelaskan, akses informasi yang mudah di ruang publik dapat membantu masyarakat yang sedang mengalami depresi, kecemasan, maupun tekanan emosional agar tidak merasa sendirian. Menurutnya, edukasi sederhana mengenai tempat mencari bantuan profesional dapat menjadi langkah preventif untuk menekan risiko tindakan fatal.

Selain faktor tekanan hidup, Stefani juga menyoroti pengaruh media sosial yang membuat seseorang rentan terpapar informasi negatif tanpa filter. "Kondisi tersebut, jika tidak diimbangi kemampuan mengelola emosi dan dukungan sosial yang baik, dapat memperburuk kesehatan mental seseorang," jelasnya.

Stefani menilai stigma terhadap gangguan kesehatan mental juga masih menjadi tantangan besar di Indonesia. Banyak orang enggan mencari bantuan karena takut dianggap lemah atau mendapat label negatif dari lingkungan sekitar.

“Kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Hanya saja karena tidak terlihat, sering kali diabaikan. Padahal edukasi di tingkat komunitas penting untuk membangun empati dan mengurangi stigma,” tambahnya.

Ia juga mendorong pemerintah memperkuat pendidikan kesehatan mental di sekolah. Menurutnya, pembelajaran mengenai regulasi emosi, kemampuan menghadapi tekanan, hingga penguatan karakter perlu diberikan sejak usia dini, tidak hanya fokus pada capaian akademik.

“Kemampuan bertahan hidup bukan hanya soal keterampilan akademik, tetapi juga kemampuan mengelola stres dan memahami diri sendiri. Pendidikan seperti ini perlu dipupuk sejak kecil,” jelasnya.

Sebagai bentuk implementasi edukasi kesehatan mental, Universitas Ciputra telah memanfaatkan berbagai sudut kampus seperti lift dan toilet sebagai media penyampaian pesan-pesan psikologis dan informasi bantuan konseling bagi mahasiswa.

Stefani berharap langkah sederhana tersebut dapat menginspirasi pemerintah daerah maupun pengelola fasilitas umum untuk menjadikan ruang publik sebagai sarana edukasi kesehatan mental yang lebih inklusif dan mudah dijangkau masyarakat.

Reporter: Amanah|Editor: Arifin BH

Share:
Lenterasemarang.com.
Lenterasemarang.com.