28 April 2026

Get In Touch

Pemerintah Kaji Pemberian Subsidi untuk Industri Plastik

Wakil Menteri Perdagangan, Dyah Roro Esti Widya Putri. (foto: Kemendag)
Wakil Menteri Perdagangan, Dyah Roro Esti Widya Putri. (foto: Kemendag)

SURABAYA (Lentera) - Pemerintah tengah mengkaji opsi pemberian subsidi bagi industri plastik nasional di tengah tekanan harga bahan baku global yang kian fluktuatif.

Wakil Menteri Perdagangan, Dyah Roro Esti Widya Putri, menyatakan kajian tersebut tengah dibahas lintas kementerian, khususnya bersama Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, guna merumuskan kebijakan yang tepat sasaran.

"Untuk harga plastik, insya Allah kita berupaya mencarikan solusi, karena pada prinsipnya harga plastik sangat tergantung bahan nafta yang mempengaruhi biaya produksi," ujar Roro, ditemui di Universitas Airlangga (Unair), melansir Antara, Selasa (28/4/2026).

Dijelaskannya, ketergantungan industri plastik terhadap bahan baku berbasis nafta membuat sektor ini sangat rentan terhadap gejolak harga minyak dan dinamika geopolitik global.

Karena itu, opsi subsidi dinilai dapat menjadi solusi jangka pendek untuk meredam lonjakan harga sekaligus menjaga keberlangsungan pelaku industri plastik, khususnya di sektor hilir yang bersentuhan langsung dengan kebutuhan masyarakat.

"Ini sedang kita bahas bersama Menko Perekonomian. Harapannya kebijakan ini bisa memberikan dampak positif terhadap harga secara keseluruhan," katanya.

Selain langkah jangka pendek, pemerintah juga menyiapkan strategi jangka panjang dengan mencari sumber alternatif bahan baku nafta yang lebih stabil dan tidak terlalu terpengaruh kondisi global.

Roro menegaskan, diversifikasi sumber bahan baku menjadi kunci agar industri plastik Indonesia tidak mudah tertekan oleh fluktuasi harga internasional. Dengan pasokan yang lebih terjamin, industri diharapkan mampu menjaga daya saing di pasar domestik maupun ekspor.

Di sisi lain, pemerintah juga mendorong penguatan sektor kewirausahaan sebagai penopang ekonomi nasional. Kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dan asosiasi usaha dinilai krusial dalam menciptakan ekosistem bisnis yang berkelanjutan.

Menurutnya, kontribusi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) mencapai sekitar 60 persen. Angka tersebut menunjukkan peran vital UMKM dalam menjaga pertumbuhan ekonomi nasional.

Melalui program "Campus Preneur", Kementerian Perdagangan berupaya meningkatkan literasi kewirausahaan di kalangan mahasiswa sekaligus membuka akses pasar yang lebih luas, baik di dalam negeri maupun internasional.

"Untuk pasar luar negeri, kita punya fasilitas melalui Atase Perdagangan dan Indonesia Trade Promotion Center untuk membantu memasarkan produk," katanya.

Editor: Santi

Share:
Lenterasemarang.com.
Lenterasemarang.com.