02 September 2026

Get In Touch

Sedang Tren di Cina: Batu Menjadi Peliharaan

Sedang Tren di Cina: Batu Menjadi Peliharaan

SURABAYA ( LENTERA ) - Apa yang dilakukan seseorang ketika memiliki hewan peliharaan, tetapi tidak mempunyai cukup waktu, ruang, atau biaya untuk merawatnya?

Sebagian anak muda di Shanghai, China, tampaknya menemukan jawaban yang tidak lazim: memelihara batu bata.

Pada awal pekan kedua Agustus 2026, situs berita dan budaya pop Beijing, Sanlian Lifeweek, melaporkan munculnya tren memelihara batu bata di kalangan anak muda Shanghai. Mereka memungut batu dari tepian sungai, reruntuhan bangunan, pinggir jalan, hingga lokasi konstruksi, kemudian membawanya pulang.

Batu tersebut kemudian dirawat sebagaimana benda peliharaan. Salah satu bentuk perawatannya adalah menyemprotkan air secara rutin agar lumut dan tumbuhan kecil dapat tumbuh di permukaannya.

South, pengguna Douyin, mengunggah foto batu bata peliharaannya yang mulai ditumbuhi lumut dan tumbuhan kecil. Dalam takarir unggahannya, ia menulis, “Memelihara batu bata lebih baik ketimbang memelihara kucing atau anjing; mereka tidak lari-lari, tidak berisik, bahkan tidak berbulu.”

Bagi Kai, seorang pria lajang yang tinggal sendirian di Shanghai, aktivitas tersebut sebenarnya bukan sesuatu yang dianggap penting.

“Memelihara batu bata adalah hal paling tidak penting dalam hidup saya...,” kata Kai, seperti dikutip Sanlian Lifeweek.

Namun, batu tersebut tetap memiliki tempat dalam kesehariannya. Setiap kali pulang ke apartemen, Kai menyempatkan diri menyemprotkan air ke batu peliharaannya. Ia mengaku menemukan batu tersebut ketika mendaki gunung, setelah sebelumnya melihat seseorang di media sosial memelihara batu.
Bagi Kai, fungsi batu bukan terletak pada kemampuannya untuk bergerak atau memberikan respons.

“Meski batu itu tidak bergerak atau bersuara, Anda tidak merasa benar-benar sendirian. Memelihara batu bata menjadi salah satu cara bagi orang yang hidup sendirian agar tidak terjebak nihilisme,” ujarnya.

Momo, pemuda lain yang mengikuti tren tersebut, menggambarkan proses merawat batu seperti operasi tanam rambut. Selama dua pekan pertama, tidak terlihat perubahan berarti sehingga aktivitas menyemprot batu dapat terasa sia-sia. Namun, ketika lumut mulai muncul, muncul pula perasaan senang karena melihat perkembangan dari benda yang dirawat.

Fenomena ini memperlihatkan bahwa sesuatu yang tidak bernyawa dapat memperoleh fungsi emosional ketika manusia memberikan perhatian dan makna kepadanya.

Tren memelihara batu sebenarnya bukan fenomena baru di Cina.
Sebelum muncul sebagai aktivitas yang dilakukan secara mandiri oleh anak muda Shanghai pada 2026, batu peliharaan telah lebih dahulu berkembang sebagai produk komersial di platform digital Cina.

Pada 2024, batu peliharaan mulai ramai diperjualbelikan di Xiaohongshu dan Taobao. Kerikil biasa dipasarkan sebagai “hewan peliharaan” yang dilengkapi nama, sertifikat adopsi, identitas, bahkan karakter dan tipe MBTI.

Pada Agustus 2024, penjualan batu peliharaan di platform e-commerce Cina dilaporkan meningkat 246 persen secara bulanan. Pada Oktober tahun yang sama, Ifeng melaporkan bahwa toko batu peliharaan terlaris di Taobao telah menjual lebih dari 1.000 paket batu dengan harga 29,9 yuan atau sekitar Rp78.000 per batu.

Nilai ekonominya bukan berasal dari bahan dasar batu. Batu dapat ditemukan dengan mudah di lingkungan sekitar. Nilai tersebut muncul setelah batu diberi kemasan dan cerita.
Penjual menawarkan kotak hadiah, kartu adopsi, perjanjian adopsi, nama pemilik, tanggal batu ditemukan, serta identitas kepribadian batu berdasarkan MBTI.

Calon pembeli bahkan dapat meminta foto batu dari jarak dekat sebelum menentukan pilihan. Bentuk dan kontur batu kemudian diasosiasikan dengan karakter tertentu.
Produk pelengkap pun ikut bermunculan, mulai dari pakaian mini, topi Natal, tempat tidur, aksesori, hingga buku panduan perawatan.

