22 August 2026

Get In Touch

Metri Bumi, Cara Trenggalek Merawat Alam dan Sumber Kehidupan

Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin mengikuti tradisi Metri Bumi di sumber air Kedungdowo, Desa Wonocoyo, Kecamatan Panggul, Jumat (21/8/2026). Tradisi ini menjadi pengingat pentingnya menjaga kelestarian alam dan sumber air sebagai penopang kehidupan ma
Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin mengikuti tradisi Metri Bumi di sumber air Kedungdowo, Desa Wonocoyo, Kecamatan Panggul, Jumat (21/8/2026). Tradisi ini menjadi pengingat pentingnya menjaga kelestarian alam dan sumber air sebagai penopang kehidupan ma

TRENGGALEK (Lentera) – Merawat alam bukan sekadar menjaga lingkungan, tetapi juga mempertahankan sumber kehidupan dan perekonomian masyarakat Trenggalek. Pesan itu kembali ditegaskan Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin saat mengikuti tradisi Metri Bumi di sumber air Kedungdowo, Dusun Bendogolor, Desa Wonocoyo, Kecamatan Panggul, Jumat (21/8/2026). 

Tradisi yang menjadi bagian dari rangkaian Hari Jadi ke-832 Trenggalek tersebut digagas sebagai momentum untuk mengingatkan masyarakat tentang pentingnya menjaga alam, terutama sumber air dan kawasan yang menopang kehidupan.

Mas Ipin menilai ketergantungan masyarakat terhadap alam terlihat jelas dari berbagai sektor ekonomi yang berkembang di Trenggalek. Pertanian, peternakan, perikanan hingga pariwisata semuanya memiliki hubungan erat dengan keberlangsungan lingkungan.

"Hampir semua pendapatan kita dari sisi ekonomi didapatkan dari basis alam. Kita masih bertumpu pada pertanian, peternakan dan perikanan. Tidak ada ikan kalau tidak ada laut yang terjaga, tidak ada sawah yang baik kalau tidak ada air," ujar Mas Ipin.

Menurutnya, keberadaan air pun tidak berdiri sendiri. Ketersediaan air sangat berkaitan dengan kondisi kawasan karst dan hutan yang masih terjaga. Karena itu, menjaga satu bagian dari alam berarti ikut mempertahankan bagian lainnya.

"Tidak ada air kalau tidak ada kawasan karst atau kawasan hutan yang terjaga. Semuanya menjadi satu rangkaian yang saling berkaitan," jelasnya.

Ketergantungan terhadap alam juga berlanjut pada sektor industri pengolahan. Produk yang diolah industri sebagian berasal dari sektor hulu, sedangkan sektor pariwisata dan akomodasi di Trenggalek juga banyak mengandalkan potensi alam sebagai daya tarik.

"Pariwisata kita semuanya berbasis alam. Kalau alamnya rusak, Trenggalek juga akan rusak. Pendapatan dan ekonomi Trenggalek juga akan ikut terdampak," katanya.

Karena itu, Mas Ipin menyebut Metri Bumi tidak hanya berkaitan dengan tradisi, tetapi juga menjadi pengingat mengenai hubungan manusia dengan lingkungan. Menurutnya, keberlangsungan kehidupan masyarakat harus berjalan seiring dengan upaya menjaga bumi.

"Rakyat Trenggalek hidup tergantung dengan alam. Jadi kalau kita ingin merayakan Hari Jadi, yang kita rayakan adalah kebersamaan kita bersama alam," tandasnya.

Sementara itu, Rektor Universitas Brawijaya Prof. Widodo menilai Metri Bumi memiliki nilai penting karena menjadikan kepedulian terhadap lingkungan sebagai bagian dari budaya masyarakat.

Menurut Widodo, program pelestarian alam akan lebih kuat apabila tidak hanya mengandalkan kebijakan, tetapi juga didukung kebiasaan dan kesadaran masyarakat yang telah mengakar dalam kehidupan sehari-hari.

"Tradisi ini membuat kita ingat dan sadar bahwa hidup sangat tergantung pada kelestarian bumi. Banyak program kelestarian alam tidak berjalan dengan baik kalau tidak diikuti dengan budaya," ujarnya.

Ia melihat tradisi Metri Bumi menunjukkan adanya perubahan pola pikir masyarakat Trenggalek yang semakin memahami pentingnya menjaga lingkungan.

"Budaya ini menunjukkan bahwa mindset dan perilaku untuk melestarikan alam sudah melekat di tengah masyarakat Trenggalek. Mereka paham dan peduli untuk melestarikan alam," kata Widodo.

Menurutnya, upaya menjaga alam yang dilakukan masyarakat Trenggalek pada akhirnya tidak hanya memberikan manfaat bagi daerah tersebut, tetapi juga memiliki dampak yang lebih luas.

"Apa yang dilakukan Trenggalek manfaatnya bisa dirasakan oleh seluruh umat manusia," pungkasnya. (*)

 

Reporter: Herlambang
Editor: Lutfiyu Handi

Share:
Lenterasemarang.com.
Lenterasemarang.com.