09 October 2026

Get In Touch

Usai Konsumsi MBG, 42 Siswa SMP Negeri 1 Mojoanyar Mojokerto Mengeluh Sakit

Petugas medis menurunkan para siswa SMP N 1 Mojoanyar untuk dirujuk ke Puskesmas Gayaman, Kecamatan Mojoanyar, Kabupaten Mojokerto, Rabu (7/10/2026). (foto:ist/Kompas.com)
Petugas medis menurunkan para siswa SMP N 1 Mojoanyar untuk dirujuk ke Puskesmas Gayaman, Kecamatan Mojoanyar, Kabupaten Mojokerto, Rabu (7/10/2026). (foto:ist/Kompas.com)

MOJOKERTO (Lentera) – Puluhan siswa di SMP Negeri 1 Mojoanyar, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, mengeluhkan gejala mual, diare, hingga badan lemas, pada Rabu (7/10/2026). 

Gangguan kesehatan tersebut diduga terjadi, usai para siswa mengonsumsi paket Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dibagikan di sekolah, pada Selasa (6/10/2026). 

Berdasarkan pantauan di lokasi, sejumlah siswa harus mendapat perawatan medis dari petugas kesehatan di salah satu ruangan sekolah. 

Sementara itu, belasan siswa lainnya terpaksa dilarikan ke Puskesmas Gayaman, Kecamatan Mojoanyar, untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut. 

Salah seorang siswa kelas IX SMPN 1 Mojoanyar berinisial, NVN (15) yang dilarikan ke puskesmas mengungkapkan, dirinya mulai merasakan sakit pada bagian perut dan mengalami gangguan pencernaan sejak Selasa malam. 

"Sakit perut. Sama BAB terus," kata NVN ditemui di lokasi, Rabu (7/10/2026) mengutip Kompas.com, Kamis (8/10/2026).

Hal senada disampaikan RP (13), siswa kelas VIII yang turut mendapat perawatan medis di sekolah akibat mengalami gejala mual dan diare. RP mengaku mulai merasakan sakit perut, usai kumandang adzan magrib, pada Selasa (6/10/2026). 

"Rasanya sakit. Terus ingin BAB terus. Setelah Isya juga gitu, rasanya ingin BAB," ujar RP. 

RP mendapat penanganan medis langsung di sekolah dan diperbolehkan pulang setelah kondisinya membaik. Ia mengaku, tidak mengetahui pasti penyebab utama sakit perut yang dialaminya. 

Namun, ia mengaitkan kondisi tersebut dengan paket Makan Bergizi Gratis (MBG) yang ia santap pada Selasa sekitar pukul 13.00 WIB. Saat itu, menu MBG yang dibagikan berisi nasi, sate ayam, bumbu kacang, selada, dan buah anggur. 

Meski tidak menemukan kejanggalan dari porsi yang dimakannya, RP menyebut ada temannya yang mengeluhkan cita rasa makanan tersebut. 

"Tidak ada bau. Biasa saja. Tapi ada teman saya, katanya itu dagingnya itu rasanya hambar, pahit," ungkap RP.

Sementara itu, Kepala Sekolah Kepala SMPN 1 Mojoanyar, Ely Rosyidah menceritakan bahwa peristiwa ini mulai terdeteksi ketika para siswa secara bergantian bolak-balik ke kamar mandi antara pukul 10.00 WIB hingga 11.00 WIB, pada Rabu (7/10/2026). 

Para siswa yang mengeluh sakit langsung dipindahkan ke ruang UKS untuk penanganan darurat. 

"Karena keputusan itu kan harus cepat, sehingga saya tidak mungkin menghubungi siapa pun kecuali menghubungi Puskesmas," kata Ely saat dikonfirmasi. 

Ely mencatat, ada sekitar 40 siswa yang mengeluhkan gejala mual, diare, hingga lemas. Kendati demikian, ia enggan berspekulasi dan belum berani mengaitkan gejala para siswa secara langsung dengan dugaan keracunan menu MBG. 

Sebab, total penerima MBG di SMPN 1 Mojoanyar mencapai sekitar 700 orang, yang terdiri dari jajaran guru dan seluruh siswa. 

"Kalau permasalahannya di makanannya, wah ya itu semuanya (harusnya)," tutur Ely. 

Secara terpisah, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Mojokerto bergerak cepat menerjunkan tim, untuk mendalami penyebab pasti gangguan kesehatan massal yang menimpa para siswa tersebut. 

Berdasarkan data Dinkes, pihak sekolah menerima pengiriman MBG dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Jabon Mojoanyar, pada Selasa (6/10/2026) sekitar pukul 10.50 WIB. 

Menu MBG yang disajikan terdiri dari nasi putih, sate ayam, bumbu kacang, selada, acar timun wortel, dan buah anggur. SPPG Jabon Mojoanyar menyalurkan paket MBG ke sejumlah lembaga pendidikan setiap harinya, yang terbagi dalam dua gelombang (batch). SMPN 1 Mojoanyar tercatat menerima pasokan makanan pada batch kedua. 

Kepala Dinkes Kabupaten Mojokerto, Dyan Anggrahini Sulistyowati menegaskan bahwa dugaan keracunan akibat konsumsi menu MBG masih harus dibuktikan secara klinis dan medis. 

"Saya bersama teman-teman semua sudah dari lokasi. Sekali lagi ini dugaan. Kalau dugaan itu masih butuh bukti untuk apakah benar ada atau tidak," kata Dyan.

Dyan membeberkan, total penerima manfaat MBG pada batch kedua mencapai sekitar 1.500 orang. Dari keseluruhan jumlah tersebut, tercatat ada 42 siswa dari SMPN 1 Mojoanyar yang mengeluhkan gejala mual, muntah, hingga diare. 

Rinciannya, 27 siswa dirawat di sekolah dan 15 siswa lainnya sempat dirujuk ke Puskesmas Gayaman. 

"Saya tidak mengecilkan, dari 1.500, karena yang terkena adalah 15 anak, bisa jadi yang 27 itu karena beban psikologis dia, 'oh temanku ini sakit, saya juga sakit'. Maka perlu dibuktikan secara klinis apakah benar yang bersangkutan ini. Bisa jadi yang bersangkutan alergi makanan," jelas Dyan. 

Guna memastikan penyebab utama insiden ini, pihak Dinkes Kabupaten Mojokerto telah mengambil sampel muntahan siswa serta sisa paket makanan MBG untuk diuji di laboratorium. "Kita tunggu hasil uji labnya," pungkas Dyan.

Kondisi terakhir, sebanyak 13 dari 15 siswa SMPN 1 Mojoanyar, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, yang sempat dirawat di Puskesmas Gayaman setelah mengalami gangguan kesehatan kini telah diperbolehkan pulang. 

Hingga Rabu (7/10/2026) pukul 17.00 WIB, tersisa dua siswa yang masih menjalani perawatan di Puskesmas Gayaman, Kecamatan Mojoanyar. Keduanya dalam kondisi stabil dan masih menjalani observasi. 

”Tinggal dua orang. Kondisi stabil hanya perlu observasi sampai besok. Perkembangan sampai jam 17.00 WIB,” ungkap Dyan.

Dyan menambahkan, seluruh biaya pengobatan siswa yang dirujuk ke Puskesmas Gayaman tidak dipungut biaya.

 

Editor: Arief Sukaputra

 

 

Share:
Lenterasemarang.com.
Lenterasemarang.com.