Dengan demikian, transaksi tersebut tidak lagi sekadar memperjualbelikan benda alam. Konsumen membeli pengalaman dan makna yang dilekatkan pada benda tersebut.

Sixth Tone melaporkan pada November 2024 bahwa mayoritas pembeli batu peliharaan berasal dari kelompok perempuan Gen Z, khususnya mereka yang lahir setelah 1995. Salah satu faktor yang disebut ikut mendorong popularitasnya adalah karakter Otto dalam film Minions: The Rise of Gru (2022), yang digambarkan memiliki ketertarikan terhadap batu peliharaan.

Seorang guru berusia 25 tahun bernama Xie Xuan mengatakan kepada Sixth Tone bahwa mendandani batu mengingatkannya pada masa kecil ketika bermain rumah-rumahan.

Pembeli lain mengunggah batu peliharaannya di media sosial dan menyebut batu tersebut mempunyai MBTI yang sama dengannya, yakni ISTP. Batu itu kemudian diajak “rebahan bersama”.

Pet Rock dan Awal Tren pada 1975

Jauh sebelum fenomena tersebut muncul di Cina, gagasan memelihara batu pernah menjadi fenomena bisnis di Amerika Serikat.
Pada 1975, seorang pekerja agensi periklanan bernama Gary Dahl mencetuskan gagasan Pet Rock. Ide tersebut bermula dari percakapan di sebuah bar ketika teman-temannya mengeluhkan kesulitan memelihara hewan.

Dahl kemudian bercanda bahwa batu merupakan hewan peliharaan yang ideal karena tidak perlu diberi makan, dimandikan, atau diajak berjalan-jalan.

Lelucon tersebut kemudian berkembang menjadi bisnis.Dahl mengambil batu pantai biasa, memasukkannya ke dalam kotak kardus berlubang dengan alas jerami, lalu menjualnya sebagai Pet Rock seharga 3,95 dolar AS.
BBC melaporkan bahwa sekitar 1,5 juta batu terjual hanya dalam waktu enam bulan. Dari bisnis tersebut, Dahl memperoleh keuntungan sekitar 6 juta dolar AS.

Keberhasilan tersebut tidak bertahan lama. Setelah daya tarik kebaruan hilang, penjualan Pet Rock ikut menurun.

Namun, konsep yang diperkenalkan Dahl bertahan jauh lebih lama daripada produknya. Ide dasarnya sederhana: manusia dapat memberikan karakter dan fungsi sosial kepada benda yang sebenarnya tidak memiliki kehidupan.

Gagasan tersebut kemudian muncul kembali dalam bentuk yang berbeda di sejumlah negara.

Meluas ke Korea Selatan 

Di Korea Selatan, tren batu peliharaan mulai memperoleh perhatian sekitar 2021.
Berbeda dengan Pet Rock di Amerika Serikat yang pada awalnya lebih dekat dengan produk humor, batu peliharaan di Korea Selatan berkembang sebagai benda pendamping bagi orang yang hidup sendiri.

The Wall Street Journal melaporkan bahwa sejumlah pemilik batu memperlakukan benda tersebut seperti hewan peliharaan. Batu diberi nama, diberi aksesori, dan bahkan diajak berbicara.

Salah satu pemilik batu mengatakan kepada media tersebut bahwa memperlakukan batu seperti hewan peliharaan membuat hidup terasa tidak terlalu sepi dan menjadi lebih menarik.

Popularitasnya kemudian meningkat setelah sejumlah idol K-Pop memperlihatkan batu peliharaan mereka kepada penggemar.
Beberapa nama yang dikaitkan dengan tren tersebut antara lain Jeonghan dan DK dari Seventeen, Beomgyu dan Hueningkai dari TXT, Rocky, Hongjoong dari Ateez, serta Jake dari Enhypen.

Kehadiran batu peliharaan dalam budaya populer ikut memperluas penerimaan terhadap fenomena tersebut.

Jika sebelumnya batu dianggap sebagai benda mati yang tidak memiliki fungsi selain fungsi material, media sosial memungkinkan benda tersebut memperoleh identitas baru melalui cerita yang dibangun pemiliknya.

Fenomena Shanghai pada 2026 memperlihatkan perubahan lain.
Anak muda tidak harus membeli batu yang telah dikemas sebagai produk. Mereka dapat mengambilnya sendiri dari lingkungan sekitar.
Tidak ada sertifikat adopsi, MBTI, pakaian, atau kotak hadiah.

Yang diperlukan hanya batu bata, air, dan waktu untuk merawatnya.
Perubahan tersebut menunjukkan bahwa tren batu peliharaan tidak sepenuhnya bergantung pada aktivitas konsumsi. Pada tahap tertentu, nilai yang dicari bukan lagi barangnya, melainkan aktivitas merawat dan hubungan emosional yang dibangun terhadap benda tersebut.

