03 April 2026

Get In Touch

Demam Labubu Mereda, Saham Pop Mart Ambruk lebih dari 30%

Boneka Labubu yang sempat mendunia beberapa waktu lalu. (REUTERS)
Boneka Labubu yang sempat mendunia beberapa waktu lalu. (REUTERS)

JAKARTA (Lentera) - Demam karakter Labubu yang sebelumnya mendunia kini mulai mereda dan berimbas langsung pada kinerja saham Pop Mart International Group Ltd.., yang ambruk lebih dari 30 persen.

Melansir dari Bloomberg, penurunan tajam tersebut memperpanjang tren negatif sejak Agustus lalu. Dari posisi puncaknya, saham Pop Mart kini telah terkoreksi hampir 60 persen, menghapus sekitar US$33 miliar dari kapitalisasi pasar perusahaan.

Perubahan sentimen pasar terjadi cepat. Sejumlah analis mulai menurunkan rekomendasi saham, sementara investor institusi meningkatkan posisi short, mencerminkan pandangan bearish terhadap prospek jangka panjang perusahaan.

Analis konsumen Deutsche Bank AG, Sammi Xu, bahkan menurunkan peringkat saham Pop Mart menjadi "jual". Ia menilai pasar belum sepenuhnya memperhitungkan potensi penurunan margin dalam jangka panjang.

Menurut Xu, tekanan terhadap kinerja perusahaan datang dari melemahnya penjualan di pasar domestik China maupun internasional, tingginya tingkat persediaan, serta revisi turun terhadap proyeksi laba yang terus berlanjut.

Fenomena Labubu sendiri sempat menjadi pendorong utama pertumbuhan. Karakter boneka tersebut melonjak popularitasnya secara global sepanjang tahun lalu, bahkan menjadi salah satu contoh keberhasilan soft power China di pasar Barat.

Lonjakan permintaan itu sempat mendorong saham Pop Mart naik hingga sekitar 300 persen sejak awal 2025, sebelum akhirnya mencapai rekor tertinggi pada Agustus.

Namun, euforia tersebut mulai memudar. Kekhawatiran tren Labubu hanya bersifat sementara kini menjadi beban utama bagi pergerakan saham perusahaan.

Data menunjukkan, seri Monsters yang dipimpin Labubu, menyumbang sekitar 40 persen dari total pendapatan tahun lalu. Angka ini meningkat signifikan dari 23 persen pada 2024, menandakan ketergantungan yang semakin besar.

Di sisi lain, karakter lain seperti Crybaby dan Molly justru mencatat penjualan di bawah ekspektasi, memperkuat keraguan terhadap kemampuan diversifikasi produk Pop Mart.

Persoalan lain muncul dari sisi operasional. Perputaran persediaan perusahaan meningkat 21 persen menjadi 123 hari hingga akhir 2025. Kondisi ini dipengaruhi oleh waktu pengiriman yang lebih lama, ekspansi pasar luar negeri, serta penambahan jaringan toko.

Upaya perusahaan menahan penurunan melalui aksi buyback juga belum mampu membalikkan sentimen. Sejak 25 Maret, Pop Mart tercatat telah membeli kembali saham senilai sekitar HK$1,3 miliar.

Meski demikian, saham perusahaan kini diperdagangkan pada level terendah sepanjang masa, dengan valuasi sekitar 10,3 kali proyeksi laba, jauh di bawah rata-rata tiga tahun sebesar 24 kali.

Manajer dana Sparx Group Co., Angus Lee, menilai rendahnya valuasi belum cukup menarik minat investor.

Menurutnya, daya tarik utama Pop Mart selama ini terletak pada narasi pertumbuhan berbasis karakter ikonik seperti Labubu. Namun, ketidakpastian terkait keberlanjutan tren tersebut membuat investor mulai menarik diri.

"Untuk menarik kembali minat investor, Pop Mart perlu menunjukkan bahwa mereka mampu mempertahankan popularitas IP andalannya, mulai dari Labubu hingga Molly, sekaligus membuktikan kemampuan menghadirkan karakter blockbuster berikutnya," kata Lee.

Namun saat ini, Lee bahkan mengaku telah melepas seluruh kepemilikan sahamnya setelah laporan kinerja terbaru dirilis, meski sebelumnya sempat mengakumulasi sejak awal tahun lalu.

Sementara itu, pihak Pop Mart belum memberikan tanggapan resmi. Juru bicara perusahaan menolak berkomentar terkait kondisi tersebut.

Editor:Santi

Share:
Lenterasemarang.com.
Lenterasemarang.com.