05 September 2026

Get In Touch

Pemkot Surabaya Perkuat Ketahanan Pangan Lewat Urban Farming, 1.361 RW Dilibatkan

Peluncuran program Surabaya Urban Farming Competition (SUFC) 2026.
Peluncuran program Surabaya Urban Farming Competition (SUFC) 2026.

SURABAYA (Lentera) – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya menargetkan panen cabai rawit dan bawang merah dari program Surabaya Urban Farming Competition (SUFC) 2026 pada awal Desember. Momentum panen tersebut diharapkan dapat menambah pasokan dua komoditas yang kerap mengalami kenaikan permintaan menjelang Natal dan Tahun Baru (Nataru).

Memasuki tahun kelima, SUFC tidak lagi diarahkan sebatas kompetisi, tetapi menjadi gerakan masyarakat untuk memperkuat ketahanan pangan dari lingkungan perkotaan. Program yang digelar Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Surabaya itu resmi diluncurkan pada Jumat (4/9/2026) di Graha Sawunggaling.

Asisten Administrasi Umum Sekretariat Daerah Kota Surabaya, Anna Fajriatin, mengatakan pengembangan urban farming tahun ini akan disinergikan dengan program Kampung Pancasila, khususnya pada pilar lingkungan. Lomba Kampung Pancasila melibatkan seluruh 1.361 RW di Surabaya.

“Di tahun 2026 ini akan menjadi sebuah sinergi yang hebat. Program dari Dinas Ketahanan Pangan melalui Urban Farming Competition akan bersinergi dengan Lomba Kampung Pancasila,” kata Anna.

Menurutnya, kolaborasi tersebut diharapkan menjadikan urban farming sebagai gerakan bersama di tingkat kewilayahan. Dengan demikian, upaya memperkuat ketahanan pangan tidak hanya dilakukan pemerintah, tetapi juga dimulai dari lingkungan terdekat masyarakat.

“Urban farming ini tidak hanya menjadi kegiatan lomba, tetapi menjadi gerakan bersama di setiap wilayah. Dengan keterlibatan 1.361 RW, kita ingin membangun ketahanan pangan mulai dari lingkungan masing-masing,” tuturnya.

Sementara itu, Kepala DKPP Surabaya Nanik Sukristina mengatakan SUFC 2026 mendorong masyarakat memanfaatkan berbagai ruang di kawasan perkotaan untuk menghasilkan pangan. Lahan yang dapat dimanfaatkan antara lain pekarangan rumah, lahan aset, fasilitas umum, hingga lahan yang selama ini belum termanfaatkan.

“Ketahanan pangan kita mulai dari skala rumah tangga. Setelah itu, secara bertahap bisa dikembangkan ke skala yang lebih luas, misalnya tingkat RW,” kata Nanik.

Tahun ini, SUFC memiliki empat kategori, yakni Urban Farming Terintegrasi atau Terpadu, Kuantitas Bawang Merah, Kuantitas Cabai Rawit, dan Urban Farming Pemua. Kategori urban farming terpadu menjadi salah satu pembeda karena menggabungkan kegiatan pertanian dengan unsur perikanan dan peternakan.

Untuk kategori kelompok tani, peserta membudidayakan cabai rawit dan bawang merah. Panitia menyediakan 30 bibit bawang merah dan satu paket benih cabai rawit. Sementara itu, media tanam dan perlengkapan budidaya disiapkan secara mandiri oleh peserta.

Penanaman dan pemeliharaan dimulai pada 6 September 2026. Selama kompetisi berlangsung, DKPP bersama stakeholder dan mitra pendukung akan melakukan monitoring serta pendampingan. Penilaian tidak hanya didasarkan pada hasil akhir, tetapi juga proses pemeliharaan dan produktivitas sesuai kategori.

“Yang ingin kita dorong adalah bagaimana masyarakat bisa ikut memperkuat ketahanan pangan melalui urban farming. Pengetahuan dan pengalaman selama kompetisi diharapkan dapat diterapkan dan dikembangkan di lingkungan masing-masing, sehingga produksi pangan bisa terus berjalan,” ujarnya.

Nanik menambahkan, rangkaian SUFC dirancang agar panen berlangsung pada awal Desember. Hasil panen tersebut diharapkan dapat menambah pasokan cabai dan bawang merah saat permintaan masyarakat mulai meningkat menjelang akhir tahun.

“Panen tersebut diharapkan dapat turut menekan angka inflasi. Menjelang akhir tahun, Natal dan Tahun Baru, biasanya terjadi peningkatan permintaan yang dapat mendorong kenaikan harga komoditas seperti cabai dan bawang merah,” jelasnya.

Melalui pengembangan urban farming, Pemkot Surabaya mendorong lahan-lahan perkotaan menjadi lebih produktif sekaligus membangun kemandirian pangan dari tingkat rumah tangga hingga kewilayahan.

Sinergi dengan Kampung Pancasila juga diharapkan membuat gerakan menanam tidak berhenti setelah kompetisi berakhir, tetapi terus berkembang dan memberikan manfaat bagi masyarakat di masing-masing wilayah.

“Sinergi dengan Kampung Pancasila juga diharapkan membuat gerakan menanam terus berkembang dan memberikan manfaat setelah kompetisi berakhir,” pungkasnya. (*)

 

Reporter: Amanah
Editor: Lutfiyu Handi

Share:
Lenterasemarang.com.
Lenterasemarang.com.