20 September 2026

Get In Touch

Terus Terjadi, 58 Siswa di Kota Kendari Mual dan Pusing Usai Menyantap Menu MBG

SPPG Watubangga, Kecamatan Baruga, Kota Kendari, Sulawesi Tenggara yang dihentikan sementara oeprasionalnya oleh BGN.. (foto:ist/Ant)
SPPG Watubangga, Kecamatan Baruga, Kota Kendari, Sulawesi Tenggara yang dihentikan sementara oeprasionalnya oleh BGN.. (foto:ist/Ant)

KENDARI (Lentera) – Sebanyak 58 pelajar madrasah tsanawiah (MTs) dan madrasah aliyah (MA) Al Askar di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara, dilarikan ke empat fasilitas kesehatan (faskes) karena mengeluh mual dan pusing usai menyantap menu Makanan Bergizi Gratis (MBG), Jumat (18/9/2026). 

Keempat faskes tersebut yakni Puskesmas Lepo-Lepo, RSUD Bahteramas, Rumah Sakit Dewi Sartika Kendari, dan Puskesmas Ranomeeto, Kabupaten Konawe Selatan. 

Sekretaris Satgas MBG Kota Kendari, Abdul Rauf mengatakan pihaknya kangsung menuju Puskesmas Lepo-Lepo begitu mendapatkan kabar. Di sini ada 27 pelajar menjalani perawatan, dari jumlah tersebut empat orang telah membaik dan diperbolehkan pulang. 

“Saya selaku Sekretaris Satgas MBG Kota Kendari langsung berada di tempat kejadian ini, khususnya yang ada di Puskesmas Lepo-Lepo. Yang menjadi tanggung jawab pemerintah sampai mereka benar-benar pulih. Pemerintah bertanggung jawab memberikan rasa nyaman, yang penting mereka bisa sehat kembali,” ungkap Rauf saat ditemui di Puskesmas Lepo-Lepo, Jumat (18/9/2026) malam mengutip Kompas.com, Minggu (20/9/2026). 

Abdul Rauf yang juga Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kota Kendari itu menjelaskan, MBG yang dikonsumsi para pelajar tersebut berasal dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kelurahan Watubangga, Kecamatan Baruga, Kota Kendari. 

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kota Kendari, Ellfi mengatakan gejala awal yang dirasakan para pelajar berupa mual, muntah, dan pusing. 

Meski demikian, hingga Jumat malam, pihaknya belum menemukan adanya pelajar yang mengalami kehilangan kesadaran. 

“Mudah-mudahan kita tidak ketemu sampai jam ini. Mulai dari sore setelah shalat Ashar sampai sekarang, sebagian besar anak-anak pada umumnya sudah semakin membaik. Tinggal kita pastikan mereka sudah siap secara psikologis untuk kembali ke pesantren dan beraktivitas seperti sedia kala,” kata Ellfi. 

Ia menegaskan, hingga saat ini belum ada rencana pemindahan pasien ke rumah sakit lanjutan. Hal itu karena kondisi para pelajar dinilai belum menunjukkan gejala yang membutuhkan penanganan serius. 

“Kalau jumlahnya bertambah, tentu akan kita evaluasi kembali,” ujarnya. 

Selain memantau kondisi para pelajar, petugas juga telah mengambil sampel makanan yang dikonsumsi untuk dilakukan pemeriksaan laboratorium. 

“Nanti hasil pemeriksaan akan dirilis oleh teman-teman Laboratorium Kesehatan Provinsi Sulawesi Tenggara,” ujarnya. 

Ellfi menambahkan, tenaga kesehatan terus memberikan penanganan, serta memastikan seluruh kebutuhan pelayanan kesehatan para pelajar terpenuhi. 

Pihaknya juga melakukan pemantauan terhadap pelajar lain yang turut mengonsumsi makanan tersebut, dan hingga kini masih dalam kondisi sehat. 

“Kalau ada salah satu pelajar atau beberapa siswa yang mengalami gejala yang sama dengan teman-teman sebelumnya, mereka langsung dibawa ke fasilitas kesehatan untuk mendapatkan pertolongan secepatnya,” imbuhnya.

SPPG Dihentikan Sementara

Sementara itu, usai kejadian pihak Badan Gizi Nasional (BGN) menghentikan sementara SPPG Watubangga Baruga, Kota Kendari, Sulawesi Tenggara, setelah 57 pelajar mengalami keluhan kesehatan usai menyantap menu MBG.

Kepala Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi (KPPG) Kota Kendari, Mulyadi mengatakan penghentian sementara distribusi MBG, sejak Sabtu (19/9/2026) kepada penerima manfaat tersebut, dilakukan berdasarkan hasil evaluasi BGN.

"SPPG Kota Kendari Baruga Watubangga telah mendapat Surat Pemberhentian Operasional Sementara dari Deputi Bidang Pemantauan dan Pengawasan BGN," katanya saat dihubungi mengutip Antara, Minggu (20/9/2026).

Mulyadi mengatakan, selama penghentian sementara tersebut, SPPG Watubangga diminta tidak memproduksi maupun menyalurkan makanan kepada penerima manfaat MBG hingga ada keputusan lebih lanjut dari BGN.

Menurutnya, BGN belum menentukan batas waktu penghentian operasional, karena masih melakukan evaluasi secara menyeluruh.

Saat ini, lanjutnya, SPPG Watubangga juga terus memantau kondisi para pelajar yang mengalami keluhan kesehatan guna memastikan mereka mendapatkan penanganan medis hingga pulih.

Berdasarkan data internal SPPG, sebanyak 57 pelajar mengalami keluhan kesehatan setelah menyantap MBG. Mereka mayoritas merupakan pelajar MTs Al Askar Kendari dan MA Al Askar Kendari.

"SPPG Kota Kendari Baruga Watubangga melakukan koordinasi dengan pihak sekolah, fasilitas kesehatan, pemerintah daerah, serta pihak terkait lainnya untuk memastikan seluruh siswa mendapatkan penanganan medis," ujarnya.

Mulyadi menambahkan, BGN menanggung biaya pengobatan dan perawatan para pelajar di Rumah Sakit Bahteramas, Rumah Sakit Dewi Sartika, serta Puskesmas Lepo-Lepo.

Sementara itu, Kepala Puskesmas Lepo-Lepo Baruga, Dewi Sultriana mengatakan masih terdapat dua pelajar yang menjalani perawatan, dari total 28 orang yang sebelumnya dibawa ke fasilitas kesehatan tersebut.

"Kalau kesehatan mereka sudah membaik dari waktu mereka masuk, hanya keluhannya masih ada yang pusing-pusing," kata Dewi.

Ia mengatakan, petugas puskesmas terus memantau kondisi kesehatan para pelajar, termasuk kondisi psikologis mereka karena rata-rata berusia 12 hingga 15 tahun.

"Termasuk kondisi psikologis mereka kami pantau, karena masih ada pelajar yang belum dijenguk sama keluarga mereka," ujarnya.

Menurut Dewi, para pelajar tersebut rata-rata berasal dari Kabupaten Konawe Kepulauan, Konawe Selatan, dan Bombana berdasarkan data pada kartu layanan jaminan sosial mereka.

 

Editor: Arief Sukaputra/Berbagai sumber

 

Share:
Lenterasemarang.com.
Lenterasemarang.com.