06 October 2026

Get In Touch

Lewat Karakter "Jelita", Veronica Ajak Gen Z Kenali Jajanan Pasar

Veronica Singajaya, Petranesian Alumni DKV UK Petra yang mengadaptasi strategi promosi budaya berbasis Intellectual Property (IP) untuk mendekatkan jajanan pasar kepada anak muda.
Veronica Singajaya, Petranesian Alumni DKV UK Petra yang mengadaptasi strategi promosi budaya berbasis Intellectual Property (IP) untuk mendekatkan jajanan pasar kepada anak muda.

SURABAYA (Lentera) – Jajanan pasar tak hanya bisa dikenalkan sebagai warisan kuliner, tetapi juga menjadi bagian dari cerita kehidupan generasi muda. Pendekatan inilah yang digunakan Veronica Singajaya, alumni Desain Komunikasi Visual (DKV) angkatan 2022 Universitas Kristen (UK) Petra, untuk mendekatkan kuliner tradisional Nusantara dengan generasi Z.

Melalui karakter bernama "Jelita", Veronica mengembangkan kampanye berbasis Intellectual Property (IP) yang menggabungkan budaya, visual storytelling, komik, dan animasi pendek. Karakter tersebut ditempatkan sebagai representasi Gen Z dalam fase emerging adulthood dengan berbagai persoalan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

“Karakter Jelita jadi representasi Gen Z di fase emerging adulthood. Lewat kampanye di Instagram, Jelita hadir dalam bentuk komik pendek dan short animation yang menceritakan berbagai pengalaman slice of life dari sudut pandang Jelita. Setiap cerita kemudian di-bridge dengan karakteristik dari masing-masing jajanan pasar,” ujar Veronica, Senin (5/10/2026).

Perempuan kelahiran Banjarmasin itu memilih sejumlah jajanan pasar untuk diangkat dalam karyanya, di antaranya kue lapis, onde-onde, leker, putu, klepon, dan carabikang.

Alih-alih hanya menjelaskan asal-usul atau bentuk makanan, Veronica menghubungkan karakteristik setiap jajanan dengan pengalaman yang akrab dengan Gen Z, seperti pencarian jati diri, tekanan sosial, pekerjaan, kebutuhan untuk beristirahat, hingga proses bertumbuh.

“Setiap jajanan memiliki cerita dan makna yang berbeda, sehingga pendekatan ini membuat jajanan pasar tidak terasa seperti objek budaya yang hanya perlu dipelajari, tapi menjadi sesuatu yang bisa dikaitkan secara personal dengan kehidupan audiens,” jelasnya.

Pendekatan tersebut juga tidak berhenti pada konten digital. Veronica mengembangkan sejumlah media pendukung, seperti keychain, sticker set, dan postcard, untuk memperluas pengalaman audiens terhadap karakter dan cerita yang dibangun.

Karya tersebut merupakan bagian dari tugas akhirnya di bidang DKV. Gagasannya juga mendapat kesempatan ditampilkan dalam Projection Mapping Showcase pada Jakarta Future Festival 2026.

Kegiatan yang melibatkan Kementerian Ekonomi Kreatif, Pemerintah Jakarta, dan Asosiasi Program Studi Desain Komunikasi Visual Indonesia itu menampilkan karya mahasiswa DKV terpilih dari berbagai daerah di Indonesia.

“Melalui keikutsertaan dalam pameran tersebut, perancangan karya ini tidak hanya hadir sebagai konten di media sosial, tapi juga dapat diperkenalkan melalui konteks ekosistem kreatif yang lebih luas,” katanya.

Ia mengaku, gagasan tersebut tidak lepas dari pengalamannya mengikuti student exchange di Dongseo University, Busan, Korea Selatan. Dalam program tersebut, ia menjadi satu-satunya penerima Global Korea Scholarship (GKS) dari Indonesia di angkatannya.

Pengalaman tersebut turut memperkaya pandangannya mengenai cara budaya dikemas dan dikomunikasikan melalui medium kreatif. Ia kemudian mencoba menerapkan pendekatan serupa pada budaya kuliner Indonesia dengan bahasa visual yang lebih dekat dengan generasi muda.

Dalam proses berkarya, Veronica mengaku tertarik memadukan unsur fantasi dengan elemen budaya. "Karena budaya Indonesia memiliki banyak materi yang dapat dikembangkan menjadi karya visual yang lebih imajinatif dan personal," tuturnya.

Ia pun bercita-cita menjadi visual communication designer yang tidak hanya menghasilkan karya secara estetis, tetapi juga menggunakan desain sebagai media edukasi melalui ilustrasi, storytelling, serta pengembangan karakter dan IP.

“Tak hanya jadi designer dengan karya yang bagus, aku ingin karyaku bisa menjadi media edukatif, terutama dalam hal illustration, storytelling, dan character/IP development. Aku ingin terus mengeksplorasi bagaimana fantasy dan elemen budaya bisa digabungkan menjadi karya yang relevan dan punya cerita,” ujarnya.

Melalui karya tersebut, Veronica menunjukkan bahwa pengenalan budaya kepada generasi muda tidak selalu harus dilakukan melalui pendekatan konvensional. Jajanan pasar dapat ditempatkan dalam cerita yang lebih dekat dengan keseharian audiens, sehingga nilai budaya di dalamnya tetap terjaga sekaligus memiliki ruang untuk ditafsirkan dalam konteks kekinian. (*)

 

Reporter: Amanah
Editor: Lutfiyu Handi

 

 

Share:
Lenterasemarang.com.
Lenterasemarang.com.