TRENGGALEK (Lentera) – Pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Trenggalek masih perlu sejumlah pembenahan untuk memastikan makanan yang disajikan aman dikonsumsi. Dinas Kesehatan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes PPKB) Trenggalek menemukan beberapa catatan dalam penerapan standar operasional prosedur (SOP), mulai dari penggunaan alat pelindung diri, penataan bahan di gudang, hingga pemisahan peralatan untuk makanan mentah dan matang guna mencegah kontaminasi silang.
Temuan tersebut diketahui dalam monitoring dan evaluasi yang dilakukan Dinkes Trenggalek terhadap pelaksanaan MBG. Kegiatan ini melibatkan Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dan pengawas gizi untuk melihat penerapan standar keamanan pangan di setiap tahapan penyediaan makanan.
Plt Kepala Dinkes PPKB Trenggalek, Andiek Muarifin, mengatakan evaluasi dilakukan secara rutin sebagai bagian dari pengawasan terhadap penyelenggaraan MBG. Pemeriksaan tidak hanya dilakukan saat makanan diolah, tetapi juga mencakup proses penyimpanan hingga makanan didistribusikan kepada penerima manfaat.
"Monitoring ini kami lakukan secara berkala untuk melihat pelaksanaan MBG secara menyeluruh. Kami juga memberikan masukan kepada pengelola SPPG apabila masih ada tahapan yang perlu diperbaiki, mulai pengolahan, penyimpanan, sampai distribusi," kata Andiek.
Salah satu perhatian Dinkes adalah penerapan SOP oleh penjamah makanan. Aspek yang diperiksa antara lain kebersihan diri, penggunaan APD, kebiasaan mencuci tangan dengan sabun, serta pengelolaan dan penataan bahan makanan.
Dari hasil pemantauan, masih ditemukan perlengkapan yang seharusnya tidak berada di tempat penyimpanan bahan makanan. Kondisi tersebut dinilai perlu dibenahi untuk menjaga kebersihan lingkungan penyimpanan.
"Di area penyimpanan masih kami temukan barang seperti sabun pel maupun sabun mandi yang ditempatkan bersama. Barang-barang seperti itu harus dipisahkan dari area bahan makanan karena tidak berkaitan dengan penyimpanan pangan," ujarnya.
Selain persoalan penyimpanan, Dinkes juga memberikan perhatian pada penggunaan peralatan pengolahan makanan. Peralatan yang digunakan untuk bahan mentah harus dibedakan dengan peralatan yang digunakan untuk makanan matang.
Menurut Andiek, pemisahan tersebut penting karena penggunaan alat yang sama dapat meningkatkan risiko perpindahan bakteri dari bahan mentah ke makanan yang telah matang.
"Peralatan untuk bahan mentah dan makanan matang harus dibedakan. Kalau menggunakan alat yang sama, ada risiko terjadinya kontaminasi silang sehingga kebersihan dan keamanan makanan bisa terganggu," jelasnya.
Dinkes menilai penerapan SOP harus dilakukan secara konsisten oleh seluruh pengelola SPPG. Setiap temuan dalam monitoring diharapkan tidak hanya menjadi catatan, tetapi segera ditindaklanjuti agar persoalan yang sama tidak kembali terjadi.
Andiek menyebut pengalaman dari kejadian sebelumnya juga menjadi bahan evaluasi dalam memperkuat pengawasan pelaksanaan MBG di Trenggalek.
"Yang sudah berjalan baik harus terus dipertahankan, sedangkan setiap kekurangan harus segera diperbaiki. Kami ingin setiap evaluasi menjadi pengingat agar pelaksanaan MBG semakin konsisten dan kejadian yang tidak diharapkan tidak terulang," katanya.
Upaya menjaga keamanan pangan juga dinilai tidak hanya menjadi tanggung jawab pengelola SPPG. Dinkes turut mendorong penerima manfaat menerapkan perilaku hidup bersih sebelum mengonsumsi makanan yang diterima.
Edukasi mengenai kebiasaan mencuci tangan menggunakan sabun menjadi salah satu hal yang ditekankan, sehingga upaya menjaga keamanan makanan dilakukan mulai dari proses penyediaan hingga sebelum makanan dikonsumsi.
"Perilaku penerima manfaat juga menjadi bagian penting. Sebelum makan, mereka perlu dibiasakan mencuci tangan menggunakan sabun agar kebersihan tetap terjaga sampai makanan dikonsumsi," pungkas Andiek. (*)
Reporter: Herlambang
Editor: Lutfiyu Handi





.jpg)
