KEDIRI (Lentera) - Pemerintah Kota Kediri terus mematangkan langkah strategis, dalam menuntaskan permasalahan Anak Tidak Sekolah (ATS).
Upaya tersebut diwujudkan dengan menggelar rapat koordinasi lintas organisasi perangkat daerah (OPD), yang tergabung dalam Tim Pencegahan dan Penanganan ATS di Ruang Kartini Dinas Pendidikan, Kamis (27/8/2026).
Kegiatan ini bertujuan untuk memastikan seluruh anak usia sekolah mendapatkan akses pendidikan, dan mendukung komitmen Pemerintah Kota Kediri dalam mewujudkan zero ATS di Kota Kediri.
“Kegiatan ini untuk menindaklanjuti arahan Wali Kota Kediri, agar kasus ATS di Kota Kediri tertangani secara tuntas dan dapat kembali mengenyam pendidikan,” tutur Kepala Dinas Pendidikan Kota Kediri, Mandung Sulaksono.
Kegiatan difokuskan pada penyusunan rencana kerja tindak lanjut penanganan ATS, sesuai tugas dan peran masing- masing OPD.
Dijelaskannya, tim gabungan juga akan melakukan verifikasi dan validasi data ATS, yang telah dirilis oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen).
Data tersebut mencatat 2.100 anak, terdaftar sebagai ATS di Kota Kediri. Namun, angka tersebut masih merupakan data mentah yang wajib diverifikasi.
“Sebagai contoh, di Kelurahan Lirboyo terdapat hampir 800 anak yang tercatat sebagai ATS. Dari sekitar 800 anak tersebut, yang benar-benar merupakan warga Kelurahan Lirboyo tidak lebih dari 50 anak. Artinya, data tersebut perlu dikonfirmasi dan diverifikasi kembali agar benar-benar menggambarkan kondisi ATS di Kota Kediri,” jelasnya.
Berdasarkan hasil pendataan, terdapat berbagai faktor yang menyebabkan ATS antara lain masalah ekonomi, keharusan bekerja, permasalahan keluarga, hingga keterbatasan akibat disabilitas yang menyulitkan mereka masuk ke sekolah formal.
“Untuk mengatasi permasalahan tersebut, Dinas Pendidikan bersama OPD terkait memberikan pendampingan, bantuan sosial dan menyediakan jalur pendidikan non formal melalui Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) dan Sanggar Kegiatan Belajar (SKB),” ujar Mandung.
Jalur pendidikan tersebut siap menerima ATS melalui program Paket A, B, dan C yang berbasis modul dengan waktu belajar yang fleksibel, bahkan siap melakukan sistem penjemputan atau mendatangkan tutor secara langsung.
Tidak hanya pendidikan, lembaga nonformal juga memberikan berbagai keterampilan yang dapat menjadi bekal bagi peserta didik. Di antaranya keterampilan potong rambut, tata rias, menjahit dan memasak.
Keterampilan tersebut diharapkan dapat membantu meningkatkan kemandirian sekaligus menjadi modal untuk memperoleh atau meningkatkan pendapatan.
“Penanganan ATS kita lakukan dengan pendekatan dan menyesuaikan kondisi masing-masing anak. Apabila mereka mengalami kendala untuk datang ke lembaga pendidikan, kita siap melakukan penjemputan atau menghadirkan tutor dari PKBM. Dengan demikian, setiap anak tetap mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan Pendidikan,” terangnya.
Melalui kegiatan ini, Mandung berharap, verifikasi data bisa lebih akurat sehingga penanganan ATS dapat berjalan semakin efektif dan mampu mewujudkan Kota Kediri sebagai daerah zero ATS.
“Sehingga seluruh anak usia sekolah di Kota Kediri, dapat memperoleh haknya mendapatkan pendidikan,” pungkasnya.
Reporter: Ais/Editor: Arief Sukaputra





.jpg)
