03 February 2026

Get In Touch

Gempa di Pasar Modal

Subakti Sidik, Wartawan Senior
Subakti Sidik, Wartawan Senior

OPINI (Lentera) -Tiba-tiba saja Bursa Efek Indonesia (BEI) terguncang hebat. Sekejap, dana triliunan rupiah terbang ke mancanegara. Pasar modal pun nyaris tak bisa bernafas. Hadew....!!!.

Drama sedih ini berlangsung selama dua hari. Rabu 28 - Kamis 29 Januari 2026. Peristiwa ini benar- benar menyakitkan. 

Bayangkan. Sekitar seminggu sebelumnya, angka IHSG grafiknya terus naik. Ucapan Menkeu Prabowo, bahwa IHSG segera akan tembus 9.000 bukan isapan jempol. 

Seperti sulap. Bim...salabim. Dan, benar2 terjadilah. Sang Purbaya seperti Dewa super sakti. Ramalannya jos. Dunia bisnis saham pun cerah. Seperti langit pagi tanpa segumpal awan. 

Angka 9.000 bukanlah sembarang angka. Ini adalah pencapaian tertinggi sepanjang masa.

Istilah kerennya, "All Time High (ATH)". Sejak berdiri th 2007 hingga kini, baru kali ini terjadi IHSG mencapai angka 9.000.

Namun ketika IHSG nyaris menembus angka 9.100. Tiba- tiba, bak angin bertiup kencang. Mendung di langit pun menebal. Kejadian dimulai  Selasa 27 Januari. 

Grafik mulai menurun tipis. IHSG  ditutup di angka 8.980.  Ya, masih wajarlah. Angka ini masih dianggap perkasa. 

Memasuki Rabu 28 Januari IHSG, di luar dugaan  langsung  ambles hingga 7 persen dalam sehari. Debaran jantung para trader pun berdetak cepat. 

Harga saham-saham yang ramai diperjualbelikanpun turun tajam. Saham - saham idola trader seperti : BUMI, DEWA, longsor. Tak terkecuali saham2 "Blue Chip". Hari itu bursa ditutup di angka 8.320.

Penurunan di titik terendah, terjadi Kamis 29 Januari. Para investor semakin cemas. Mereka tak berkedip, memelototi layar portofolio di handphone. 

Tampak makin deras penurunan harga saham di "Top Frequency". Meluncur seperti air bah. Ngeri Bro.....!!!

Dan puncaknya. Bruk...........!!! IHSG terjun bebas di angka 7.800-an. Angka ini memicu penghentian trading sementara (trading halt). 

Pasar dibuka Jumat 30 Januari. Alhamdulillah.... Secercah harapan muncul. Walaupun kegelisahan belum pulih sepenuhnya. IHSG merangkak naik signifikan. Dan ditutup di angka 8.324. Terjadilah Rebound. 

Mudah2an ini awal yang baik. IHSG akan kembali di angka 9.000. Dan harapan tembus 10.000 tercapai akhir tahun ini. Aamiin....!!!

Gara-gara MSCI 

Apa yang menyebabkan guncangan hebat di pasar modal?

Ternyata pemicunya adalah MSCI. Ya,  Morgan Stanly Capital International. Ini adalah Indeks Saham Global. 

MSCI selama ini menjadi acuan utama para manager investasi dan investor global. Mereka nurut saja, apa yang dikatakan MSCI. 

Dia bilang, BEI bagus, mereka berinvestasi di sini. Sebaliknya, jika tak bagus, investor asing langsung angkat kaki.

Kali ini MSCI mengumumkan membekukan evaluasi saham Indonesia. Ya, hanya sekedar mengumumkan pembekuan evaluasi yang sedang ia lakukan.  

Langkah itu diluar dugaan,  direaksi berlebihan oleh  para manager investasi global yang berinvestasi di BEI. 

Triliunan rupiah pun diangkut ke luar negeri. Investor domestik pun ikut-ikutan. Investor global khawatir, jika setelah evaluasi, lalu ada keputusan: status BEI turun dari "Emerging Market" ke "Frontier Market". 

Jika kasta turun menjadi "Frontier Market", investor global menjadi ogah berinvestasi di BEI. Sebab kelas ini skupnya lebih kecil. Aktivitasnya terbatas. 

BEI diberikan kesempatan hingga Mei 2026. Jika transparansi data kepemilikan saham belum beres. Ada potensi status BEI akan diturunkan menjadi "Frontier Market" selevel Vietnam dan Filipina.

Ini tidak main-main. Ini ultimatum. Perbaikan langsung dilakukan. Langkah awal telah ditempuh. Terjadi perubahan besar dalam lembaga BEI dan OJK (Otoritas Jasa Keuangan).

Telah diputuskan. Februari 2026 nanti "Free Flout" akan dinaikkan dari 7,5% menjadi 15%. "Free Flout" adalah persentase saham perusahaan yang diperdagangkan secara bebas di pasar modal. 

Angka 15 persen itu cukup tinggi dibandingkan Filipina yang 10 persen. Tapi lebih rendah dibanding Amerika dan Jepang yang angkanya 25%.

Dirut BEI Iman Rachman pun telah mengundurkan diri. Atau dipaksa mundur?

Maaf ya. Boleh saja berprasangka? Kita sering "mengampelas bahasa, sehingga jadi lebih halus. Ha...ha....ha...Sensitif ni ye (*)

Oleh: Subakti Sidik, Wartawan Senior|Editor: Arifin BH

Share:

Punya insight tentang peristiwa terkini?

Jadikan tulisan Anda inspirasi untuk yang lain!
Klik disini untuk memulai!

Mulai Menulis
Lenterasemarang.com.
Lenterasemarang.com.