SURABAYA (Lentera) - Persaingan memasuki dunia kerja menjadi tantangan tersendiri bagi generasi muda. Di tengah perubahan teknologi dan munculnya beragam profesi baru, mahasiswa dinilai perlu mempersiapkan kompetensi dan arah karier sejak awal perkuliahan, bukan baru menjelang lulus.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) nasional pada Mei 2026 berada di angka 4,65 persen. Namun, tingkat pengangguran pada kelompok usia muda 15–24 tahun justru meningkat menjadi 17,37 persen, dari 16,36 persen pada Februari 2026.
Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan Universitas Ciputra (UC) mendorong mahasiswa baru untuk mulai mengenali potensi diri, memahami kebutuhan industri, serta memetakan peluang karier dan bisnis sejak pekan pertama kuliah.
Upaya itu dilakukan melalui rangkaian Orientation Week (O-Week) 2026. Kegiatan tidak hanya diarahkan untuk mengenalkan lingkungan kampus kepada mahasiswa baru, tetapi juga menjadi tahap awal dalam membangun kesiapan mereka menghadapi dunia profesional.
“Pendidikan tinggi bukan hanya tentang bagaimana mahasiswa menyelesaikan studi dan memperoleh gelar. Yang lebih penting adalah bagaimana mereka menemukan potensinya, mengembangkan kompetensi yang relevan, serta memiliki kesiapan menghadapi perubahan dunia profesional,” ujar Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Kesiapan Kerja, dan Kolaborasi Industri Universitas Ciputra, Prof. Dr. Trianggoro Wiradinata, Senin (31/8/2026).
Menurut Trianggoro, kesiapan kerja tidak seharusnya baru dibangun ketika mahasiswa mendekati wisuda. Mahasiswa perlu memanfaatkan masa kuliah untuk memahami kekuatan diri, membangun kompetensi, memperluas pengalaman, dan mengenali perkembangan dunia industri.
Salah satu rangkaian O-Week 2026 adalah Industry Visit yang berlangsung pada 24–27 Agustus 2026. Melalui kegiatan ini, mahasiswa baru diperkenalkan secara langsung dengan lingkungan industri yang relevan dengan bidang studi mereka.
Ia menjelaskan, mahasiswa bidang teknologi, misalnya, diperkenalkan dengan penerapan teknologi di industri. Mahasiswa bisnis melihat secara langsung lingkungan profesional dan pengelolaan bisnis. Sementara mahasiswa desain dan komunikasi berinteraksi dengan industri kreatif dan media.
Pengalaman serupa juga diberikan kepada mahasiswa dari bidang pangan, kuliner, hospitality, dan arsitektur melalui kunjungan ke lingkungan industri yang sesuai dengan bidang keilmuan mereka.
"Kegiatan tersebut diharapkan membuat mahasiswa memahami bahwa program studi yang dipilih memiliki keterkaitan langsung dengan kebutuhan dan peluang di dunia profesional," jelasnya.
Dosen Pendamping Pelaksana O-Week 2026 Universitas Ciputra, Louisa Christina Hartanto, S.I.Kom., M.Si., CCP., mengatakan, pengalaman melihat industri sejak awal dapat membantu mahasiswa mulai menentukan arah pengembangan dirinya.
“Di balik setiap bidang ilmu ada dunia profesional dengan kebutuhan, tantangan, dan peluangnya masing-masing. Ketika mahasiswa melihat langsung industri sejak awal kuliah, kami berharap mereka mulai bertanya kepada dirinya sendiri: saya ingin berkembang menjadi siapa, kekuatan apa yang saya miliki, dan kompetensi apa yang harus saya bangun selama kuliah,” ujarnya.
Dengan demikian, mahasiswa tidak hanya memahami teori di ruang kelas, tetapi juga memiliki gambaran mengenai keterampilan yang dibutuhkan ketika nantinya memasuki dunia kerja.
Selain mengenalkan industri konvensional, O-Week 2026 juga mengajak mahasiswa memahami perubahan lanskap pekerjaan dan bisnis di era digital.
Salah satunya melalui sesi bersama Edho Zell bertajuk “Bagi Gen Z, Konten Bukan Sekadar Hiburan: Bisa Jadi Jalan Membangun Bisnis.”
Materi tersebut mengangkat perkembangan creator economy, yakni ekosistem ekonomi yang berkembang dari aktivitas menciptakan konten dan membangun audiens di platform digital.
Dalam ekosistem tersebut, kemampuan membuat konten dapat dikembangkan menjadi personal branding, membangun komunitas, memasarkan produk, hingga menciptakan peluang bisnis.
Bagi mahasiswa, pemahaman terhadap perkembangan tersebut penting karena dunia kerja tidak lagi hanya menawarkan jalur profesi konvensional. Perkembangan teknologi turut melahirkan jenis pekerjaan, model bisnis, dan sumber penghasilan baru.
Trianggoro mengatakan, mahasiswa perlu memiliki kemampuan beradaptasi dengan perubahan tersebut. Pendidikan entrepreneurship, menurut dia, dapat membantu mahasiswa tidak hanya mencari peluang kerja, tetapi juga mengidentifikasi kebutuhan dan menciptakan peluang.
“Dunia profesional yang akan dihadapi mahasiswa hari ini berubah sangat cepat. Ada profesi yang beberapa tahun lalu bahkan belum banyak dikenal, ada model bisnis baru, dan ada peluang yang terus lahir dari perkembangan teknologi serta perubahan perilaku masyarakat,” katanya.
Menurut Trianggoro, kesiapan menghadapi dunia profesional pada akhirnya merupakan proses yang dibangun secara bertahap selama mahasiswa menjalani pendidikan.
“Perjalanan itu dapat dimulai sejak hari pertama kuliah: mengenali siapa dirinya, memahami dunia yang akan dihadapi, lalu mulai memikirkan peluang apa yang ingin ia ciptakan,” pungkasnya. (*)
Reporter: Amanah
Editor: Lutfiyu Handi





.jpg)
