23 October 2026

Get In Touch

Peringatan Hari Santri 2026 di Alun-Alun Sidoarjo, Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas

Foto bersama usai upacara peringatan Hari Santri 2026 di Alun-Alun Sidoarjo, Kamis (22/10/2026).
Foto bersama usai upacara peringatan Hari Santri 2026 di Alun-Alun Sidoarjo, Kamis (22/10/2026).

SIDOARJO (Lentera) -Upacara peringatan Hari Santri 2026 yang digelar Pemerintah Kabupaten Sidoarjo berlangsung di Alun-Alun Sidoarjo, Kamis, (22/10/2026), dipimpin Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sidoarjo H Abdillah Nasih, diikuti ratusan perwakilan dari berbagai organisasi.

Di antaranya, Pergunu, Fatayat, Muslimat, Banser, LPBI NU, Sarbumusi, mahasiswa UNUSIDA, Pramuka, IPNU, IPPNU, DPD LDDI, PD Muhammadiyah, PC Pagar Nusa, pelajar SMK Plus NU Sidoarjo, serta Ponpes Jabal Noer Taman dan Ponpes Baiturahman Sukodono.

Momentum Hari Santri mengingatkan kembali pada jasa-jasa besar para ulama dan santri bagi agama, bangsa, dan negara. 

Peringatan Hari Santri Tahun 2026 kali ini mengusung tema "Santri Menguatkan Negeri, Menuju Indonesia Emas". Dalam upacara tersebut, dibacakan Resolusi Jihad NU oleh KH Abdul Muntholib, Pengasuh Ponpes Al Khuzaini SukodonoDibacakan pula sambutan Menteri Agama RI Prof Dr KH Nasaruddin Umar MA oleh Ketua DPRD Sidoarjo Abdillah Nasih. 

Dia menyampaikan bahwa Hari Santri yang diperingati setiap 22 Oktober merupakan momentum untuk mengenang perjuangan para ulama dan santri dalam merebut serta mempertahankan kemerdekaan Indonesia. 

Sejarah mencatat, Resolusi Jihad yang dimaklumatkan Hadratussyekh Kiai Haji Hasyim Asy'ari pada 22 Oktober 1945 telah membangkitkan semangat perjuangan umat Islam untuk mempertahankan kemerdekaan. Semangat tersebut turut menggerakkan perlawanan rakyat yang mencapai puncaknya dalam peristiwa 10 November 1945. Kini kita peringati sebagai Hari Pahlawan.

“Peristiwa tersebut mengajarkan kepada kita bahwa santri bukan hanya penjaga nilainilai agama, melainkan juga bagian penting dari perjalanan bangsa. Karena itu, mengenang jasa para pendahulu tidak cukup hanya dengan upacara dan seremonial. 

"Kita harus melanjutkan perjuangan mereka melalui pengabdian, karya, dan kontribusi nyata bagi Indonesia,” ucapnya.

Abdillah Nasih mengatakan, tema "Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas" mengandung pesan penting bahwa santri memiliki tanggung jawab besar dalam menentukan masa depan bangsa. Jika dahulu para santri menguatkan negeri dengan perjuangan mempertahankan kemerdekaan, maka santri saat ini harus menguatkan negeri dengan ilmu pengetahuan, teknologi, inovasi, dan akhlak mulia. 

“Tantangan zaman memang berubah. Tetapi, semangat pengabdian kepada negeri tercinta ini, bagi seorang santri, tidak boleh padam,” pesannya.

Masih disampaikan Abdillah Nasih bahwa pada tahun 2045, Indonesia akan genap berusia 100 tahun. Tahun itu disebut Indonesia Emas, sebuah visi untuk mewujudkan Indonesia yang maju, sejahtera, berdaya saing, dan mampu berdiri sejajar dengan bangsa - bangsa lain di dunia.

Untuk mewujudkan cita-cita besar tersebut dibutuhkan sumber daya manusia yang unggul, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, berakhlak mulia, serta mampu menghadirkan inovasi.

“Di sinilah para santri harus mengambil peran penting. Santri tidak boleh merasa kecil dan tidak boleh membatasi diri. Santri bisa menjadi apa saja. Ulama, ilmuwan, pendidik, pengusaha, hingga pemimpin bangsa, selama terus belajar, bersungguhsungguh, dan mengabdikan ilmunya bagi kemajuan Indonesia,” tegasnya.

