TRENGGALEK (Lentera) – Bagi sebagian keluarga kurang mampu, perjuangan mendapatkan pengobatan tidak berhenti ketika sudah memiliki rujukan dokter. Ongkos perjalanan menuju rumah sakit di luar kota bisa menjadi beban berat. Di tengah persoalan itu, Sugeng Kuncahyo atau akrab disapa Cak Kun turun tangan dengan mengoperasikan ambulans kemanusiaan Siaga Lingkungan (Si-Galing) yang mengantar pasien tanpa menetapkan tarif.
Layanan tersebut bukan sekadar mengantar pasien dalam keadaan darurat. Si-Galing juga menjadi tumpuan bagi warga yang harus menjalani pengobatan berulang, bahkan ketika rumah sakit yang dituju berada jauh dari Trenggalek.
Selama bertahun-tahun, Cak Kun menjalankan layanan tersebut secara mandiri dan swadaya. Ia berusaha memastikan persoalan biaya transportasi tidak membuat warga kurang mampu mengurungkan niat mendapatkan perawatan medis.
Salah satu pasien yang pernah mendapat pendampingan adalah Fandi, warga Desa Kedunglurah, Kecamatan Pogalan. Ia mengalami luka bakar parah di hampir seluruh tubuh setelah tersengat listrik bertegangan tinggi.
Kondisi Fandi mengharuskannya menjalani pengobatan secara berkelanjutan. Dalam proses tersebut, Si-Galing membantu menyediakan transportasi agar Fandi tetap dapat memenuhi jadwal pengobatannya.
Pendampingan juga diberikan kepada Sukadi, warga Kelurahan Sumbergedong, Kecamatan Trenggalek, yang membutuhkan pengawalan medis secara berkala.
"Kami harus mendampingi beliau secara telaten sampai benar-benar sembuh," kata Cak Kun.
Belum lama ini, tim Si-Galing kembali bergerak menjemput Murjani, warga Desa Jatiprahu, Kecamatan Karangan. Murjani mengalami infeksi berat pada bagian wajah dan harus mendapatkan pemeriksaan spesialis di rumah sakit rujukan.
Tidak hanya berkeliling di wilayah Trenggalek, ambulans Si-Galing juga telah menempuh perjalanan antarkota. Jakarta, Surabaya, Solo hingga Malang menjadi sejumlah tujuan yang pernah ditempuh untuk mengantar pasien.
"Tim kami sudah sangat sering mengantar pasien ke Jakarta, Surabaya, Solo, dan kota-kota lain. Rute ke Malang juga paling sering kami tempuh," ungkapnya.
Perjalanan hingga ratusan kilometer tentu membutuhkan biaya bahan bakar dan operasional. Namun, Cak Kun memilih tidak membebankan biaya tersebut kepada pasien.
Komitmen itu bahkan sudah dibangun sejak awal Si-Galing berdiri. Cak Kun membeli armada pertamanya menggunakan uang tabungan pribadi. Ketika kendaraan tersebut mengalami kerusakan parah, ia kembali menggunakan uang sendiri untuk membeli kendaraan pengganti.
Seiring berjalannya waktu, kepedulian masyarakat ikut memperkuat layanan tersebut. Seorang dermawan asal Surabaya menyumbangkan 1 unit mobil jenazah. Sementara Anggota DPR RI Daerah Pemilihan Jawa Timur VII, Novita Hardini, memberikan 1 unit ambulans pasien.
Saat ini, Si-Galing memiliki 3 armada. Sebanyak 2 kendaraan digunakan untuk mengangkut pasien, sedangkan 1 armada lainnya diperuntukkan bagi pengangkutan jenazah.
Namun, bertambahnya armada tidak serta-merta membuat kebutuhan operasional selesai. Bahan bakar, perawatan kendaraan dan perlengkapan medis tetap membutuhkan biaya. Si-Galing pun membuka kesempatan bagi masyarakat untuk memberikan dukungan secara sukarela.
"Jika keluarga pasien ingin membantu, kami hanya menerima bantuan seikhlasnya, dan itu pun sifatnya sangat kondisional," jelas Cak Kun.
Bantuan tersebut bukan syarat untuk mendapatkan pelayanan. Bagi keluarga yang benar-benar tidak mampu, Si-Galing justru berupaya mencarikan donatur agar pasien tetap bisa menjalani pengobatan.
Tantangan lain datang dari keterbatasan personel. Saat ini, hanya ada 2 pengemudi aktif yang menjalankan layanan, yakni Cak Kun sendiri dan seorang relawan anak yatim yang dibinanya.
Meski dengan personel terbatas, perjalanan jauh tetap dilayani. Bagi Cak Kun, selama masih ada warga yang membutuhkan bantuan untuk menuju rumah sakit, layanan tersebut harus tetap berjalan.
"Saya tidak pernah menetapkan tarif rupiah untuk layanan ambulans kami," tegasnya.
Dari sebuah kendaraan yang dibeli menggunakan tabungan pribadi hingga berkembang menjadi 3 armada, Si-Galing terus bergerak membawa misi sederhana: memastikan warga tidak kehilangan kesempatan berobat hanya karena tidak mampu membayar ongkos perjalanan menuju rumah sakit.
Reporter: Herlambang|Editor: Arifin BH




.jpg)
