SURABAYA (Lentera)- Peningkatan kasus Influenza A yang menyerang anak-anak menjadi perhatian masyarakat. Perubahan cuaca dan meningkatnya interaksi antarmanusia disebut menjadi sejumlah faktor yang dapat meningkatkan risiko penularan infeksi saluran pernapasan tersebut.
Ketua Lembaga Penyakit Tropis (LPT) sekaligus Dosen Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Airlangga (Unair), dr Priyo Budi Purwono MSi MKedKlin SpMK PhD, menjelaskan Influenza A merupakan salah satu tipe virus influenza yang dapat menginfeksi saluran pernapasan atas maupun bawah.
Penularan dapat terjadi melalui percikan air liur atau droplet ketika seseorang yang terinfeksi batuk dan bersin. Virus juga dapat berpindah melalui benda atau permukaan yang telah terkontaminasi, kemudian menyentuh hidung, mulut, atau mata.
Menurut Priyo, anak-anak menjadi kelompok yang lebih rentan terpapar karena belum sepenuhnya memahami batasan dalam berinteraksi dan menjaga kebersihan diri.
“Anak-anak lebih rentan karena mereka belum sepenuhnya memahami pembatasan dalam berinteraksi, termasuk kebiasaan menjaga higiene seperti menutup mulut ketika batuk atau bersin. Selain itu, sistem imunitas anak masih dalam tahap perkembangan sehingga lebih rentan terinfeksi,” jelasnya, Senin (28/9/2026).
Priyo mengatakan, gejala Influenza A umumnya mulai muncul setelah masa inkubasi sekitar satu hingga tujuh hari. Gejala yang dapat muncul antara lain demam, nyeri tubuh, pilek, nyeri saat menelan, dan batuk.
Meski demikian, gejala tersebut tidak secara spesifik menunjukkan Influenza A. Secara klinis, gejalanya dapat menyerupai berbagai infeksi saluran pernapasan lainnya sehingga diagnosis tidak dapat dipastikan hanya berdasarkan gejala. “Gejala secara klinis sulit dibedakan dengan infeksi saluran pernapasan lainnya,” ujarnya.
Untuk memastikan infeksi, pemeriksaan lebih lanjut dapat dilakukan sesuai kondisi pasien. Salah satunya melalui pemeriksaan usap atau swab dari hidung maupun tenggorokan. Dokter juga dapat merekomendasikan pemeriksaan penunjang lain, seperti foto rontgen dada, apabila terdapat indikasi medis.
Priyo mengungkapkan, sebagian besar kasus Influenza A, berada pada tingkat ringan hingga sedang. Namun, orang tua tetap perlu memperhatikan kondisi anak, terutama apabila terjadi penurunan nafsu makan yang dapat berdampak pada asupan nutrisi dan daya tahan tubuh.
Komplikasi yang perlu diwaspadai adalah radang paru-paru atau pneumonia. Kondisi tersebut dapat menjadi lebih berat apabila peradangan pada paru-paru mengganggu proses pertukaran oksigen.
“Komplikasi yang perlu diwaspadai adalah radang paru-paru. Jika peradangan semakin berat ditandai dengan sesak napas, bunyi napas tambahan dan menyebabkan hipoksemia. Pada kondisi yang lebih berat, pasien dapat mengalami sesak hingga kegagalan napas,” ungkapnya.
Untuk itu, orang tua perlu memperhatikan perubahan kondisi anak selama mengalami gejala infeksi saluran pernapasan. Jika kondisi semakin berat, terutama disertai gangguan pernapasan, anak perlu segera mendapatkan pemeriksaan dan penanganan medis.
Priyo mengingatkan pencegahan penularan Influenza A dapat dilakukan dengan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat. Langkah tersebut antara lain menjaga kebersihan tangan, menerapkan etika batuk dan bersin, mengurangi interaksi dengan orang lain ketika sedang sakit, serta menjaga kebugaran tubuh.
Selain itu, istirahat yang cukup dan konsumsi makanan bergizi juga penting untuk membantu menjaga kondisi tubuh. Vaksin influenza juga dapat menjadi salah satu upaya pencegahan.
Priyo mengimbau masyarakat tidak perlu panik menghadapi peningkatan kasus Influenza A.
Namun, kewaspadaan tetap diperlukan, terutama dengan mengenali gejala dan tanda bahaya sejak dini. “Tidak perlu panik. Kita bisa belajar dari pengalaman pandemi sebelumnya dengan menjaga kesehatan dan kebugaran tubuh. Jika kondisi semakin parah, berkonsultasi dengan dokter atau fasilitas kesehatan agar mendapatkan penanganan yang sesuai,” pungkasnya. (*)
Reporter: Amanah
Editor: Lutfiyu Handi




.jpg)
