02 September 2026

Get In Touch

Muktamar Ke-35 NU di Jombang, LPJ Gus Yahya Diterima dengan Mulus

Gus Yahya usai LPJ yang disampaikannya diterima secara aklamasi oleh peserta Muktamar Ke-35 NU di Jombang, Jumat (28/8/2026).
Gus Yahya usai LPJ yang disampaikannya diterima secara aklamasi oleh peserta Muktamar Ke-35 NU di Jombang, Jumat (28/8/2026).

JOMBANG (Lentera) — Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode 2021-2026 yang disampaikan Ketua Umum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), diterima secara aklamasi oleh seluruh peserta Muktamar ke-35 NU, Jumat (28/8/2026).

Penyampaian dokumen pertanggungjawaban kepengurusan tersebut, berlangsung penuh khidmat di Gedung Serbaguna (GSG) KH Hasbullah Ahmad Said Tambakberas, Jombang, Jawa Timur.

Forum tertinggi organisasi tersebut dihadiri oleh jajaran syuriyah, tanfidziyah, serta utusan Pengurus Wilayah dan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama dari seluruh Indonesia hingga perwakilan luar negeri.

Dalam pidatonya, sosok yang akrab disapa Gus Yahya tersebut, mengawali laporan dengan mengingat kembali amanah besar yang dimandatkan kepadanya pada Muktamar lima tahun silam.

Ia menyampaikan, bahwa seluruh jajaran PBNU telah berikhtiar maksimal dalam menjalankan roda organisasi di tengah berbagai tantangan dan perubahan zaman yang dinamis.

"Para masyayikh, para kiai, para muktamirin yang kami hormati, lima tahun yang lalu kami menerima amanah ini. Sekarang, kami izin untuk menyampaikan penjelasan atas segala ikhtiar yang telah kami kerjakan," ucap Gus Yahya di hadapan peserta muktamar.

Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin Rembang ini, secara terbuka mengakui bahwa perjalanan kepengurusan PBNU masa khidmah 2021–2026 tidak lepas dari berbagai keterbatasan.

Menurutnya, PBNU terus berupaya merespons perkembangan global dengan mengambil berbagai kebijakan strategis demi kemajuan jamiyyah dan kemaslahatan umat.

Ia memaparkan, bahwa sejumlah program kerja yang dicanangkan berhasil direalisasikan dengan baik, meski beberapa agenda lainnya masih membutuhkan waktu serta penyempurnaan di masa depan.

"Ada yang berhasil, ada yang belum sempurna, ada yang masih membutuhkan waktu, dan ada yang mungkin terdapat keputusan-keputusan kami yang sebetulnya kelak dinilai perlu diperbaiki," sambungnya.

Atas segala kekurangan dan ketidaksempurnaan selama lima tahun memimpin PBNU, Gus Yahya secara tulus menyampaikan permohonan maaf yang mendalam kepada seluruh warga nahdliyin.

Permohonan maaf tersebut ditujukan kepada jajaran pengurus di semua tingkatan, para ulama, serta seluruh elemen masyarakat yang menjadi bagian dari perjalanan organisasi.

Usai LPJ diterima secara bulat tanpa catatan penolakan dari muktamirin, Gus Yahya meluapkan rasa syukur, atas kepercayaan yang diberikan oleh seluruh utusan cabang dan wilayah.

Ia menilai, penerimaan LPJ secara aklamasi bukan sekadar prosedur formalitas untuk menggugurkan kewajiban konstitusional kepengurusan yang telah habis masa bakturnya.

Lebih dari itu, kesepakatan bulat para muktamirin mencerminkan kuatnya rasa kebersamaan, kepercayaan, serta keikhlasan yang terus dirawat oleh jajaran pengurus di setiap tingkatan.

"Dari lubuk hati yang paling dalam, saya menyampaikan terima kasih yang tak terhingga kepada seluruh pengurus PBNU, jajaran PW, PC, PCI, hingga para kader di akar rumput," ungkap Gus Yahya penuh haru.

Gus Yahya juga memberikan apresiasi setinggi-tingginya, kepada para masyayikh dan kiai sepuh atas bimbingan serta arahan spiritual yang tak pernah putus selama periode kepemimpinannya.

Ia menutup permohonan maaf dan ucapan terima kasihnya dengan doa, agar seluruh khidmah serta pengorbanan pengurus PBNU dinilai sebagai ibadah.

"Semoga seluruh peluh dan dedikasi ini dicatat sebagai amal yang penuh keberkahan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala," pungkasnya.

 

Reporter: Sutono Abdillah/Editor: Ais

 

Share:
Lenterasemarang.com.
Lenterasemarang.com.