Santri tidak cukup hanya menguasai ilmu agama, namun juga ilmu pengetahuan dan teknologi. Santri pun diminta tidak pernah takut terhadap perubahan dengan tetap memelihara tradisi pesantren. Santri harus terbuka terhadap kemajuan, serta mampu menghadirkan solusi bagi persoalan masyarakat. 

“Jadilah generasi yang teguh memegang nilai-nilai keislaman, terbuka terhadap kemajuan, serta mampu menghadirkan solusi bagi persoalan masyarakat. Sebab, bangsa yang kuat membutuhkan generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga jujur, berintegritas, dan memiliki kepedulian terhadap sesama,”pesannya.

Dalam kesempatan itu Abdillah Nasih juga mengungkapkan pepatah di pesantren, man jadda wajada. Artinya, barang siapa bersungguh-sungguh, maka ia akan berhasil. Pepatah dalam bahasa arab tersebut sebagai penyemangat para santri untuk teruslah berusaha, berinovasi, dan berkarya. Santri harus dapat membawa manfaat bagi keluarga, masyarakat, bangsa, dan kemanusiaan.

“Pesantren memiliki kekuatan besar dalam membangun karakter bangsa. Di pesantren, ilmu diajarkan, akhlak dibentuk, kemandirian ditumbuhkan, dan pengabdian ditanamkan. Kekuatan inilah yang harus terus kita rawat dan kembangkan agar pesantren semakin berperan dalam menjawab tantangan zaman,” ujarnya.

Ia juga mengajak seluruh santri di mana pun untuk menjadi pelopor kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Selain itu dapat menjadi pelopor persatuan, penjaga kerukunan, penggerak kemandirian ekonomi, serta sahabat bagi lingkungan. Jadikan nilai - nilai agama sebagai sumber inspirasi untuk merawat bumi, menebarkan kedamaian, dan membangun kehidupan yang lebih baik.

"Jangan biarkan perbedaan memecah belah kita, karena Indonesia yang kuat hanya dapat dibangun melalui kebersamaan,” ucapnya.

Dalam sambutan yang dibacakan Abdillah Nasih, Menteri Agama RI Prof Dr KH Nasaruddin Umar juga mengungkapkan rasa syukur. Di masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, Kementerian Agama kini memiliki Direktorat Jenderal Pesantren. 

Ditjen Pesantren tersebut merupakan sebuah unit eselon I yang secara khusus menangani pengembangan dan penguatan pesantren. 

“Kehadiran direktorat jenderal ini merupakan wujud komitmen pemerintah untuk memberikan perhatian yang lebih besar kepada pesantren. Sekaligus memperkuat peran strategisnya dalam pembangunan nasional,” ujarnya.

Menteri Agama berharap pesantren dapat semakin optimal menjalankan tiga fungsi utamanya, yaitu pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat. Melalui fungsi pendidikan, pesantren melahirkan generasi yang berilmu dan berakhlak mulia. 

Menteri Agama menegaskan bahwa Hari Santri bukan hanya milik santri dan pesantren. Hari Santri juga bukan hanya milik umat Islam. Hari Santri adalah milik seluruh bangsa Indonesia yang menghargai perjuangan, menjunjung persatuan, dan mencintai tanah airnya. Sebab, mencintai Tanah Air adalah bagian dari iman. Hubbul wathan minal iman.

“Maka mari kita jadikan peringatan Hari Santri ini sebagai momentum untuk memperkuat gotong royong dan melanjutkan perjuangan para ulama serta pahlawan dengan cara terbaik pada zaman kita,” ajaknya.

Di akhir sambutannya, Menteri Agama mengajak untuk mendoakan para ulama, santri, dan seluruh pahlawan yang telah gugur demi kemerdekaan dan keutuhan bangsa. 

“Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala menerima amal ibadah mereka, melimpahkan rahmat kepada mereka, serta membimbing kita untuk meneruskan cita - cita luhur 

perjuangan mereka,” ucapnya.

“Saya mengucapkan selamat Hari Santri Tahun 2026 kepada seluruh santri dan keluarga besar pesantren di Indonesia. Teruslah menjaga tradisi, mengembangkan inovasi, memperkuat persaudaraan, dan mengabdikan diri untuk negeri. Jadilah santri yang menguatkan negeri menuju Indonesia Emas,” pungkasnya.

Reporter: Teguh|Editor: Arifin BH

Share:
Lenterasemarang.com.
Lenterasemarang.com.