TEHERAN (Lentera) -Ketua parlemen dan negosiator utama Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf mengatakan, Teheran hingga kini tidak mempercayai Amerika Serikat, meski kedua negara sedang bernegosiasi.
Karena itu, ia menyatakan bahwa militer Iran tetap dalam kesiapan perang penuh karena pertempuran dapat dimulai kembali kapan saja.
“Kami tidak mempercayai musuh. Bahkan saat ini, sementara kita duduk di sini, perang dapat dimulai, angkatan bersenjata sepenuhnya siap di medan perang,” katanya dalam pidato yang disiarkan di televisi pemerintah Iran pada Minggu (19/4/2026), dikutip dari The Wall Street Journal.
"Meskipun terlibat dalam negosiasi aktif dengan AS untuk mencapai gencatan senjata permanen, Iran sepenuhnya siap untuk merespons kapan saja jika musuh melakukan kesalahan,” sambungnya.
Masih ada kesenjangan besar dengan AS
Menurutnya, Iran dan AS telah mencapai kemajuan dalam negosiasi kesepakatan perdamaian, tetapi masih ada jarak yang signifikan antara kedua negara.
Dalam pidato, Ghalibaf menuturkan, poin-poin penting lainnya masih belum terselesaikan.
"Presiden Donald Trump meminta gencatan senjata karena Iran unggul di medan perang dan jaminan harus diberikan bahwa perang tidak akan terjadi lagi," ujarnya.
“Kita belum menghancurkan musuh, mereka masih memiliki uang dan senjata, tetapi secara strategis, mereka telah dikalahkan dibandingkan dengan kita,” tambahnya, dilansir Kompas.
Trump enggan perpanjang gencatan senjata
Diketahui, AS dan Iran telah menyepakati gencatan senjata selama dua pekan terhitung sejak Rabu (8/4/2026) pekan lalu.
Namun, Trump menyatakan kemungkinan tidak akan memperpanjang masa gencatan senjata jika kesepakatan damai dengan Iran tidak segera tercapai hingga Rabu (22/4/2026).
Pernyataan ini disampaikannya kepada awak media di dalam pesawat kepresidenan AS, Air Force One, dalam perjalanan kembali menuju Washington dari Phoenix, Arizona, Jumat (17/4/2026).
"Mungkin saya tidak akan memperpanjangnya (gencatan senjata), tetapi blokade (di pelabuhan Iran) akan tetap ada," tutur Trump, seperti dilansir dari Reuters.
Lebih lanjut, Trump mengungkapkan konsekuensi serius apabila kesepakatan antara kedua belah pihak gagal menemui titik terang.
Dia mengisyaratkan bahwa AS siap untuk kembali melakukan serangan militer secara terbuka.
"Jadi, Anda tetap menghadapi blokade, dan sayangnya kita harus mulai menjatuhkan bom lagi," kata Trump (*)
Editor: Arifin BH





.jpg)
