02 November 2026

Get In Touch

Lawan Praktik Joki di Kampus, Mahasiswa Unesa Bangun Gerakan Edukasi

Mahasiswa Universitas Negeri Surabaya (Unesa) menginisiasi gerakan edukasi antijoki bertajuk “Cuan Dikorbankan, Integritas Dihancurkan”.
Mahasiswa Universitas Negeri Surabaya (Unesa) menginisiasi gerakan edukasi antijoki bertajuk “Cuan Dikorbankan, Integritas Dihancurkan”.

SURABAYA (Lentera) – Praktik penggunaan jasa joki tugas hingga karya ilmiah tidak hanya mengancam kejujuran akademik, tetapi juga berpotensi menggerus kompetensi mahasiswa. Merespons persoalan tersebut, empat mahasiswa Universitas Negeri Surabaya (Unesa) menginisiasi gerakan edukasi antijoki bertajuk “Cuan Dikorbankan, Integritas Dihancurkan” melalui ajang Lomba Inovasi Digital Mahasiswa (LIDM) 2026.

Gerakan antijoki tersebut digagas oleh Nabila Dwi Wahyu Santoso bersama Viana Putri Aisyah dari S-1 Manajemen Pendidikan, Muhamad Dava Fals Ditya dari S-1 Pendidikan Seni Rupa, serta Mochammad Fahreza Islamuddin dari S-1 Desain Komunikasi Visual.

Ketua Tim Manjur, Nabila Dwi Wahyu Santoso mengatakan, urgensi gerakan ini salah satunya didasarkan pada data Survei Penilaian Integritas Pendidikan KPK 2026 yang mencatat 43 persen responden masih menemukan praktik joki tugas akhir. 

Sementara itu, survei awal yang dilakukan Tim Manjur menunjukkan 84,6 persen mahasiswa mengetahui keberadaan jasa joki di lingkungan mereka.

Ia menyebut, kemudahan akses terhadap jasa joki melalui media sosial turut membuat praktik tersebut semakin dikenal di kalangan mahasiswa. Bahkan, sebagian mahasiswa mulai memandangnya sebagai solusi praktis ketika menghadapi beban akademik.

Padahal, penggunaan jasa joki memiliki konsekuensi lebih luas daripada sekadar pelanggaran aturan kampus. Mahasiswa kehilangan kesempatan untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis, mengolah informasi, menyusun argumentasi, hingga mempertanggungjawabkan hasil pekerjaannya sendiri.

“Joki kerap dianggap solusi instan atas beban kuliah. Padahal, kebiasaan ini merusak kompetensi dan kejujuran akademik. Parahnya, itu merugikan kita sebagai mahasiswa. Tugas yang seharusnya bikin kita belajar dan berkembang malah dikerjakan orang lain, kan rugi,” ujar mahasiswa S-1 Manajemen Pendidikan tersebut, Senin (2/11/2026).

Untuk membangun kesadaran tersebut, Tim Manjur mengembangkan strategi edukasi melalui gerakan SATU, singkatan dari Sebarkan, Ajak, Temui, dan Kukuhkan.

Pada tahap Sebarkan, edukasi dilakukan melalui media sosial Instagram dan YouTube. Konten yang disajikan antara lain membahas modus bisnis jasa joki serta podcast literasi akademik bersama dosen.

Selanjutnya, tahap Ajak dilakukan dengan membangun kolaborasi bersama organisasi kemahasiswaan. Melalui jejaring tersebut, kampanye diharapkan dapat menjangkau lebih banyak mahasiswa dan mendorong keterlibatan aktif dalam gerakan antijoki.

Sementara itu, tahap Temui diwujudkan melalui sosialisasi secara langsung ke sejumlah perguruan tinggi, di antaranya UIN Sunan Ampel Surabaya (UINSA), Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa), hingga Universitas Uluwiyah Mojokerto.

Adapun tahap Kukuhkan diarahkan untuk membangun komitmen bersama melalui deklarasi penolakan penggunaan jasa joki akademik.

Tim Manjur juga berupaya mengukur efektivitas kampanye melalui metode pre-test dan post-test. Dengan metode tersebut, perubahan pemahaman peserta mengenai integritas akademik dapat dievaluasi, bukan sekadar dilihat dari jumlah orang yang mengikuti sosialisasi.

"Hingga kini, lebih dari 100 mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi telah menandatangani komitmen untuk menolak penggunaan jasa joki akademik," tuturnya.

Dosen pembimbing Tim Manjur, Kartika Herlina Candraning Shiam, menilai gerakan edukasi semacam ini penting untuk menjaga kualitas lulusan perguruan tinggi. Sebab, proses mengerjakan tugas, penelitian, hingga karya ilmiah merupakan bagian dari pembentukan kemampuan dan tanggung jawab mahasiswa.

Menurutnya, integritas akademik tidak cukup dibangun melalui aturan dan sanksi. Mahasiswa juga perlu memahami bahwa setiap proses pembelajaran memiliki kontribusi terhadap kompetensi dan daya saing mereka ketika memasuki dunia kerja.

“Persoalan ini relevan untuk terus disuarakan di berbagai forum agar kesadaran kolektif tentang pentingnya integritas akademik di lingkungan perguruan tinggi dapat terjaga,” tutupnya. (*)

 

Reporter: Amanah
Editor: Lutfiyu Handi

 

 

Share:
Lenterasemarang.com.
Lenterasemarang.com.