SURABAYA (Lentera) — Universitas Ciputra (UC) Surabaya memberangkatkan lebih dari 1.000 mahasiswa untuk menjalani program magang di berbagai perusahaan nasional maupun internasional. Agar proses pendampingan tidak berhenti pada aspek administratif, UC juga membekali sekitar 100 dosen pembimbing dengan perspektif dan kebutuhan dunia industri.
Pembekalan tersebut dilakukan melalui ICE Office (Internship, Certification & Employability) UC dengan mengangkat tema “Transforming Workplace Experience into Professional Development: The Strategic Role of Academic Supervisors”.
Program magang tahun ini menempatkan mahasiswa di berbagai perusahaan dan institusi, mulai dari BCA, Avian Brands, Wings, Sido Muncul, Semen Indonesia, Ciputra Group, Apple Developer Academy, hingga sejumlah jaringan hotel dan perusahaan internasional.
Keterlibatan dosen dalam pembekalan menjadi bagian penting dari upaya UC memastikan pengalaman magang mahasiswa dapat diterjemahkan menjadi proses pembelajaran.
Dosen pembimbing tidak hanya dituntut memantau mahasiswa, tetapi juga memahami dinamika dunia kerja, kebutuhan perusahaan, serta kompetensi yang dibutuhkan talenta muda.
Head Internship, Certification & Employability UC Atanasius Emillio Gary Waluyohadi mengatakan, pemahaman terhadap kebutuhan industri perlu dimiliki baik oleh mahasiswa maupun dosen yang mendampingi mereka.
“Kalau kita ingin mahasiswa benar-benar belajar dari industri, dosen yang mendampingi juga harus terus mendengar dan memahami kebutuhan industri. Jadi, hubungan kampus dan industri tidak berhenti pada penempatan mahasiswa magang, tetapi menjadi proses belajar dua arah,” ujarnya, Rabu (9/9/2026).
Perspektif dari praktisi industri kemudian diperkuat dalam kegiatan Internship Onboarding yang diikuti lebih dari 1.000 mahasiswa sebelum memasuki tempat magang.
Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa tidak hanya menerima informasi mengenai teknis keberangkatan dan administrasi.
Mereka juga mendapatkan gambaran mengenai budaya kerja, komunikasi profesional, ekspektasi perusahaan, serta tantangan yang mungkin dihadapi ketika untuk pertama kalinya memasuki lingkungan kerja.
Selama menjalani magang, mahasiswa juga menggunakan logbook untuk mencatat aktivitas dan pengalaman yang diperoleh selama berada di perusahaan. Catatan tersebut selanjutnya mendapat persetujuan dari supervisor di tempat magang.
"Sistem tersebut memungkinkan proses magang berjalan lebih terarah sekaligus membantu kampus memantau aktivitas mahasiswa. Pengalaman kerja yang diperoleh mahasiswa juga dapat dikaitkan dengan capaian pembelajaran dan pengembangan kompetensi mereka," tuturnya
Sementara itu, Vice Rector for Student Affairs, Employability, and Industry Collaboration UC Prof. Dr. Trianggoro Wiradinata menilai, perguruan tinggi perlu terus mengikuti perkembangan dunia profesional agar pendidikan yang diberikan tetap relevan dengan kebutuhan pekerjaan.
“Universitas tidak bisa hanya mengajarkan apa yang ada di dalam kelas. Kami perlu memahami apa yang sedang terjadi di dunia profesional dan membawa perspektif itu kembali ke proses pendidikan. Sebaliknya, industri juga perlu melihat bagaimana kampus menyiapkan talenta muda. Di situlah jembatan itu dibangun,” katanya.
Dengan pendekatan tersebut, UC menempatkan program magang bukan sekadar sebagai kewajiban akademik sebelum mahasiswa lulus. Magang diarahkan menjadi ruang pembelajaran yang mempertemukan pengalaman mahasiswa di dunia kerja, pendampingan akademik dari kampus, dan kebutuhan industri.
"Melalui keterhubungan tersebut, pengalaman mahasiswa selama berada di industri diharapkan tidak berhenti setelah masa magang berakhir, tetapi menjadi bagian dari proses pengembangan kompetensi dan kesiapan mereka memasuki dunia profesional," tutupnya. (*)
Reporter: Amanah
Editor: Lutfiyu Handi




.jpg)
