11 October 2026

Get In Touch

Angeline Virginia Wong Ajak Anak Muda Berdamai dengan Diri Lewat Buku I'm Not a Throphy Kid

Angeline Virginia Wong menunjukkan buku I'm Not a Throphy Kid. (Amanah/Lentera)
Angeline Virginia Wong menunjukkan buku I'm Not a Throphy Kid. (Amanah/Lentera)

SURABAYA (Lentera)– Mengakui bahwa diri sendiri sedang tidak baik-baik saja bukanlah tanda kelemahan. Bagi Angeline Virginia Wong, keberanian menerima perasaan menjadi bagian penting dalam menghadapi pergulatan kesehatan mental. Pengalaman melewati masa depresi pada usia 17–18 tahun kemudian ia tuangkan dalam buku berjudul I’m Not a Throphy Kid.

Mahasiswi Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Ciputra (UC) tersebut menulis buku itu sebagai ruang berbagi bagi mereka yang sedang berjuang memahami diri sendiri. Ia ingin menyampaikan bahwa menangis, merasa sedih, dan mengakui kelelahan emosional merupakan bagian dari pengalaman manusia yang tidak perlu disembunyikan.

“It's okay to admit that you're not okay. It's okay to cry, it's okay to validate your feelings as a human being,” ujar Angeline saat peluncuran bukunya, Sabtu (10/10/2026).

Menurutnya, kesehatan mental masih menjadi topik yang kerap dianggap tabu. Padahal, setiap orang memiliki pergulatan hidup yang berbeda dan membutuhkan waktu untuk memahami serta menerima keadaan dirinya.

Pengalaman pribadi menjadi titik awal penulisan 

I’m Not a Throphy Kid. Buku tersebut memuat perjalanan Angeline melewati sejumlah fase sulit, mulai dari pengalaman ditinggalkan teman saat kecil, hubungan dengan seseorang yang toksik, hingga proses menemukan kembali makna kehidupan melalui rasa syukur.

Buku yang terdiri atas 30 bab itu mengajak para pembaca melakukan refleksi diri, mengenali perasaan, dan mengevaluasi perjalanan hidupnya.

Proses penulisannya berangkat dari kebiasaan expressive journaling, yakni menuangkan pikiran dan perasaan melalui tulisan. Selama satu bulan, Angeline membiasakan diri menuliskan apa yang sedang dirasakan, baik ketika bahagia, sedih, maupun marah.

“Ketika kita merasa stres, tuliskan apa yang kita rasakan. Saya melakukan expressive journaling selama satu bulan. Buku ini sebenarnya berisi jurnal saya yang kemudian diolah bersama tim editor,” jelasnya.

Untuk memastikan isi buku layak dibaca masyarakat umum, Angeline juga berkonsultasi dengan psikolog dan terapis. Langkah tersebut dilakukan agar pengalaman personal yang dituangkan dalam tulisan dapat disajikan dengan mempertimbangkan keamanan dan kenyamanan pembaca.

Selain menulis, Angeline berkomitmen menyediakan waktu setidaknya 30 menit setiap hari untuk menenangkan diri. Setelah itu, ia melakukan journaling dengan menuliskan hal-hal yang dapat disyukuri dalam hidupnya.

Ia juga membiasakan diri mengungkapkan rasa terima kasih kepada Tuhan dan dirinya sendiri. Baginya, kebiasaan sederhana tersebut menjadi salah satu cara untuk berhenti sejenak dari tekanan dan kembali memberi perhatian kepada kebutuhan diri.

“Terima kasih Tuhan, terima kasih saya sendiri, dan I love you,” tuturnya, menggambarkan ungkapan yang ia tuliskan dalam proses refleksi tersebut.

I’m Not a Throphy Kid merupakan buku pertama Angeline dalam bahasa Indonesia. Ia kemudian menghadirkan versi bahasa Inggris dengan isi yang diadaptasi agar dapat menjangkau pembaca yang tidak memahami bahasa Indonesia.

Keputusan menerbitkan versi bahasa Inggris dilatarbelakangi respons pembaca yang menginginkan buku tersebut tersedia dalam bahasa lain. Angeline berharap pesan mengenai penerimaan diri dan kesehatan mental dapat menjangkau lebih banyak orang, tidak hanya di Indonesia.

Bagi Angeline, proses menghadapi persoalan kesehatan mental tidak seharusnya dipaksakan berlangsung cepat. Setiap orang memiliki perjalanan dan waktu pemulihan yang berbeda.

“Tidak usah terburu-buru. Hidup itu masih panjang. Kalau kita terburu-buru ingin cepat sembuh, justru bisa memperparah situasi,” pesannya.

Ia juga mengajak pembaca menemukan hal-hal sederhana yang masih dapat disyukuri di tengah masa sulit. Namun, rasa syukur bukan berarti seseorang harus menyangkal kesedihan atau mengabaikan persoalan yang sedang dihadapi.Melalui buku dan ruang berbagi yang dibangunnya, Angeline berharap semakin banyak orang berani mengakui perasaannya dan mencari dukungan ketika membutuhkan bantuan.

"Mengakui bahwa diri sedang tidak baik-baik saja pun dapat menjadi langkah awal untuk memahami diri dan mencari pertolongan yang dibutuhkan," tutupnya. (*)

 

Reporter: Amanah
Editor: Lutfiyu Handi

Share:

Punya insight tentang peristiwa terkini?

Jadikan tulisan Anda inspirasi untuk yang lain!
Klik disini untuk memulai!

Mulai Menulis
Lenterasemarang.com.
Lenterasemarang.com.