MALANG (Lentera) - Kota Malang mendapat dukungan pendanaan dari Bank Dunia melalui program National Urban Flood Resilience Project (NUFReP), berupa pembangunan mini bozem di kawasan Hutan Kediri akan direalisasikan sebagai solusi mengatasi banjir di kawasan Jalan Bondowoso.
"Di sana biasanya saat hujan terjadi antrean air sebelum masuk ke saluran drainase, sehingga air itu nanti bisa ditangkap terlebih dahulu di mini bozem," ujar Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, Perumahan, dan Kawasan Permukiman (PUPR-PKP) Kota Malang, Dandung Djulharjanto, Jumat (16/1/2026).
Dijelaskannya, konsep mini bozem tersebut berfungsi sebagai penampung sementara atau buffer air hujan sebelum dialirkan ke saluran drainase di Jalan Bondowoso yang juga akan dibangun. Dengan mekanisme itu, debit air yang masuk ke drainase dapat lebih terkendali.
"Jadi semacam antrean dulu di mini bozem, tidak langsung masuk ke saluran drainase," jelasnya.
Dandung memastikan, lokasi mini bozem tersebut akan berada di kawasan Hutan Kediri, yang dinilai strategis untuk menampung limpasan air dari sejumlah titik rawan banjir. Namun, untuk kapasitas tampungan mini bozem, pihaknya masih akan melakukan perhitungan teknis lebih lanjut.
"Ini kan dari program nasional NUFReP, dananya dari Bank Dunia. Total bantuan yang kami terima sebesar Rp145 miliar, termasuk untuk pembangunan saluran drainasenya," ungkapnya.
Saat ini, progres proyek masih berada pada tahap pengadaan dan proses lelang yang dilakukan oleh pemerintah pusat. Jika seluruh tahapan berjalan sesuai jadwal, Dandung menyampaikan, penandatanganan kontrak ditargetkan berlangsung pada akhir Februari hingga awal Maret 2026.
"Perkiraannya kalau lancar, awal Maret sudah tanda tangan kontrak. Setelah Idul Fitri 2026, pekerjaan konstruksi sudah bisa dimulai," katanya.
Dandung menyebut, pembangunan mini bozem dan saluran drainase Bondowoso ini diharapkan mampu mengantisipasi banjir yang selama ini kerap terjadi di sejumlah wilayah, di antaranya Jalan Galunggung, Kelurahan Bareng, Jalan IR Rais, hingga Jalan Raya Langsep.
Proyek ini direncanakan dikerjakan hingga awal 2027. Menurut Dandung, lamanya waktu pengerjaan disebabkan oleh panjangnya jalur drainase serta dimensi bangunan yang cukup besar.
"Pengerjaannya panjang, dimensinya juga lebar. Selain itu, pengerjaan nantinya dilakukan di tengah jalan, menggunakan lokasi yang sebelumnya dipakai untuk jacking, yang akan kami bongkar," jelasnya.
Untuk sistem drainase, Pemkot Malang akan menggunakan box culvert dengan lebar antara 2 hingga 3 meter, serupa dengan yang digunakan pada proyek drainase di Jalan Soekarno-Hatta (Suhat).
Dandung menambahkan, keberadaan drainase Suhat nantinya juga akan terintegrasi dalam sistem pengendalian banjir kota. Dengan selesainya proyek tersebut, potensi banjir di kawasan Suhat dan wilayah hilir diharapkan dapat berkurang secara signifikan.
Reporter: Santi Wahyu/Editor: Ais





.jpg)
