10 March 2026

Get In Touch

Dinamis, Bumi Pernah Berubah dari Panas Tropis Jadi Bersalju

Dinamis, Bumi Pernah Berubah dari Panas Tropis Jadi Bersalju

SURABAYA ( LENTERA ) - Sekitar 66 juta tahun lalu, bumi mengalami perubahan besar yang mengubah wajah planet ini. Bumi yang kini dikenal dengan iklim tropis dan beragam zona iklim tidak selalu demikian sepanjang sejarahnya. Ahli geologi dan klimatologi menyatakan miliar tahun lalu, planet ini pernah mengalami kondisi ekstrem berupa “Snowball Earth”. Suatu keadaan saat permukaan Bumi hampir seluruhnya tertutup es dan salju. Fenomena perubahan iklim besar ini terjadi beberapa kali dan memberikan bukti bahwa sistem iklim Bumi sangat dinamis dan dipengaruhi oleh berbagai faktor alamiah. 

Menurut hypothesis ilmiah, perubahan dari bumi panas tropis menuju dunia beku disebabkan oleh kombinasi penurunan konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer dan umpan balik albedo es. Ketika konsentrasi gas seperti karbon dioksida (CO₂) dan metana (CH₄) menurun secara drastis, kemampuan atmosfer untuk menahan panas berkurang sehingga suhu permukaan turun secara signifikan. Hal ini memicu pertumbuhan es di kutub hingga meluas ke lintang yang lebih rendah. Es dan salju memiliki albedo yang tinggi. Kemampuan merefleksikan cahaya matahari, sehingga energi matahari yang masuk dipantulkan kembali, mendorong pendinginan lebih lanjut dan proses ini menjadi umpan balik yang mempercepat pembekuan. 

Periode glasial ekstrem ini diperkirakan terjadi terutama selama era Neoproterozoic, antara sekitar 720 hingga 635 juta tahun yang lalu. Dua episode paling dikenal adalah Sturtian dan Marinoan glaciations, yang merupakan bagian dari rentetan peristiwa pendinginan global yang membawa Bumi hampir mencapai kondisi es total hingga ke garis khatulistiwa. 

Selama periode ini, bukti geologis berupa lapisan sedimen glasial ditemukan di berbagai belahan dunia termasuk di kawasan yang kini berada dekat garis ekuator. Temuan tersebut menunjukkan bahwa gletser dan es telah mencapai wilayah tropis, suatu indikasi kuat bahwa Bumi pernah menghadapi kondisi iklim yang sangat beku yang tidak lagi terjadi selama ratusan juta tahun terakhir. 

Para ilmuwan mendalilkan bahwa ada beberapa mekanisme yang bekerja secara simultan untuk menciptakan kondisi Snowball Earth. Salah satu faktor utama adalah penurunan gas rumah kaca akibat proses kimiawi seperti chemical weathering, reaksi antara hujan dan batuan silikat di permukaan bumi yang menyerap CO₂ dari atmosfer. Tanpa aktivitas biologis seperti vegetasi yang kini melapisi permukaan bumi, proses tersebut berjalan lebih intens di masa purba, menyerap lebih banyak CO₂ dan mempercepat pendinginan global. 

Selain itu, konfigurasi kontinen pada masa itu berbeda dari sekarang. Kontinen yang terletak dekat ekuator dan tersebar luas mempengaruhi pola angin, arus laut, dan sirkulasi iklim global sehingga menciptakan kondisi yang mendukung pertumbuhan es secara masif. Ketika es mulai meluas, refleksi cahaya matahari meningkat, memperkuat efek pendinginan dan memungkinkan lapisan es berkembang lebih cepat. 

Meskipun Bumi pernah hampir beku secara global, keadaan itu tidak permanen. Ketika aktivitas vulkanik terus memasukkan CO₂ ke atmosfer di bawah permukaan es, gas rumah kaca mulai terakumulasi kembali. Setelah berada di titik tertentu, pemanasan dari efek rumah kaca memicu pencairan es secara drastis, membuka lautan dan mengakhiri periode Snowball Earth. Proses pencairan ini terjadi sepanjang ribuan hingga jutaan tahun, memungkinkan iklim kembali normal dan kehidupan berkembang kembali. 

Perubahan iklim ekstrem ini juga diduga memiliki dampak besar terhadap evolusi kehidupan di Bumi. Ada bukti yang menunjukkan bahwa setelah periode Snowball Earth yang terakhir, terjadi diversifikasi organisme yang lebih kompleks dalam catatan fosil. Sebuah fase yang bertindak sebagai pembuka jalan bagi ledakan evolusi kehidupan multiseluler. (Ilma – Mahasiswa UINSA Berkontribusi dalam tulisan ini)

Share:
Lenterasemarang.com.
Lenterasemarang.com.