19 January 2026

Get In Touch

Melamun, Seni Berhenti di Dunia yang Terlalu Sibuk

Memberi waktu pada diri sendiri untuk melamun ternyata baik untuk kesehatan mental (Dok.Pri)
Memberi waktu pada diri sendiri untuk melamun ternyata baik untuk kesehatan mental (Dok.Pri)

KOLOM (Lentera) -Selasa (13/1) lalu, di WAG Redaksi Lentera, Pimred kami, Arifin BH berbagi tentang kasil penelitian terbaru yang dipublikasikan The Washington Post Kamis (8/1/2026). Kala itu, beliau mengutip bahwa memberi waktu pada diri sendiri untuk melamun ternyata baik untuk kesehatan mental.

Menurut Profesor Psikologi Universitas Florida Erin Westage, melamun menjadi salah satu jalan menuju kehidupan yang lebih bermakna, demikian kutipnya 

Ngomong-ngomong tentang melamun, saya jadi berpikir bahwa hari-hari ini, tidak melakukan apa-apa memang terasa seperti sebuah pelanggaran moral kecil. Kalau tangan tidak pegang gawai, kita seperti sedang kehilangan identitas. Bahkan ada orang yang saking sibuknya, masih sempat mengabarkan ke media sosial bahwa dia sedang sibuk.

Kita hidup di era di mana melamun dianggap adalah sebuah kesia-siaan.

Padahal, dalam bukunya The Art of Doing Nothing, ada satu gagasan sederhana tapi menenangkan: manusia modern terlalu jarang berhenti. Kita terus bergerak, tetapi makin jarang memberi ruang bagi pikiran untuk sekadar bernapas. 

Sebenarnya, buku ini tidak mengajak kita menjadi pemalas profesional, melainkan mengingatkan bahwa pikiran justru sering bekerja paling jernih saat tidak dipaksa bekerja keras.

Siapa pun yang pernah menemukan ide bagus di kamar mandi, pasti paham alur berpikir ini.

Otak Juga Butuh Waktu “Menganggur”

Dalam dunia komputer, ada yang disebut idle mode: mesin tetap menyala, tetapi tidak sedang menjalankan tugas berat. Anehnya, manusia justru merasa bersalah saat berada di mode ini.

Padahal, ada momen ketika otak sedang tidak mengerjakan apa-apa secara sadar, tetapi diam-diam sedang mengurai benang kusut, menyambung ulang potongan ide, dan kadang dari situ, bisa menemukan jawaban yang tidak muncul saat kita kejar-kejar.

Melamun, dalam arti ini, mirip tombol “refresh” bagi pikiran. Atau kalau mau jujur: semacam reboot ringan sebelum kita benar-benar hang.

Pengalaman banyak orang menunjukkan hal yang sama: ide jarang datang saat kita menatap layar dengan wajah serius. Ia lebih sering muncul disaat tidak terduga, saat kita sedang mandi, nyetir tanpa radio, atau duduk menatap sesuatu yang tidak terlalu penting.

Seolah-olah pikiran kita berkata, “Tenang, kalau kamu berhenti mengejar, saya akan muncul sendiri.”

The Art of Doing Nothing menyebutkan bahwa membiarkan pikiran mengembara bukanlah kemewahan, melainkan kebutuhan. Tanpa itu, kita hanya akan menjadi manusia yang sangat sibuk… tetapi tidak selalu tahu untuk apa.

Ini saran saya, mungkin kita perlu mulai mengubah cara memandang waktu. Tidak setiap menit harus produktif. Tidak setiap jeda harus dibuktikan berguna. Tidak setiap diam harus merasa bersalah.

Barangkali, kita justru perlu menambahkan satu agenda baru di hidup kita:

Melamun. 10–15 menit. Tanpa gawai. Tanpa tujuan. Tanpa laporan kinerja.

Siapa tahu, di situ pikiran jadi lebih jernih, hati jadi lebih tenang, dan keputusan hidup tidak lagi terasa seperti hasil undian.

Di dunia yang makin berisik dan tergesa-gesa, kemampuan untuk berhenti mungkin justru menjadi bentuk kecerdasan baru. Dan siapa sangka, dari melamun yang kelihatan tidak penting itu, hidup kita justru pelan-pelan menemukan arah.

Happy melamun, eh.. Happy weekend! 

Penulis: Suhardiman Eko, tim Redaksi Lentera Media|Editor: Arifin BH

Share:

Punya insight tentang peristiwa terkini?

Jadikan tulisan Anda inspirasi untuk yang lain!
Klik disini untuk memulai!

Mulai Menulis
Lenterasemarang.com.
Lenterasemarang.com.