03 October 2026

Get In Touch

Influenza A Merebak, Kenali Gejala dan Hindari Penggunaan Antibiotik Tanpa Indikasi

Dosen Fakultas Kedokteran dan Kesehatan (FKK) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) dr Edwin Nugroho Njoto MIPH MHM SpPD.
Dosen Fakultas Kedokteran dan Kesehatan (FKK) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) dr Edwin Nugroho Njoto MIPH MHM SpPD.

SURABAYA (Lentera)-  Gejala flu seperti demam, batuk, pilek hingga nyeri saat menelan kerap dianggap sebagai penyakit ringan. Namun, masyarakat tetap perlu mewaspadai influenza, terutama ketika gejala berkembang menjadi penurunan nafsu makan atau sesak napas.

Dosen Fakultas Kedokteran dan Kesehatan (FKK) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) dr Edwin Nugroho Njoto MIPH MHM SpPD mengatakan, peningkatan kasus influenza A mulai terlihat di tempatnya berpraktik, yakni Eagles Head Medical Centre dan Rumah Sakit Bhayangkara Surabaya.

Menurut dr Edwin, pemahaman mengenai gejala dan cara penanganan influenza penting agar masyarakat tidak keliru dalam mengonsumsi obat, termasuk menggunakan antibiotik tanpa indikasi medis.

“Virus influenza ini memang dapat memicu wabah musiman dengan tingkat penularan yang luas,” kata dr. Edwin, Jumat (2/10/2026).

Ia menjelaskan, influenza A merupakan infeksi saluran pernapasan yang disebabkan virus influenza. Virus tersebut dapat mengalami mutasi dan mudah menular, sementara kondisi tertentu, termasuk cuaca, dapat memengaruhi penyebarannya.

Penularan terutama terjadi melalui percikan dari saluran pernapasan ketika orang yang terinfeksi batuk atau bersin. Risiko penularan juga perlu menjadi perhatian pada orang dengan daya tahan tubuh rendah maupun mereka yang mengalami kelelahan akibat aktivitas padat.

Secara umum, influenza dapat ditandai dengan pilek, batuk, demam, serta nyeri ketika menelan. Namun, masyarakat perlu lebih waspada apabila keluhan berkembang menjadi penurunan nafsu makan hingga sesak napas.

Perhatian lebih juga diperlukan pada kelompok yang berisiko mengalami kondisi lebih berat, seperti lansia, anak-anak, dan ibu hamil. Pasien dengan penyakit penyerta, termasuk diabetes atau kencing manis dan gagal ginjal, juga perlu lebih berhati-hati ketika mengalami gejala influenza.

Salah satu hal yang menjadi perhatian dr. Edwin adalah kebiasaan mengonsumsi antibiotik ketika mengalami flu. Ia menegaskan, influenza disebabkan oleh virus sehingga antibiotik tidak digunakan untuk membunuh virus penyebab influenza. 

Antibiotik merupakan obat untuk menangani infeksi bakteri dan penggunaannya perlu berdasarkan indikasi medis. “Jangan baru flu sebentar sudah langsung diberi (obat) antibiotik karena penyebab influenza adalah virus, bukan bakteri,” tegasnya.

Antibiotik baru dapat dipertimbangkan apabila dokter menemukan adanya infeksi bakteri sekunder berdasarkan kondisi pasien. Karena itu, masyarakat tidak dianjurkan membeli atau mengonsumsi antibiotik sendiri hanya karena mengalami gejala flu.

Selain berisiko tidak memberikan manfaat terhadap infeksi virus, penggunaan antibiotik yang tidak tepat juga dapat berkontribusi terhadap masalah resistensi antimikroba, yakni kondisi ketika bakteri menjadi kebal terhadap obat yang sebelumnya efektif untuk mengatasinya.

Untuk membantu menjaga kondisi tubuh, dr. Edwin menganjurkan masyarakat mencukupi waktu istirahat dan tidur, memenuhi kebutuhan cairan, mengonsumsi makanan bergizi, serta tetap melakukan aktivitas fisik sesuai kondisi tubuh.

Kebiasaan mencuci tangan setelah beraktivitas di luar rumah maupun sebelum makan juga perlu dilakukan secara rutin untuk membantu mengurangi risiko penularan berbagai penyakit infeksi.

"Masyarakat yang mulai mengalami gejala seperti demam dan batuk juga dianjurkan menggunakan masker ketika beraktivitas di luar rumah," tuturnya.

Selain itu, etika batuk dan bersin perlu diterapkan dengan menutup hidung dan mulut menggunakan tisu atau siku bagian dalam apabila tidak membawa tisu.

Sebagai langkah pencegahan tambahan, vaksinasi influenza setiap tahun juga dapat dipertimbangkan, terutama bagi kelompok yang memiliki risiko lebih tinggi mengalami komplikasi.

"Dengan mengenali gejala, menerapkan kebiasaan hidup bersih, membatasi risiko penularan, dan menggunakan obat sesuai indikasi medis, masyarakat diharapkan dapat menangani influenza secara lebih tepat sekaligus menghindari penggunaan antibiotik yang tidak diperlukan," tutupnya. (*)

 

Reporter: Amanah
Editor: Lutfiyu Handi

 

Share:
Lenterasemarang.com.
Lenterasemarang.com.