SURABAYA (Lentera) – Anggota Fraksi PKB DPRD Jawa Timur, Abdul Qodir, mendorong pemerintah memfasilitasi pengolahan sampah mandiri di pondok pesantren melalui proyek percontohan yang direncanakan mulai 2027. Program ini menyasar pesantren berkapasitas besar dengan melibatkan santri dalam pemilahan dan pengolahan sampah sejak dari sumbernya.
Abdul Qodir mengatakan, pesantren dengan jumlah santri di atas 1.000 orang berpotensi menghadapi persoalan pengelolaan sampah domestik. Karena itu, keterlibatan pemerintah melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) maupun skema lain yang relevan diperlukan untuk membangun sistem pengolahan yang berkelanjutan.
“Pesantren-pesantren yang santrinya di atas seribu sudah pasti ada problem pengolahan tentang sampah domestik. Pemerintah harus hadir membantu, baik melalui Dinas Lingkungan Hidup maupun skema pelaksanaan lainnya yang relevan,” ungkap mantan Ketua DPRD Gresik tersebut, Jumat (16/10/2027).
Anggota Komisi A DPRD Jatim itu menjelaskan, program yang diwacanakan untuk 2027 tersebut akan diawali dengan pembentukan proyek percontohan di sejumlah pesantren berkapasitas besar. Fokusnya bukan sekadar mengangkut sampah, melainkan membangun kebiasaan memilah dan mengolah sampah secara mandiri melalui edukasi kepada santri.
Sampah organik, seperti sisa makanan, limbah dapur, dan daun, dapat diolah menjadi kompos untuk kebutuhan perkebunan pesantren maupun masyarakat sekitar. Sementara sampah yang dapat didaur ulang diarahkan agar bisa dimanfaatkan kembali menjadi produk bernilai guna.
”Jika pemilahan dilakukan langsung oleh santri sebagian menjadi kompos dan sebagian lagi dimanfaatkan menjadi produk bernilai guna, ini akan jauh lebih baik. Itulah gagasan utama yang ingin kita dorong,” bebernya.
Berdasarkan estimasi dalam bahan pemberitaan, pesantren dengan 1.000 santri dapat menghasilkan sekitar 500 hingga 700 kilogram sampah domestik per hari, dengan asumsi produksi sampah setiap orang mencapai 0,5–0,7 kilogram sehari.
Sekitar 50–60 persen sampah domestik tersebut diperkirakan berupa sampah organik. Pengolahannya menjadi kompos maupun melalui metode black soldier fly (maggot BSF) berpotensi mengurangi volume sampah yang berakhir di tempat pemrosesan akhir sekaligus memberikan nilai tambah bagi pesantren. (*)
Reporter: Pradhita
Editor: Lutfiyu Handi




.jpg)
