21 October 2026

Get In Touch

UNAIR-BPDP Bekali Peternak Malang Raya, Limbah Sawit Berpotensi Tekan Biaya Pakan

Universitas Airlangga (UNAIR) bekerja sama dengan BPDP menggelar workshop terkait Peningkatan Nilai Tambah Kelapa Sawit melalui Inovasi Pakan Ternak Berbasis Ekonomi Sirkular, Gedung GKSI Jawa Timur, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang, Selasa (20/10/2
Universitas Airlangga (UNAIR) bekerja sama dengan BPDP menggelar workshop terkait Peningkatan Nilai Tambah Kelapa Sawit melalui Inovasi Pakan Ternak Berbasis Ekonomi Sirkular, Gedung GKSI Jawa Timur, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang, Selasa (20/10/2

MALANG (Lentera) - Laboratorium Pengembangan Ekonomi Pembangunan (LPEP) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Airlangga (UNAIR) bersama Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), membekali peternak di Malang Raya dengan pengetahuan mengenai pemanfaatan limbah kelapa sawit sebagai alternatif pakan ternak.

Edukasi tersebut dikemas dalam kegiatan workshop yang mengusung tema Peningkatan Nilai Tambah Limbah Kelapa Sawit melalui Inovasi Pakan Ternak Berbasis Ekonomi Sirkular, di Gedung Gabungan Koperasi Susu Indonesia (GKSI) Wilayah Jawa Timur, Karangploso, Kabupaten Malang, Selasa-Kamis (20-22/10/2026).

Ketua Pelaksana, Akhmad Jayadi, mengatakan tingginya biaya pakan menjadi salah satu alasan pemanfaatan limbah kelapa sawit perlu dikembangkan. Sejumlah bahan, seperti solid sawit, bungkil inti sawit, dan pelepah sawit, memiliki potensi untuk dimanfaatkan sebagai bagian dari pakan ternak.

"Biaya pakan ternak menghabiskan 60–70 persen dari total biaya produksi peternakan. Karena itu, kami berharap peternak di Malang Raya bisa memanfaatkan potensi limbah sawit sehingga tercapai efisiensi dari sisi biaya pakan," ujar Jayadi.

Dijelaskannya, pemanfaatan limbah sawit sebagai pakan ternak juga tercermin dari pengalaman seorang peternak kambing di Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan. Jayadi menyebut, peternak yang memiliki sekitar 50 ekor kambing tersebut memanfaatkan solid sawit yang telah difermentasi, kemudian mencampurnya dengan konsentrat dan hijauan.

"Penggunaan pakan berbasis solid sawit mampu menekan biaya pakan sekitar 30-40 persen dibandingkan penggunaan ampas tahu. Dalam uji coba selama 30 hari, sejumlah kambing juga mengalami kenaikan bobot badan sekitar 3-4 kilogram," katanya.

Jayadi berharap praktik tersebut dapat menjadi referensi bagi peternak di Malang Raya untuk mengembangkan alternatif pakan sesuai dengan kondisi dan kebutuhan ternak masing-masing.

Terlebih berdasarkan keterangan Ketua LPEP FEB Universitas Airlangga, Prof. Dyah Wulan Sari, SE., M.Ec.Dev., Ph.D., menyebut potensi pemanfaatan limbah sawit didukung oleh besarnya produksi kelapa sawit nasional.

"Produksi sawit kita sangat besar, dan setiap ton minyak yang dihasilkan juga menyisakan produk sampingan seperti solid sawit, bungkil inti sawit, dan pelepah. Sementara peternak menghadapi pakan yang mahal. Dua kondisi ini bisa dipertemukan lewat ekonomi sirkular, yakni limbah dari satu sektor menjadi bahan baku bagi sektor lain," ujar Prof. Dyah.

Diketahui, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) dan Kementerian Pertanian, produksi minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) Indonesia mencapai 47,24 juta ton pada 2025, dengan luas areal perkebunan sekitar 16,16 juta hektare.

Dorong Produktivitas Susu dan Swasembada Nasional

Selain berpeluang menekan biaya pakan, pemanfaatan limbah sawit juga diperkenalkan sebagai salah satu alternatif untuk mendukung pengembangan peternakan sapi perah. Hal ini berkaitan dengan tantangan peningkatan produktivitas susu di tingkat peternak.

Kepala Divisi Kerja Sama Kemasyarakatan dan UMKM BPDP, Helmi Muhansyah, mengatakan pihaknya melihat peluang pemanfaatan limbah sawit untuk membantu memenuhi kebutuhan pakan, terutama bagi peternak sapi perah yang menghadapi persoalan produktivitas.

"Kami ingin sawit ini mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Terutama peternak sapi perah juga bisa memanfaatkan limbah sawit untuk peternakannya," kata Helmi.

Di sisi lain, Dekan FEB UNAIR, Prof. Dr. Rudi Purwono, S.E., M.SE., menambahkan, pengembangan alternatif pakan merupakan bagian dari upaya meningkatkan kesejahteraan peternak sekaligus mendukung pemenuhan kebutuhan susu nasional.

Menurutnya, peningkatan produksi susu perlu ditopang oleh ekosistem peternakan yang lebih kuat, termasuk efisiensi biaya produksi. Kesejahteraan peternak juga menjadi faktor penting untuk mendorong lebih banyak anak muda tertarik menekuni usaha peternakan.

Rudi menilai diversifikasi pakan diperlukan agar peternak tidak hanya bergantung pada pakan pabrikan. "Harapan kita, Indonesia ke depan juga bisa mencapai swasembada susu yang tentunya harus melibatkan semua pihak dalam membangun ekosistemnya," ujarnya.

Tidak Berhenti pada Pelatihan

Workshop yang berlangsung selama 3 hari ini dirancang agar peserta dapat menerapkan pengetahuan yang diperoleh dalam pengembangan usaha. Pada hari pertama, peserta mengikuti pengenalan potensi limbah sawit, analisis kelayakan usaha, perhitungan biaya produksi, serta pengembangan model bisnis sederhana.

Kegiatan dilanjutkan pada 21 Oktober 2026 dengan pelatihan teknis pengolahan pakan, meliputi standar mutu dan keamanan pakan, formulasi, teknologi fermentasi, serta praktik pengolahan solid sawit, bungkil inti sawit, dan pelepah sawit.

Sementara itu, pada 22 Oktober 2026, peserta dijadwalkan memperoleh pendampingan legalitas usaha, termasuk Nomor Induk Berusaha (NIB) dan perizinan melalui sistem Online Single Submission Risk-Based Approach (OSS-RBA).

Peserta juga akan mendapat informasi mengenai skema pembiayaan, termasuk Kredit Usaha Rakyat (KUR), serta mengikuti business matching dengan perbankan Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) dan lembaga pembiayaan. (*)

Reporter: Santi Wahyu
Editor: Lutfiyu Handi

Share:
Lenterasemarang.com.
Lenterasemarang.com.