Dalam konteks kehidupan perkotaan, fenomena ini muncul bersamaan dengan tekanan ekonomi, keterbatasan waktu, dan persoalan kesepian.

Sanlian Lifeweek menggambarkan fenomena tersebut sebagai respons yang muncul di antara pekerja muda perkotaan yang menghadapi kemiskinan, kesepian, dan kelelahan.

Memelihara hewan hidup membutuhkan biaya dan tanggung jawab yang lebih besar. Anjing dan kucing membutuhkan makanan, pemeriksaan kesehatan, ruang, serta perhatian rutin.

Batu tidak memiliki kebutuhan tersebut.
Karena itu, batu dapat menjadi bentuk aktivitas perawatan dengan tuntutan yang sangat rendah.

Perubahan Generasi Muda 

Fenomena tersebut juga dapat dikaitkan dengan perubahan pola konsumsi generasi muda.

Kajian Sushmita Kotian dalam International Journal of Global Research Innovations & Technology pada 2026 membahas pergeseran dari ownership atau kepemilikan menuju experience atau pengalaman.

Studi tersebut menyebut lebih dari 72 persen Gen Z dalam penelitiannya memprioritaskan pengeluaran untuk pengalaman dibandingkan sekadar mengumpulkan barang.

Pergeseran tersebut berkaitan dengan kondisi ketika sejumlah pencapaian hidup tradisional, seperti membeli rumah atau mobil, semakin sulit dicapai karena meningkatnya biaya hidup.
Akibatnya, sebagian generasi muda mengalihkan konsumsi ke bentuk yang lebih kecil dan memberikan kepuasan emosional.

Pola tersebut sejalan dengan konsep split-brain budgeting dari Visa, yakni kecenderungan konsumen untuk tetap berhemat pada kebutuhan pokok, tetapi menyediakan ruang untuk pengeluaran kecil yang memberikan kepuasan emosional.
Dalam konteks tersebut, merawat batu menjadi salah satu bentuk aktivitas yang sangat murah, tetapi dapat memberikan pengalaman personal.

Namun, menjelaskan tren ini hanya berdasarkan faktor ekonomi tidak sepenuhnya memadai.

Manusia telah memelihara atau memberikan karakter kepada benda mati jauh sebelum persoalan biaya hidup generasi muda menjadi perhatian.

Salah satu penjelasan dapat ditemukan dalam penelitian mengenai hubungan manusia dengan benda yang dimilikinya.

Studi Tina Kiesler dan Sara Kiesler berjudul My Pet Rock and Me: An Experimental Exploration of the Self-Extension Concept (2005) menggunakan batu sebagai objek eksperimen untuk melihat bagaimana seseorang memberikan bagian dari identitas dirinya kepada benda.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketika peserta merancang batu untuk dirinya sendiri, karakter yang mereka atribusikan kepada batu memiliki hubungan dengan cara mereka menggambarkan dirinya sendiri.

Konsep tersebut dikenal sebagai self-extension, yakni ketika benda yang dimiliki atau digunakan seseorang menjadi bagian dari cara ia mengekspresikan identitas dirinya.
Dalam konteks batu peliharaan, hal tersebut membantu menjelaskan mengapa seseorang dapat memberikan nama, karakter, bahkan tipe kepribadian kepada batu.

Batu tidak memiliki MBTI.Pemiliknyalah yang memberikan karakter tersebut.
Benda mati kemudian menjadi semacam penanda identitas yang memungkinkan pemiliknya memproyeksikan sebagian dirinya kepada benda tersebut.
Penjelasan lain berkaitan dengan hubungan sosial.

Studi kualitatif yang diterbitkan International Journal of Adolescence and Youth pada 2022 menunjukkan bahwa keterbatasan interaksi sosial dapat memperkuat rasa terasing. Dalam kondisi tertentu, anak muda dapat menggunakan strategi social withdrawal atau menarik diri dari interaksi sosial untuk mengurangi kecemasan dan tekanan yang muncul dalam hubungan sosial.

Batu menawarkan hubungan yang sama sekali berbeda.Ia tidak memberikan tuntutan sosial.
Tidak ada kewajiban untuk menjawab. Tidak ada konflik. Tidak ada penolakan. Tidak ada ekspektasi timbal balik.

Karena itu, bagi sebagian orang, keberadaan benda tersebut dapat menciptakan rasa kehadiran tanpa tuntutan relasional yang biasanya muncul dalam hubungan antarmanusia.(far,ist/dya)
 

Share:
Lenterasemarang.com.
Lenterasemarang.com.