30 March 2026

Get In Touch

MBG dan KMP

Koperasi Merah Putih di Kantor Desa Segaran, Trowulan, Selasa (6/1/2026) -Foto: DokPri
Koperasi Merah Putih di Kantor Desa Segaran, Trowulan, Selasa (6/1/2026) -Foto: DokPri

OPINI (Lentera) -MBG untuk pelajar dan KMP (Koperasi Merah Putih) untuk di Desa adalah program populis mungkin lahir dari niat baik: membantu masyarakat, memperkuat ekonomi rakyat, serta merespons kebutuhan mendesak untuk mengatasi persoalan gizi. 

Namun, dalam kebijakan publik, niat baik dan semangat saja tidak cukup. Terlebih ketika menggunakan uang rakyat dalam jumlah yang sangat besar. 

Kebijakan yang bertumpu pada insting dan dorongan populis pemegang otoritas berisiko gagal ketika berhadapan dengan kompleksitas implementasi di lapangan.

Setidaknya terdapat tiga kelompok variabel penting yang perlu dipertimbangkan secara serius 
(lihat Scaling Up Development Impact oleh Isabel Guerrero dkk., 2010)

Pertama, akseptabilitas politik. 

Sebuah program harus dapat diterima oleh berbagai pemangku kepentingan, baik aktor negara maupun non-negara, serta yang paling penting masyarakat luas. Tanpa dukungan politik yang memadai, kebijakan berpotensi terhambat, dipolitisasi, atau bahkan dihentikan sebelum mencapai tujuannya.

Kedua, kualitas teknis. 

Aspek ini mencakup bagaimana kebijakan dirancang: apakah berbasis data dan bukti yang kuat (rigorously evidence-based), memiliki tujuan yang jelas, serta tahapan implementasi yang realistis. Banyak program gagal karena desainnya lemah, tidak teruji, atau diluncurkan secara terburu-buru tanpa uji coba yang memadai.

Ketiga, kelayakan administratif. 

Aspek ini kerap diabaikan, padahal sangat krusial. Ketersediaan sumber daya manusia, kapasitas kelembagaan dan birokrasi, serta ruang fiskal menentukan apakah program dapat dijalankan secara konsisten dan berkelanjutan. Tanpa dukungan administratif yang kuat, program berisiko menjadi sekadar proyek “jangka pendek” dan berantakan di tengah jalan.

Pada akhirnya, kebijakan publik atau program pembangunan yang baik bukan hanya tentang apa yang ingin dicapai, tetapi yang lebih penting, bagaimana cara mencapainya. 

Niat baik harus diiringi analisis yang matang, perencanaan yang terukur, serta kesiapan implementasi. Tanpa itu, program populis berisiko menjadi sekadar simbol, atau bahkan berubah menjadi masalah baru.

Dan faktanya karena abai dengan tiga aspek tersebut, Makan Bergizi Gratis sejak awal sampai kini masalah yang timbul silih berganti. Dari berbagai daerah. Entah karena menu tak bergizi hingga basi hingga tak layak dikonsumsi.

Begitu pula KMP yang tidak jelas programnya, justru diawali dengan membeli mobil pickup buatan India (*)

Penulis: Ferry Is Mirza narsum Syebu dari Aceh|Editor: Arifin BH

 

 

Share:

Punya insight tentang peristiwa terkini?

Jadikan tulisan Anda inspirasi untuk yang lain!
Klik disini untuk memulai!

Mulai Menulis
Lenterasemarang.com.
Lenterasemarang.com.