SURABAYA (Lentera) - Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) nilai tukar petani (NTP) di Jatim pada Februari 2026 meningkat 5,46 persen, dari 113,71 menjadi 119,92. NTP di Jatim ini menjadi tertinggi di pulau Jawa.
Statistisi Ahli Madya BPS Jatim, Ike Rahayu Sri, mengatakan indeks harga yang diterima petani (It) naik sebesar 6,37 persen, sedangkan indeks harga yang dibayar petani (Ib) hanya mengalami peningkatan sebesar 0,86 persen.
"Salah satu indikator yang digunakan untuk menilai tingkat kemampuan atau daya beli petani di wilayah perdesaan adalah NTP ini," katanya di Surabaya, Jatim, Senin (2/3/2026).
Jika dilihat perkembangan masing-masing subsektor pada Februari 2026, terdapat dua subsektor yang mengalami peningkatan dan tiga subsektor yang mengalami penurunan. Subsektor yang mengalami peningkatan NTP tertinggi adalah hortikultura sebesar 43,91 persen dari 133,69 menjadi 192,39.
Selanjutnya, peternakan juga naik 2,37 persen dari 103,54 menjadi 106,00 sedangkan tanaman pangan, tanaman perkebunan rakyat, dan perikanan masing-masing turun sebesar 1,06 persen, 1,08 persen, dan 0,32 persen.
Untuk lt naik sebesar 6,37 persen dibandingkan Januari 2026 yaitu dari 143,81 menjadi 152,97 disebabkan oleh peningkatan indeks harga yang diterima petani di subsektor hortikultura dan peternakan.
Subsektor hortikultura mengalami peningkatan It tertinggi sebesar 45,17 persen diikuti peternakan 2,93 persen dan perikanan 0,28 persen.
Sedangkan untuk penurunan lt terjadi pada subsektor tanaman pangan dan perkebunan rakyat yang mengalami penurunan 0,04 persen dan 0,48 persen.
Sementara itu, sepuluh komoditas utama yang memiliki andil terbesar terhadap penurunan indeks harga yang diterima petani adalah jagung, tomat, wortel, kakao/cokelat biji, kopi, kelapa, jeruk, tebu, tongkol, dan bawang daun.
Sementara, lb naik 0,86 persen dari 126,47 menjadi 127,56, karena indeks konsumsi rumah tangga (KRT) naik 1,29 persen dari 130,45 menjadi 132,13 dan indeks biaya produksi dan penambahan barang modal (BPPBM) naik 0,18 persen dari 121,29 menjadi 121,51.
Sepuluh komoditas utama yang memiliki andil terbesar terhadap penurunan lb adalah bensin, tomat sayur, kelapa tua, wortel, jagung pipilan, bawang putih, rumput segar, bibit kambing, bayam, dan bakalan kambing.
Dari lima provinsi di Jawa yang melakukan penghitungan NTP, seluruhnya mengalami peningkatan NTP dengan tertinggi terjadi di Jawa Timur sebesar 5,46 persen, diikuti DI Yogyakarta 2,22 persen, Jawa Barat 1,40 persen, dan Jawa Tengah 1,24 persen.
Selanjutnya, nilai tukar usaha rumah tangga pertanian (NTUP) pada Februari 2026 naik 6,18 persen karena It naik sebesar 6,37 persen sedangkan indeks BPPBM naik sebesar 0,18 persen.
Peningkatan NTUP tertinggi terjadi pada subsektor hortikultura sebesar 44,35 persen, diikuti peternakan naik 2,86 persen, dan perikanan naik 0,10 persen.
Sedangkan, tanaman pangan turun sebesar 0,20 persen dan perkebunan rakyat turun sebesar 0,53 persen.





.jpg)
